
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi mempertanyakan alasan Israel-Amerika Serikat (AS) membunuh Pemimpin Besar Mereka, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2).
Jika koalisi itu menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, hal itu tak tepat. Sebab, Khamenei sempat mengeluarkan fatwa haram terhadap pembangunan senjata nuklir.
“Para musuh membunuh Pemimpin Agung kami dengan tuduhan sedang mencoba untuk membangun senjata nuklir. Ini terjadi pada saat beliau telah memiliki fatwa bahwa berbagai produk penyimpanan, produksi, maupun penggunaan senjata nuklir haram fatwanya,” kata Boroujerdi dalam acara doa bersama dan penandatanganan petisi di kediamannya, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).
Boroujerdi juga menjelaskan, Khamenei selama hidupnya selalu menentang kekerasan dan berbagai bentuk ekstremisme.
“Hari ini kita sedang berduka terhadap kehilangan seorang Pemimpin Agung yang tidak pernah kompromi dengan pihak musuh. Yang selalu melawan berbagai hegemoni kekerasan dan genosida. Yang melawan pembunuhan di mana pun itu berada,” ujarnya.
“Amerika Serikat yang pembunuh, rezim Zionis Israel, membunuh seorang Pemimpin Agung di mana pemimpin ini selalu berupaya untuk menyebarluaskan perdamaian dan stabilitas, dan melawan berbagai bentuk kekerasan,” lanjut dia.
Ia menambahkan, Khamenei sepanjang hidupnya disebut mendedikasikan diri untuk menjaga perdamaian serta melawan terorisme.
“Para musuh membunuh seorang Pemimpin Agung yang sepanjang hidupnya dia melawan terorisme. Terorisme yang berbasis negara seperti rezim Zionis Israel, dan terorisme yang tidak berbasis negara,” kata Boroujerdi.
“Ia mencoba dalam sepanjang hidupnya untuk menyebarluaskan keamanan dan perdamaian di tengah umat Muslim,” sambung dia.