
Pada Selasa (24/03), Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran “sangat menginginkan” negosiasi dan bahwa para juru runding Iran telah memberikan AS sebuah “hadiah yang sangat signifikan”. “Hadiah” tersebut berkaitan dengan minyak dan gas serta Selat Hormuz, kata Trump, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Namun, ketua parlemen Iran menepis anggapan adanya pembicaraan.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan fakenews [sic] digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari kubangan yang menjebak AS dan Israel,” tulis Mohammad Bagher Ghalibaf di media sosial X.
Yang jelas, pesan-pesan memang sedang disampaikan dari AS ke Iran, tapi secara tidak langsung. Pesan-pesan itu disampaikan oleh sejumlah perantara, seperti Pakistan, yang memiliki hubungan baik dengan kedua pemerintahan.
Itu tentu berbeda dengan “negosiasi” formal—penjelasan yang mungkin menjadi alasan mengapa ketua parlemen Iran dan juru bicara militer Iran menampik keras bahwa negosiasi tengah berlangsung.
Kontak tidak langsung memang ada, begitu pula saluran komunikasi antara kedua pihak. Tetapi mencapai sebuah kesepakatan tampaknya masih jauh dari kenyataan.
Contohnya, baru-baru ini mengemuka 15 butir rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang. Proposal itu mencakup komitmen Iran untuk tidak membangun senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz yang sangat strategis.
Namun Iran langsung menolak, menurut media Press TV yang dikelola pemerintah Iran.
Mengutip seorang “pejabat senior politik-keamanan” yang tidak disebutkan namanya, media itu memaparkan lima syarat dari Teheran untuk mengakhiri konflik, termasuk pembayaran ganti rugi atas kerusakan.
Syarat-syarat tersebut tidak memiliki kesamaan dengan proposal Trump, yang dipublikasikan oleh media Israel Channel 12 dan dikonfirmasi pejabat AS.
Apa isi 15 butir rencana perdamaian yang digagas Trump?
BBC belum memperoleh akses terhadap dokumen rencana yang diklaim Presiden Trump telah dikirimkan kepada Iran. Tidak ada pula konfirmasi resmi mengenai isinya. Namun, sejumlah media internasional mulai mengungkap beberapa detil.
Menurut saluran berita Israel, Channel 12, rencana tersebut mencakup sejumlah persyaratan berikut:
Proposal tersebut meminta Iran untuk “berkomitmen untuk tidak pernah mewujudkan senjata nuklir”, berjanji membongkar fasilitas nuklir, dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)—badan pengawas nuklir PBB.
Menurut proposal itu, Iran harus menyetujui pembatasan program rudalnya, baik dari segi jangkauan maupun jumlah.
Selain itu, Iran harus berhenti mendanai kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah—Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman.
Iran juga akan diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz agar dapat berfungsi sebagai “koridor maritim bebas”.
Penutupan Selat Hormuz—tempat kapal-kapal pembawa sepertiga pasokan minyak dan gas dunia melintas—telah membuat harga BBM melambung dan memicu kekhawatiran resesi ekonomi global.
Sebagai balasannya, AS akan membantu mengembangkan proyek nuklir di Bushehr untuk memasok keperluan listrik bagi warga sipil.
Lalu, menurut rencana tersebut, semua sanksi internasional terhadap Iran akan dicabut.
Sanksi penuh diberlakukan kembali pada November lalu setelah Iran menangguhkan inspeksi fasilitas nuklirnya menyusul pengeboman beberapa lokasi nuklir dan pangkalan militer oleh AS dan Israel.
Apa respons Gedung Putih?
Pada Rabu (25/03), juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menanggapi pertanyaan seorang reporter terkait 15 butir rencana perdamaian yang bocor ke media.
Leavitt menyebut laporan tersebut “bersifat spekulatif” dan menyatakan bahwa sebagian informasi yang dipublikasikan “tidak sepenuhnya akurat,” meskipun ia mengakui bahwa rencana itu “mengandung unsur kebenaran.”
Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan membahas rincian “kecil” mengenai percakapan yang sedang berlangsung.
Sekretaris pers itu juga menolak menjawab pertanyaan terkait kemungkinan pengerahan pasukan AS di daratan Iran. Meski begitu, dia menyatakan bahwa langkah tersebut tidak memerlukan otorisasi formal dari Kongres.
Ketika ditanya seberapa dekat akhir perang, Leavitt kembali menegaskan posisi Gedung Putih bahwa AS “berada di depan jadwal” dan menyebutnya sebagai operasi yang sangat berhasil.
Apa proposal tandingan Iran?
Awalnya, Iran menolak mentah 15 butir rencana perdamaian.
