Selamat jalan, Ayatollah Ali Khamenei

Photo of author

By AdminTekno

Ulama dan Penguasa

Wafatnya Ali Khamenei menandai berakhirnya satu bab penting dalam perjalanan panjang Republik Islam Iran. Ia meneruskan pijakan Ruhollah Khomeini, sang peletak dasar Republik Islam setelah Revolusi 1979. Dari seorang ulama revolusioner, Khamenei menjelma menjadi figur sentral yang memadukan otoritas agama dan kekuasaan politik dalam satu tarikan napas sejarah.

Ayatollah Ali Khamenei dikenal datar dalam ekspresi, tak meluap-luap, tetapi tajam dan menghujam dalam kata. Ia bukan sekadar kepala negara, melainkan juga pemimpin spiritual bagi mayoritas penganut Islam Syiah—tidak hanya di iran, tetapi juga hampir di seluruh dunia.

Pesan-pesannya konsisten kerap menyerukan persatuan internal, keteguhan ideologis, dan perlawanan terhadap dominasi eksternal—khususnya terhadap Israel dan Amerika Serikat. Dalam dirinya, otoritas agama dan negara menemukan bentuknya yang paling konkret dalam sistem politik Iran modern.

Yang membedakan Iran dari banyak negara lain adalah fondasi sistem pemerintahannya yang berakar pada teologi Syiah. Dalam ajaran Syiah, konsep imamah menempatkan kepemimpinan spiritual sebagai kelanjutan dari risalah kenabian, hingga kelak hadirnya Imam Mahdi.

Awalnya, konsep ini hidup dalam ruang kerohanian. Namun, setelah Revolusi 1979, ia bertransformasi menjadi panduan bernegara melalui doktrin wilayatul faqih—kepemimpinan para ulama ahli hukum Islam.

Dalam sistem ini, Pemimpin Tertinggi memegang otoritas tertinggi negara, didukung struktur kolektif seperti Dewan Syura dan Majelis Ahli para ulama tepercaya. Model ini menjadi terobosan setelah runtuhnya monarki Pahlevi. Di bawah Khomeini, fondasi ditegakkan; di bawah Khamenei, fondasi itu diuji oleh zaman.

Perjalanan Iran

Berdirinya Republik Islam Iran bukan tanpa gejolak. Pascarevolusi, negeri ini menghadapi konsolidasi internal yang keras. Elemen-elemen militer lama dan pendukung rezim sebelumnya sempat menjadi tantangan serius. Dalam fase inilah dibentuk Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebagai penjaga revolusi yang tunduk langsung kepada Pemimpin Tertinggi.

IRGC awalnya hanya sekumpulan pemuda sukarelawan dan tentara yang membelot terhadap Shah Pahlevi, tapi terus berkembang seiring perjalanan sejarah menjadi aktor strategis—bukan hanya dalam pertahanan, melainkan juga dalam ekonomi dan geopolitik regional.

Tak lama pascarevolusi, Iran harus menghadapi Perang Iran-Irak (1980–1988), ketika Saddam Hussein memimpin invasi Irak. Konflik berdarah ini mempertemukan Iran dengan tekanan global; Amerika Serikat dan Uni Soviet sama-sama memberi dukungan kepada Irak atas pertimbangan geopolitik masing-masing. Perang berakhir tanpa pemenang yang jelas, tetapi meninggalkan luka dan pelajaran mendalam bagi Iran tentang pentingnya kemandirian pertahanan.

Pascaperang, Iran membangun kembali stabilitasnya di tengah sanksi ekonomi yang tak pernah benar-benar dicabut, serta berbagai instabilitas di dalam negerinya yang terus “merongrong” dengan berbagai isu sektarian. Hingga akhirnya, isu nuklir menjadi babak baru konfrontasi global.

Sanksi dari AS dan Uni Eropa mempersempit ruang ekonomi Iran, sementara operasi intelijen—termasuk pembunuhan ilmuwan nuklir—menjadi bagian dari konflik urat syaraf lama antara Iran dan Israel.

Puncaknya ketika Israel menuduh Iran menyiapkan senjata nuklir berdasarkan dokumen hasil infiltrasi Mossad ke pusat pengembangan nuklir iran, yang hingga kini diyakini Israel bersama AS sebagai momok bagi program nuklir Iran, meski IAEA terus melakukan inspeksi program nuklir untuk energinya.

