
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menegaskan bahwa Iran tetap menjadi anggota aktif dalam organisasi Developing Eight (D-8), di mana Indonesia saat ini memegang posisi Ketua. Pernyataan ini disampaikan menjelang persiapan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 pada April mendatang.
Juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, dalam sesi press briefing di Kantor Kemlu, Jakarta Pusat, pada Jumat (6/3) lalu, secara lugas menyatakan, “Keanggotaan Iran, sejauh yang kami ketahui, masih.” Penegasan ini mengonfirmasi posisi Iran di tengah sorotan global terkait isu-isu terkini.
Sebagai Ketua D-8, Indonesia secara cermat terus memantau dinamika situasi di lapangan, terutama yang berkaitan dengan konflik melibatkan Iran. Meski demikian, Yvonne menegaskan bahwa seluruh agenda persiapan KTT D-8 tetap berjalan sesuai rencana. “Kita terus mengikuti perkembangan di lapangan secara saksama dan sebagai Ketua D-8, kita juga terus menekankan pentingnya de-eskalasi dan berbagai pihak untuk terus menahan diri,” ujarnya, menegaskan komitmen Indonesia terhadap stabilitas regional dan global.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah mematangkan berbagai persiapan krusial untuk penyelenggaraan KTT D-8 di bulan April. Komunikasi intensif juga terus dijalin dengan seluruh negara anggota, khususnya dalam menyikapi perkembangan kondisi keamanan global. Yvonne menambahkan, “Khusus terkait KTT D-8 yang dijadwalkan pada April, semua persiapan terus berjalan dan hingga saat ini Indonesia tetap melakukan berbagai persiapan yang diperlukan, serta terus berkomunikasi secara erat dengan seluruh anggota D-8.”
Untuk memahami lebih jauh pentingnya pertemuan ini, mari kita simak profil singkat mengenai organisasi D-8.
Apa Itu D-8?
D-8, atau Developing Eight, adalah sebuah organisasi internasional yang dibentuk pada tahun 1997. Beranggotakan delapan negara berkembang dengan mayoritas populasi Muslim, fokus utama D-8 terletak pada penguatan kerja sama ekonomi. Anggota-anggotanya meliputi Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki.
Berdasarkan data dari Portal Kemlu, D-8 merepresentasikan sekitar 1,3 miliar penduduk dunia. Secara kolektif, negara-negara anggota ini memiliki total Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai sekitar 5,1 triliun dolar AS, dengan volume perdagangan intra-D-8 tercatat sebesar kurang lebih 157 miliar dolar AS. Angka-angka ini menunjukkan potensi ekonomi yang signifikan dalam lingkup organisasi.
Indonesia akan menjadi tuan rumah KTT D-8 pada 15 April 2026 di Jakarta. Acara puncak ini akan mengusung tema yang relevan dengan kondisi global saat ini: “Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama”. Pemilihan tema ini secara tegas merefleksikan fokus Indonesia untuk beradaptasi terhadap dinamika ekonomi global yang terus berubah, sekaligus menekankan pentingnya inklusivitas, solidaritas, dan ketahanan di antara negara-negara anggota.