Fakta baru di kasus pembunuhan pelajar SMP di eks Kampung Gajah

Photo of author

By AdminTekno

Polisi mengungkap sejumlah fakta baru dari pembunuhan ZAAQ (14) seorang siswa SMP, di eks kawasan wisata Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Peristiwa tragis ini terjadi pada 9 Februari 2026 dan melibatkan dua pelaku yang juga masih di bawah umur.

Polisi kini tengah mengusut motif dan dinamika hubungan antara korban dan pelaku sebagai bagian dari penyelidikan. Berikut rangkumannya.

Motif Pembunuhan Siswa SMP di Eks Kampung Gajah: Dendam Hubungan Lama Kandas

Motif utama pembunuhan siswa SMP berinisial ZAAQ (14) terjadi akibat rasa kesal dan dendam pribadi pelaku setelah korban menyatakan ingin mengakhiri hubungan pertemanan yang pernah terjalin lama sejak di Garut.

“Pelaku di Garut juga sempat mempunyai hubungan, saling kenal. Kemudian korban dipindahkan ke daerah Bandung dan pelaku akhirnya tetap sering bertemu walaupun jaraknya jauh,” ujar Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adi Putra.

Intensitas pertemuan yang masih terjadi setelah korban pindah ternyata tidak membuat hubungan keduanya tetap harmonis. Justru seiring waktu, pelaku menyimpan rasa kesal dan dendam terhadap korban.

Kapolres menyebut titik balik konflik terjadi ketika korban menyatakan sikap untuk mengakhiri pertemanan dengan pelaku. Pernyataan tersebut memicu kemarahan mendalam.

Sebelumnya korban dan pelaku YA (16) sudah saling mengenal sejak SD, tetapi pertemanan itu terus memicu konflik emosional setelah korban pindah sekolah ke Bandung. Ketika korban memutuskan hubungan, pelaku semakin tersulut emosi hingga niat jahat muncul.

“Sampai akhirnya pelaku benar-benar sangat kesal dan dendam. Pada saat korban memberikan pernyataan sikap kalau sudah tidak berteman lagi dengan pelaku, itu yang membuat pelaku semakin kesal,” tambah Niko.

Kasus Siswa Dibunuh di Eks Kampung Gajah: Pelaku Pernah Tonjok Korban

Paman korban mengatakan bahwa benih konflik telah muncul sejak lama, termasuk kejadian pemukulan fisik oleh salah satu pelaku ketika mereka masih di SD.

“ZAAQ pindah ke Bandung karena dipukul sama si YA pas kelas 6 SD. Dipukul bagian dekat mata dan sampai membengkak. Dari situ keluarga khawatir, akhirnya dipindahkan ke Bandung pas SMP,” kata Yusuf, paman korban dari pihak ayah.

Keluarga sempat membuat kesepakatan agar pelaku tidak lagi bertemu korban, tetapi pelaku kemudian datang tanpa sepengetahuan keluarga dan kembali memicu konflik yang berujung pada tragisnya peristiwa pembunuhan itu.

“Terakhir sebelum kejadian, korban mau jauh dari dia (pelaku) karena sudah enggak wajar dan aneh,” ujar Yusuf, paman korban.

Kasus Siswa Dibunuh di Eks Kampung Gajah: Pelaku Dikenal Banyak Tingkah

Menurut paman korban, korban sempat mengalami tekanan mental akibat hubungan yang tidak sehat dan ancaman dari pelaku sebelum kejadian. Korban hanya menganggap pelaku sebagai teman biasa, tetapi juga tertekan oleh pengalaman traumatis.

“Kalau ZAAQ beranggapan ya teman biasa saja, karena ZAAQ juga masih kecil,” ujar Yusuf saat dikonfirmasi.

Menurut keluarga, korban sempat berusaha menjauh dari pelaku karena merasa situasi hubungan mereka sudah tidak wajar dan membuatnya tidak nyaman.

“Terakhir sebelum kejadian, korban mau jauh dari dia (pelaku) karena sudah enggak wajar dan aneh,” tambah Yusuf.

Keluarga juga mendengar informasi bahwa perilaku pelaku di lingkungan sekolahnya kerap bermasalah. Meski demikian, Yusuf mengaku tidak mengetahui secara pasti detail perilaku tersebut.

“Saya dengar dari orang di sekolahnya, pelaku memang orangnya bertingkah,” katanya.

Teman-teman korban juga menyampaikan bahwa pelaku sering menimbulkan ancaman sebelum peristiwa berlangsung, dan keluarga menyayangkan sikap pelaku yang dianggap terlalu agresif dan tidak wajar.

“Saya dengar dari teman ZAAQ juga banyak ancaman dari pelaku,” kata Yusuf.

Leave a Comment