Iran siap hadapi invasi darat AS, tak minta gencatan senjata

Photo of author

By AdminTekno

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan militer antara kedua negara.

Iran sejak Minggu (28/2), diserang AS-Israel dalam operasi Epic Fury. Imbas serangan itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan ribuan orang tewas.

“Kami yakin dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” kata Araghchi dikutip dari CNN, Jumat (6/3).

Araghchi menyebut, Iran telah belajar dari konflik sebelumnya dan memiliki kemampuan militer yang lebih siap untuk menghadapi pasukan Amerika jika terjadi invasi.

“Ketika saya mengatakan kami menunggu mereka, itu bukan berarti kami menginginkan kelanjutan perang. Tetapi kami telah mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario apa pun,” ujarnya.

Iran Tak Minta Gencatan Senjata

Araghchi menegaskan, Iran tidak meminta gencatan senjata dan tidak melihat alasan untuk kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, pengalaman negosiasi sebelumnya justru diikuti dengan serangan militer.

“Kami telah bernegosiasi dengan mereka dua kali, dan setiap kali mereka menyerang kami di tengah proses negosiasi. Jadi tidak ada permintaan gencatan senjata dari kami, dan tidak ada permintaan negosiasi dengan AS,” kata Araghchi.

Sistem Pemerintahan Tetap Berjalan

Araghchi juga mengatakan sistem pemerintahan Iran tetap berjalan meskipun konflik dengan AS dan Israel meningkat.

Ia menyebut struktur komando militer telah diganti setelah serangan yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran.

“Sistemnya berfungsi. Para komandan telah diganti, dan pemimpin tertinggi akan segera diganti,” ujarnya.

AS Belum Rencanakan Invasi

Sementara Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengirim pasukan darat ke Iran untuk saat ini.

Namun, Washington belum sepenuhnya menutup kemungkinan opsi tersebut jika situasi konflik semakin meningkat.

Beberapa sumber juga menyebut badan intelijen AS, CIA, berupaya mendukung kelompok Kurdi dengan tujuan memicu pemberontakan di Iran.

Leave a Comment