Galeri kapsul waktu, koleksi benda zaman dulu demi merawat memori masa lalu

Photo of author

By AdminTekno

Sekilas rumah di Kelurahan Sungai Sapih, Kota Padang, Sumatra Barat, itu tampak selazimnya warung kelontong yang mudah dijumpai di daerah manapun di Indonesia.

Ribuan produk keperluan sehari-hari berderet rapih di rumah berukuran kurang lebih 6X8 meter persegi itu. Mulai dari sampo, sabun, berbagai jenis mainan, iklan, koran, uang hingga komik dipajang di sana.

Namun, rumah tersebut bukanlah warung. Barang-barang yang dipajang juga bukan untuk digunakan karena semuanya sudah kadaluarsa—diproduksi pada era 1980-an, 1990-an, dan 2000-an.

“Setiap barang yang ada di sini adalah kenangan masa lalu. Barang-barang ini menghidupkan kembali kenangan masa lampau bagi sebagian orang,” kata Rivaldo Ferdian, pemilik Galeri Kapsul Waktu.

Rivaldo mulai mengumpulkan berbagai barang tersebut sejak beberapa tahun lalu. Dia pula yang mendesain salah satu ruangan di rumah itu seperti warung kelontong pada era 1980-an.

“Ini memang sengaja dibuat untuk membuat konten dan barang-barang di sini semuanya masih ada isinya. Kebanyakan barang yang ada di sini belum pernah dibuka sebelumnya,” tuturnya kepada wartawan Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Perjalanan Rivaldo dalam mengumpulkan barang-barang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai halangan dan rintangan ia lalui untuk bisa mendapatkan berbagai barang yang dijual pada masa lalu.

Bagaimana perjalanan Rivaldo mengumpulkan barang jaman dulu?

Rivaldo menceritakan, Galeri Kapsul Waktu berawal dari hobinya mengoleksi barang-barang jaman dulu—atau lazim disebut jadul—pada pandemi Covid-19 lalu.

“Awalnya saya hanya mengoleksi iklan-iklan jadul yang diterbitkan di berbagai majalah yang saya dapatkan dari toko buku lama. Karena penasaran dengan barang-barang itu, saya mencoba mencarinya satu per satu,” katanya.

Rivaldo memulai langkahnya dengan mengunjungi berbagai warung-warung kelontong di Kota Padang. Dia menyasar warung-warung yang terletak di daerah pinggiran yang diperkirakan masih menyimpan barang-barang masa lalu.

“Saya masih ingat saat saya melihat salah satu warung yang sudah lama tutup di daerah Solok milik seorang bapak-bapak. Itulah pertama kali saya mendapatkan beberapa barang-barang ini dengan jumlah yang cukup banyak,” lanjutnya.

Dia menceritakan, barang-barang dari tahun 1990-an di warung kelontong itu masih disimpan sang pemilik sebagai pengingat terhadap anaknya yang sudah meninggal dunia.

“Menurut cerita bapak itu, warung tersebut tutup karena istrinya sakit dan ia tidak sempat lagi membuka warungnya. Saat saya sampai di sana, ternyata baru hari itu bapak itu membuka kembali warungnya,” ulasnya.

Rivaldo kemudian dapat meyakinkan sang pemilik untuk menjual barang-barang di warungnya itu.

“Seingat saya, waktu itu saya meninggalkan uang sebesar Rp200.000 kepada bapak itu dan membawa beberapa barang yang iklannya sudah saya koleksi sejak lama,” tuturnya.

Setelah mendapatkan barang-barang jaman dulu, Rivaldo mulai membuat konten tentang barang-barang jadul di rumah—yang saat ini menjadi Galeri Kapsul Waktu—di berbagai media sosial yang ia miliki seperti Instagram dan Youtube.

“Awalnya tidak ada niat untuk membuat konten. Tapi adik saya menyarankan agar saya mencoba untuk membuat konten terlebih dahulu. Karena basic saya juga seniman, saya membuat itu sebagai bentuk karya saja,” katanya.

