Negara di Asia tahan ekspor minyak-BBM imbas perang, importir mulai panik

Photo of author

By AdminTekno

Importir minyak dan bahan bakar di Asia mulai dilanda kepanikan seiring perang di Timur Tengah menghambat akses terhadap berbagai komoditas energi, mulai dari minyak mentah hingga bahan bakar olahan dan bahan baku petrokimia.

Penutupan Selat Hormuz di Iran telah mendorong beberapa negara Asia untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri dengan mengurangi ekspor, sehingga memperketat pasokan energi di kawasan.

Di Jepang, setidaknya satu perusahaan penyulingan telah mulai membatalkan ekspor solar, bahan bakar jet, dan bensin selama Maret, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut dikutip dari Bloomberg, Kamis (5/3). Thailand juga menyatakan akan menghentikan ekspor bahan bakar.

Beberapa kilang di Asia bahkan mulai mempertimbangkan pengurangan produksi. Fasilitas di China dan Jepang menjadi yang paling berpotensi melakukan langkah tersebut.

Di Indonesia, perusahaan petrokimia PT Chandra Asri Pacific telah menyatakan force majeure (keadaan kahar) awal pekan ini karena gangguan pengiriman bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi serupa berpotensi terjadi di wilayah lain di Asia, khususnya Korea Selatan, produsen besar yang sangat bergantung pada pasokan nafta dari Teluk Persia.

Perusahaan Mangalore Refinery and Petrochemicals Ltd. di India juga memberi tahu pelanggan pada Rabu bahwa mereka akan menghentikan ekspor produk minyak. Meski belum menyatakan force majeure secara resmi, pemberitahuan itu menunjukkan tekanan yang semakin besar pada negara yang merupakan pemasok penting bahan bakar bagi Asia dan Eropa.

Sejak perang meletus akhir pekan lalu, hampir tidak ada minyak atau bahan bakar yang berhasil keluar dari kawasan Teluk. Selain tanker minyak mentah, lebih dari 100 kapal yang membawa produk minyak olahan, termasuk LPG, bensin, nafta, solar, dan bahan bakar jet, terjebak di sekitar Selat Hormuz.

Pembeli di Asia biasanya menyerap sebagian besar ekspor tersebut, sehingga kekurangan pasokan kini mulai terasa di berbagai negara.

India, yang memasok solar dan bensin ke Asia serta Eropa, mengatakan sedang memantau kondisi pasokan bahan bakar domestiknya dengan ketat. Sementara itu, rumah tangga di negara tersebut berpotensi menghadapi kekurangan gas memasak (LPG) dalam beberapa minggu ke depan akibat terganggunya pasokan dari Teluk.

Jika tidak ada gencatan senjata dalam waktu dekat, situasi di Asia diperkirakan akan semakin memburuk,” tulis Bloomberg.

Ketersediaan kapal tanker di Teluk Persia semakin menipis, yang dapat memaksa produsen menghentikan produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Irak bahkan sudah mulai mengurangi produksi di ladang minyak terbesar, sementara fasilitas penyimpanan utama di Arab Saudi semakin penuh, menurut perusahaan analitik geospasial Kayrros.

Menghadapi potensi gangguan yang berkepanjangan, beberapa kilang di Asia mulai mempertimbangkan penggunaan cadangan minyak strategis dan komersial. Namun negara yang memiliki cadangan tersebut, seperti Jepang dan Korea Selatan, kemungkinan akan lebih memprioritaskan keamanan pasokan domestik dibandingkan menjualnya ke negara lain. Selain itu, cadangan bahan bakar di kawasan juga relatif terbatas.

Situasi ini membuat India berada dalam posisi yang sangat rentan karena memiliki cadangan strategis minyak yang kecil dibandingkan dengan tingkat permintaan, serta stok bahan bakar yang sangat rendah.

Negara lain yang sangat bergantung pada impor energi, seperti Indonesia, Australia, dan Myanmar, juga berpotensi mengalami kekurangan bahan bakar atau terpaksa membayar harga sangat mahal untuk memperoleh pasokan. Kondisi tersebut berisiko mempercepat kenaikan inflasi di kawasan.

Leave a Comment