Namun, pada Rabu (25/03), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada media pemerintah bahwa “sejumlah gagasan” telah disampaikan kepada berapa pejabat senior pemerintahan.
“Jika diperlukan sikap resmi terkait gagasan ini, sikap tersebut pasti akan ditentukan,” ujarnya.
Araghchi mengatakan Iran “belum berniat untuk bernegosiasi saat ini”.
Namun ia mengonfirmasi bahwa “pihak Amerika telah mulai mengirim berbagai pesan melalui beragam perantara.”

Sebelumnya, sebagaimana dilaporkan Press TV, Iran mengajukan lima syarat untuk mengakhiri perang.
Pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan kepada Press TV bahwa syarat-syarat ini merupakan tambahan dari tuntutan yang sebelumnya diajukan Teheran dalam perundingan di Jenewa pada Februari, beberapa saat sebelum perang dimulai.
Syarat tersebut mencakup penghentian total “agresi dan pembunuhan oleh musuh”. Sejumlah pejabat tinggi Iran telah meninggal dunia sejak hari pertama perang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Syarat Iran lainnya mencakup “mekanisme konkret untuk memastikan perang tidak diberlakukan kembali terhadap Republik Islam”, meski tidak jelas jaminan apa yang dapat diberikan dan negara mana saja yang akan terlibat atau mengawasi pemenuhannya.
Di bidang ekonomi, Iran juga menuntut pembayaran kerusakan perang dan ganti rugi, serta hak untuk tetap menjadi satu-satunya pihak yang mengendalikan Selat Hormuz.
Yang paling penting, Teheran ingin Israel mengakhiri serangan terhadap sekutu Iran di wilayah tersebut. Israel telah meningkatkan operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon. Pada Selasa (24/03), Israel mengumumkan bahwa militernya akan tetap berada di zona penyangga di dalam Lebanon sampai serangan terhadap Israel utara berhenti.
Apa yang diinginkan pihak-pihak yang bertikai?
Analisis Frank Gardner, koresponden BBC di bidang keamanan
Kebuntuan antara AS dan Iran mengingatkan pada upaya Rusia dan Ukraina mengakhiri perang—kedua pihak sama‑sama menyatakan ingin mengakhiri konflik, tetapi hanya dengan syarat yang mereka tentukan sendiri, dan syarat itu tidak dapat diterima oleh pihak lawan.
Terlepas dari optimisme yang disuarakan Gedung Putih, tampaknya jarak AS dan Iran masih sangat lebar.
Iran kini merasa lebih percaya diri. Benar, negara itu menderita kerugian militer besar dan kehilangan pemimpin tertingginya. Pangkalan militer, gudang persenjataan, dan pusat komandonya juga porak-poranda. Angkatan lautnya pun sebagian besar telah dilumpuhkan.
Namun Iran tetap bertahan. Iran menunjukkan ketangguhan.
Di 31 provinsi Iran, terdapat tingkat otonomi dan sistem yang memungkinkan para komandan Garda Revolusi bergerak secara independen, menjalankan perintah yang telah diberikan sebelumnya—dan perintah ini masih efektif.
Iran masih menembakkan drone dan rudal ke negara-negara Arab di Teluk, dan mereka tetap menguasai Selat Hormuz.
Iran berada pada posisi yang membuatnya merasa tidak perlu memberikan konsesi kepada AS, Israel, atau pihak mana pun.
Semakin sering Gedung Putih menyatakan kepada dunia bahwa Iran sangat memerlukan kesepakatan, semakin kecil keinginan Iran untuk menciptakannya.
- Trump klaim AS dan Iran gelar perundingan untuk selesaikan perang, Iran membantah
- Rudal Iran jebol pertahanan udara Israel, gempur dua kota dekat fasilitas nuklir
- Perang AS-Israel vs Iran: Kapal mana saja yang masih bisa melewati Selat Hormuz?
- Iran gempur pangkalan militer AS sampai menimbulkan kerusakan senilai Rp13,5 triliun, menurut analisis terbaru
- Iran gunakan bom tandan yang tembus pertahanan Israel – ‘Saya mulai sedikit kehilangan harapan’
- Siapa Ali Larijani dan apakah kematiannya bakal memperdalam krisis di jantung kepemimpinan Iran?
- ‘Potong satu kepala, kepala baru akan tumbuh’ – Sejumlah pejabat tewas, pemerintah Iran tidak tumbang
- ‘Potong satu kepala, kepala baru akan tumbuh’ – Sejumlah pejabat tewas, pemerintah Iran tidak tumbang
- Mungkinkah rudal Iran mencapai Eropa?
- Iran punya strategi khusus melawan AS-Israel