Waktu berlalu, setiap konten yang disajikan di berbagai media sosial mendapatkan tanggapan positif dari warganet. Ribuan orang mulai mengikuti akun media sosial Rivaldo dan perjalanannya mencari barang-barang jadul itu masih terus berlanjut.

Hingga 2022, ia mendapatkan sebuah pesan dari salah satu pengikutnya di Kalimantan yang pernah memiliki warung kelontong di daerah tersebut.

“Orang itu menyatakan siap untuk mengirim semua barangnya untuk saya dan saya tidak perlu membayar sepeserpun. Bahkan dia juga menanggung ongkos kirim yang seingat saya hampir sekitar Rp1 jutaan,” katanya.

Saat melihat barang-barang yang dikirimkan itu, Rivaldo sangat terkejut. Karena beberapa barang yang dikirim dalam kardus itu adalah barang yang memang sedang ia cari. Bahkan, ada beberapa barang yang sudah berumur ratusan tahun.

“Dalam kiriman itu bahkan ada salah satu bedak yang dijual pada tahun 1890-an. Sementara barang yang lain ada yang tahun 1980-an dan 1990-an juga,” lanjutnya.

Sementara, untuk ratusan mainan yang terpajang di sisi lain galeri, menurut Rivaldo, merupakan mainan masa kecilnya yang menyimpan memori tersendiri.

Hobi mengoleksi barang lama sejak kecil

Rivaldo mengaku punya hobi mengoleksi barang jadul sejak masih kanak-kanak pada 1980-an.

Awalnya, dia mengoleksi gambar-gambar kartun yang dicetak pada sepotong kertas. Mainan itu disebut gambaran.

Hobinya berlanjut sampai dia merantau ke Pulau Jawa, bekerja sebagai seorang tenaga penjual produk.

Rivaldo mencari gambaran ke Yogyakarta, tempat para kolektor gambaran.

“Di sana saya menemukan berbagai gambaran yang dibuat mulai dari tahun 1960-an hingga 1990-an. Di sana, akhirnya saya menemukan kembali gambaran yang sempat saya koleksi saat masih kecil,” ulasnya.

Dari para kolektor gambaran itu, ia mendapatkan sebuah pesan yang saat ini terbukti dengan keberadaan Galeri Kapsul Waktu yang dibuat mirip seperti warung pada 1980-an.

“Kata-katanya kurang lebih begini ‘hati-hati, nanti akan ada barang-barang lama yang dicari untuk koleksi, enggak akan cukup sampai di gambaran ini saja’,” tuturnya.

Koleksi untuk konten

Rivaldo menjelaskan, barang-barang yang ada di galeri tersebut sebagian besar hanya untuk koleksi saja dan berbagi memori masa lalu dengan para pengunjung yang datang.

“Untuk koleksi seperti perangko, uang lama dan beberapa koleksi lainnya kalau ada yang mau beli saya jual. Tapi kalau untuk produk yang ada di warung dan koleksi mainan itu tidak saya jual,” katanya.

Ia menyatakan bahwa seluruh barang tersebut kebanyakan untuk konten di media sosialnya serta untuk saling berbagi dengan konten kreator lainnya.

“Kalau untuk pendapatan kebanyakan dari media sosial seperti adanya endors dan dari adsens juga di Youtube. Alhamdulillah sampai saat ini masih cukup untuk kebutuhan rumah tangga,” katanya.

Menurutnya, cukup banyak perusahaan tertarik dan ingin beriklan di akun Instagram bernama @kapsulwaktunusantara dengan 491.000 pengikut.

Merawat memori masa lalu

Galeri Kapsul Waktu, menurut Rivaldo, tidak hanya berdiri untuk kepuasan dirinya sendiri.

Tempat itu, sambungnya, terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat dan mengenang masa lalu melalui berbagai barang.

“Siapa saja yang ingin ke sini boleh saja. Tidak hanya yang di Sumatra Barat. Dari daerah lain juga banyak yang berkunjung ke sini untuk melihat koleksi di sini,” katanya.