Namun, Iran tak tunduk dalam tekanan, tetapi mencoba terus bertahan. Ia memainkan jalur perdagangan tidak langsung, memanfaatkan pasar bayangan komoditas minyak, serta mempererat hubungan dengan poros Timur, terutama China, Rusia, dan negara-negara lain yang bersedia menjalin kerja sama perdagangan, teknologi dan pertahanan.

Pembangunan dan Geopolitik

Di bawah kepemimpinan Khamenei, Iran membangun kekuatan domestik, sektor pangan, industri dan teknologi. Meskipun tak semaju negara-negara barat dan negara beraliran pasar lainnya, Iran cukup mampu bertahan dan memenuhi kebutuhan domestik. Bahkan ketika Qatar dikucilkan oleh negara-negara teluk, Iran mengambil peran penting dalam membantu pasokan pangan dan kebutuhan pokok yang suplainya disetop dari negara kawasan.

Sekali lagi, Iran berbeda dengan Korea Utara yang menutup diri. Iran dikucilkan dengan embargo dan sanksi, termasuk ancaman sanksi bagi pembeli komoditas strategisnya, yaitu minyak.

Iran juga memperluas pengaruh regionalnya. Dukungan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap sebagai “poros perlawanan” menjadi strategi geopolitik. Iran terlibat dalam dinamika perlawanan terhadap pendudukan Israel di Palestina, mendukung Hezbollah sejak konflik dengan Israel di Lebanon, serta berperan dalam konflik di Irak sejak jatuhnya Saddam dan Suriah setelah Arab Spring, terutama saat melawan ISIS dan oposisinya.

Keterlibatan regional ini memperkuat posisi Iran sebagai kekuatan Timur Tengah yang diperhitungkan. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula ketegangan sektarian Sunni-Syiah, yang sebelumnya lebih bersifat akademik menjadi konflik akar rumput di sejumlah wilayah—Damaskus, Bahrain, hingga Yaman.

Ketegangan memuncak dalam beberapa tahun terakhir. Serangan terhadap tokoh penting—terutama sejak pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani di Baghdad tahun 2020 yang diakui oleh Amerika Serikat atas perintah langsung Donald Trump—menjadi titik balik eskalasi terbuka.

Serangan terhadap Kedutaan Iran di Damaskus, serangan Israel ke Teheran, dan dilanjutkan pemboman fasilitas nuklir Iran oleh AS pada Oktober lalu mempertegas bahwa konflik telah memasuki fase terbuka.

Puncaknya, serangan udara gabungan Israel dan AS pada Sabtu lalu (28/2) mengantarkan Khamenei wafat bersama beberapa tokoh penting Iran lainnya.

Warisan Sejarah

Warisan terbesar Ayatollah Ali Khamenei sejak memimpin Iran pada 1989 hingga akhir hayatnya mungkin bukan hanya pada kebijakan luar negeri yang tegas atau ketahanan menghadapi sanksi, melainkan juga pada kemampuannya mempertahankan kesinambungan negara di tengah embargo dan sanksi, serta kemampuan Iran beradaptasi dan menavigasi diri dalam dunia yang berubah cepat, mulai dari runtuhnya Uni Soviet, lalu ke dunia multipolar hari ini.

Iran tak bisa diabaikan sebagai negara berdaulat yang disegani, mampu bertahan, dan gigih menghadapi tentangan keras negara-negara Barat dan Israel. Ia kini memasuki babak baru untuk lebih bijak mengelola geopolitik, di mana Iran tidak lagi dilihat sebagai vis a vis Saudi, tetapi sebagai mitra yang bersahabat dan tak saling merugikan, terutama setelah terjalinnya kembali hubungan diplomatik yang sempat terputus pascapenjatuhan hukuman mati untuk ulama Syiah, Syaikh Nimr Al Nimr.

Keterlibatan China mampu membangun rekonsiliasi antara Saudi dan Iran. Wajar bila kini Saudi menentang keras intervensi militer AS ke Iran dan melarang wilayahnya sebagai arena untuk melakukan aksi militer melawan Iran. Sebaliknya, Iran dengan tegas menyatakan Saudi bukan target dan membantah keterlibatannya dalam serangan di kilang Aramco.

Simbol persahabatan ini tak lepas dari kebijaksanaan sang pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang terus menyerukan persatuan dan ukhuwah islamiyah, serta memasukannya dalam agenda politik regionalnya.

Selamat jalan, Ayatollah. Kau tinggalkan bangsa, negeri dan umatmu. Saatnya sejarah mencatat masa depan Iran di tengah dunia yang berubah lebih cepat.

Leave a Comment