
Bus Transjabodetabek rute SH2 Blok M-Soekarno Hatta perlahan meninggalkan Terminal Blok M jalur 6, Jakarta Selatan.
kumparan ikut menumpangi bus berwarna jingga itu. Layanan dengan rute baru itu baru saja diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Kamis (12/3).
Perjalanan dimulai pada pukul 09.20 WIB. Dari Blok M, bus bergerak dan berhenti di beberapa titik pemberhentian sebelum masuk gerbang tol Slipi 1 menuju bandara.
Sepanjang rute awal, bus berhenti di lima bus stop: Bundaran Senayan 2, FX Sudirman, Gelora Bung Karno 2, DPR/MPR 1, dan DPR/MPR 2. Setelah itu, kendaraan melaju menuju akses Tol Slipi 1.

Di dalam bus, suasana relatif tenang. Kursi masih cukup banyak yang kosong. Ada pula ruang untuk menaruh koper di salah satu sisinya. Arus lalu lintas pun lancar.
Sekitar satu jam lebih perjalanan, tepat pukul 10.38 WIB, bus tiba di pemberhentian terakhir: Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta. Total perjalanan sekitar 1 jam 18 menit.
Dari titik ini, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menuju terminal bandara menggunakan Skytrain atau kalayang, serta shuttle bus bandara yang tersedia gratis menuju Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3.
Di antara penumpang, ada Roy (65), warga Kebayoran Baru yang mengaku sengaja mencoba rute baru tersebut. Rumahnya yang tidak jauh dari Blok M membuatnya cukup mudah mengakses bus.
“Saya ingin kasih masukan yang pertama, ini kita naik dari Blok M. Kalau buat saya, saya happy. Saya tinggal jalan kaki dari rumah cuma 10 menit nggak sampai, 5 menit nggak sampai. Cuma saya kasihan sama mereka yang di Jakarta Timur, Jakarta Pusat. Itu Jakarta Pusat orang-orangnya semua ke bandara. Bukan orang yang di MPR DPR, mereka pada naik mobil,” katanya.

Menurut Roy, kehadiran layanan bus menuju bandara memang bisa menjadi alternatif transportasi yang lebih terjangkau. Namun, ia menilai rute dan titik pemberhentian masih perlu dipikirkan lebih luas agar menjangkau lebih banyak kawasan di Jakarta.
Ia menilai fasilitas halte juga perlu dipertimbangkan, terutama bagi penumpang yang membawa koper. Menurutnya, halte yang berada di tepi jalan kurang ideal bagi penumpang bandara.
“Iya, yang ke BRT, pindah ke BRT. Cuma nanti problem-nya mereka bawa koper. Nah, koper itu kan wajib kan cuma berapa, 40 kilo kan pesawat kan. Jadi kecuali bawa handbag bisa masuk di cabin. Nah, jadi maksud saya, ini mesti dipikirkan kalau dia berhenti di BRT, gimana dia bawa koper sampai masuk ke sana. Kan taksi nggak bisa berhenti di tengah-tengah kan?” ungkapnya.
Roy juga menyoroti pentingnya akses bagi warga dari berbagai wilayah Jakarta, termasuk kawasan permukiman.
Meski demikian, ia menilai ide menghadirkan bus menuju bandara merupakan langkah yang baik, terutama untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
“Itu bagus, saya setuju banget. Dan dengan kata lain apalagi harga begini, apalagi dengan saya, lansia gini, free. Cuman buat bule-bule mereka bayar. Nah, ini bagus untuk Pemda DKI. Nggak apa-apa sampai 30 ribu, nggak apa-apa,” kata Roy.
“Bukannya nggak apa-apa dalam arti menyusahkan yang lain. Daripada sebelumnya kan naik Damri aja berapa? 80 ribu. Nah, kalau lu kan naik taksi 150 ribu. Jadi ini Pemda DKI bisa dapat dari sini 30 ribu,” sambungnya.
Menurut Roy, layanan bus menuju bandara juga sebaiknya mengikuti jadwal penerbangan yang berlangsung sepanjang hari.
“Ini bus ini harus beroperasi, ingat saya kasih tahu, 24 jam. Jangan beroperasi jam 5 ke jam 10 malam. Karena pesawat itu jam berapa sampai di Bandara Soekarno Hatta? Rata-rata jam 9 malam dia baru arrive. Berangkat itu take over jam 5 pagi, mesti jam 3 udah di bandara. Jangan baru mau mulai busnya jam 5,” katanya.
Ia menambahkan, waktu tempuh perjalanan juga perlu diperhitungkan karena kondisi lalu lintas bisa berubah.
Meski biasanya menggunakan mobil pribadi ketika pergi ke bandara, Roy mengaku layanan bus ini bisa menjadi alternatif jika fasilitas dan aksesnya semakin baik.
“Saya kalau ke sana mah pasti saya pilihnya mobil. Tapi kalau ada alternatif lagi yang lain yang seperti begini, murah dan artinya enak, deket rumah, terus haltenya bagus, ya naik ini dong. Terlalu bodoh kalau saya nggak ikut usulannya Pemda DKI aja gitu,” tuturnya.

Ia mengetahui informasi rute baru tersebut dari media sosial dan memutuskan untuk mencoba sendiri perjalanan dengan bus menuju bandara.
Roy menilai gagasan membuka rute bus menuju bandara cukup menjanjikan jika pengelolaannya matang.
“Banyak yang mau naik. Dan saya bilang ide ini bagus. Dan ini Pemda bisa dapet duit dari sini. Asalkan itu tadi yang saya punya masukan ya, dan 24 jamnya,” lanjutnya.
Adapun titik pemberhentian yang dilalui sebagai berikut:
1. Bus stop Blok M Jalur 6
2. Bus stop Bundaran Senayan 2
3. Bus stop Fx Sudirman
4. Bus stop Gelora Bung Karno 2
5. Bus stop DPR MPR 1
6. Bus stop DPR MPR 2
7. Bus stop Sbr. Sowan Wisata Belanja
8. Bus stop Jl. Cengkareng Golf Club 1
9. Bus stop Foodhall 1
10. Bus stop Jl. Cengkareng Golf Club 3
11. Bus stop Terminal Kargo 1
12. Bus stop Terminal Kargo 2
13. Bs Perkantoran Soekarno Hatta
14. Bus stop Stasiun KA Bandara
15. Bus stop Imigrasi SHIA
16. Bus stop Bundaran Kargo
17. Bus stop Sekolah Ibu Pertiwi
18. Bus stop Swadaya Slipi
19. Bus stop Perpustakaan Riset BPK
20. Bus stop Sbr DPR MPR 1
21. Bus stop Gelora Bung Karno 1
22. Bus stop Summitmas
23. Bus stop Senayan 1
24. Bus stop Blok M Jalur 5