Ia menceritakan, pada 2024 lalu, ada pasangan yang diperkirakan berumur 40-an tahun datang ke galeri tersebut. Rivaldo mempersilakan mereka untuk masuk dan melihat-lihat ribuan koleksinya.

“Hanya beberapa menit saja, pengunjung perempuan itu langsung menangis tersedu-sedu saat melihat salah satu produk yang ada di galeri ini. Lalu, pengunjung pria yang merupakan suaminya mencoba menenangkannya,” katanya.

Setelah ditanya oleh Rivaldo, ternyata produk bedak yang ada di galeri tersebut merupakan produk yang sering digunakan oleh orang tua sang perempuan. Produk itu membawa kenangan masa lalu saat sang ibu masih hidup.

“Saya sempat menawarkan produk itu untuk dibawa saja sebagai pengingat. Tetapi beliau mengatakan bahwa barang itu dibiarkan saja di sini bersama yang lainnya. Jika ia merindukan ibunya, ia akan ke sini lagi,” katanya.

Ada pula seorang warganet yang menanyakan produk sampo yang menjadi kenangan masa lalunya.

“Dia menanyakan tentang produk sampo itu yang digunakan waktu dia kecil. Menurut ceritanya, barang itu melekat di memorinya tentang neneknya yang sudah meninggal dunia,” tuturnya.

Rivaldo mengirimkan foto produk itu. Namun, warganet itu meminta barang tersebut dikirimkan agar dia bisa mencium aromanya dan mengenang sang nenek yang sudah lama tiada.

“Awalnya saya tidak mau mengirimkannya, karena untuk mendapatkan barang itu sangat sulit. Terlebih saya hanya punya satu produk itu dengan aroma seperti itu. Produk itu juga masih disegel dan belum dibuka,” ujarnya.

Setelah menimbang, Rivaldo meminta alamat sang warganet dan mengirimkan sampo tersebut tanpa meminta bayaran sepeser pun. Itu ia berikan sebagai pengingat kembali memori masa lalunya bersama sang nenek.

Di Galeri Kapsul Waktu, sejumlah pengunjung mengapresiasi keberadaan tempat itu.

Salah satu pengunjung, Dian Albert, mengatakan mengetahui tentang Galeri Kapsul Waktu dari media sosial. Ia mengunjungi tempat tersebut ingin mengembalikan memori masa lalunya.

“Saya ke sini untuk melihat salah satu produk bedak yang sering saya gunakan saat masih kecil dan alhamdulillah ada di sini,” katanya.

Menurutnya, dengan melihat dan mencium bau dari bedak itu ia bisa mengingat kembali saat dirinya kanak-kanak dan dimandikan oleh sang ibu.

Wartawan Halbert Caniago di Sumatra Barat berkontribusi untuk artikel ini.

  • Kisah pembuat konten di Sitinjau Lauik, Sumatra Barat – ‘Target saya bukan mencari hadiah’
  • ‘Kami masih menggunakannya setiap hari’ – Mesin tik yang tak lekang oleh waktu di AS
  • Bermain lompat karet hingga gobak sodor di GBK – Permainan tradisional jadi ajang nostalgia sekaligus soroti kebutuhan ruang terbuka hijau
  • Kisah di balik kecintaan warga Jepang terhadap kamera analog, kaset, dan vinil lawas
  • Super Mario Bros: Mengenal gim video ikonik yang merayakan peringatan 40 tahun
  • Pager alias penyeranta ‘tutup usia’, setelah digunakan jutaan orang selama 30 tahun
  • Kota Satelit Kebayoran Baru dulu dan sekarang: Kisah perumahan Peruri, rumah Jengki, hingga CSW
  • Muhidin M Dahlan, pendekar kliping dan arsip dari Bantul – ‘Sejarah kita adalah sejarah otoritarianisme’
  • Kisah di balik kode pos Indonesia yang terinspirasi lagu Dari Sabang Sampai Merauke

Leave a Comment