Ringkasan Berita:
- Penyanyi dan musisi Isyana Sarasvati mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya platform X, setelah visual dalam video musik terbarunya dituding mengandung simbol satanisme.
- Isu ini mencuat seiring dengan perilisan babak final dari album kelimanya yang bertajuk Eklektiko
- Tudingan ini bermula dari potongan visual dalam video musik lagu “Abadhi” yang menampilkan simbol “mata satu” dalam beberapa adegan.
Kita Tekno Penyanyi sekaligus musisi, Isyana Sarasvati, dituding terlibat sekte satanik setelah muncul visual “mata satu” dalam video musik lagu terbarunya.
Isu itu bermula dari potongan visual dalam video musik lagu “Abadhi” yang menampilkan simbol mata satu dalam beberapa adegan.
Visual tersebut kemudian dikaitkan oleh sebagian pengguna media sosial dengan simbol yang kerap diasosiasikan dengan satanisme.
Lantas, siapakah sosok Isyana Sarasvati ini?

Lahir di Bandung pada 2 Mei 1993, Isyana Sarasvati tumbuh dalam lingkungan akademik dan musikal yang kental.
Ayahnya, Sapta Dwikardana, seorang doktor sekaligus analis perilaku, dan ibunya, Luana Marpanda, adalah guru musik yang turut menanamkan kecintaan mendalam Isyana terhadap dunia nada.
Sang kakak, Rara Sekar, juga menempuh jalur serupa sebagai musisi, menjadikan keluarga ini nyaris seperti orkestra mini. Masa kecil Isyana diwarnai dengan nomaden intelektual.
Ia sempat tinggal di Belgia saat sang ayah menempuh studi lanjutan.
Pengalaman lintas benua itu memperkaya perspektifnya sebelum kembali ke Bandung di usia tujuh tahun.
Sejak belia, Isyana menunjukkan kecemerlangan dalam musik klasik.
Ia kerap mengikuti berbagai kompetisi, bahkan menjalani masa karantina demi persiapan pertunjukan.
Pada usia sembilan tahun, ia telah mencatatkan prestasi sebagai juara regional Jawa Barat dalam Electone Festival serta menjadi finalis tingkat nasional dalam Kompetisi Piano Yamaha. Menariknya, Isyana tidak menyelesaikan pendidikan SMA.
Bakat luar biasanya membawa beasiswa penuh dari pemerintah Singapura saat ia duduk di kelas dua.
Ia pun menempuh pendidikan musik di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), di mana ia menyabet gelar Diploma di bidang Music Performance pada 2013.
Dua tahun kemudian, ia meraih gelar Bachelor of Music dari Royal College of Music, Inggris, dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
Transformasi musikal Isyana terjadi saat ia merambah industri pop.
Bergabung dengan Sony Music Indonesia pada 2014, ia meluncurkan debut single “Keep Being You”.
Namun, namanya benar-benar melambung lewat lagu “Tetap Dalam Jiwa” yang dirilis tahun berikutnya, lagu yang dengan cepat menancapkan pengaruhnya di blantika musik Tanah Air.
Tak hanya sebagai penyanyi, Isyana membuktikan dirinya sebagai perempuan independen dalam industri. Pada Oktober 2020, ia mendirikan label musik sendiri, REDROSE RECORDS, sebuah langkah artistik yang memberinya kebebasan kreatif lebih besar.
Kisah Asmara
Di balik sorotan lampu panggung, kisah asmara Isyana tidak banyak diketahui publik hingga ia menggelar pertunangan secara mengejutkan pada 29 Desember 2019.
Calon suaminya, Rayhan Maditra, adalah seorang dokter yang telah menjadi pasangan Isyana selama lebih dari satu dekade, namun hubungan mereka nyaris tidak pernah terekspos.
Pasangan ini resmi menikah pada 2 Februari 2020 di Bandung.
Rayhan sendiri bukan sosok asing dari dunia musik. Ia pernah tampil bersama Isyana dalam sejumlah cover lagu yang diunggah ke YouTube, memperlihatkan kekompakan mereka tidak hanya dalam kehidupan pribadi, tetapi juga secara musikal.
Dikenal sebagai seniman penuh talenta, Isyana juga kerap tampil di luar pakem.
Baik di atas panggung maupun dalam wawancara, ia menunjukkan kepribadian yang blak-blakan dan tak jarang mengundang tawa, membuat banyak penggemar menyebutnya sebagai penyanyi berbakat yang diam-diam komedian.
Awal Mula Dituding Isu Satanik
Sebelumnya, isu itu bermula dari potongan visual dalam video musik lagu “Abadhi” yang menampilkan simbol mata satu dalam beberapa adegan.
Visual tersebut kemudian dikaitkan oleh sebagian pengguna media sosial dengan simbol yang kerap diasosiasikan dengan satanisme. Perbincangan mengenai hal itu ramai dibahas di platform X.
Salah satu unggahan yang membahas isu tersebut bahkan dilaporkan telah dilihat lebih dari satu juta pengguna.
Reaksi warganet pun beragam. Sebagian mengaku terkejut dengan konsep visual yang diusung Isyana, namun tidak sedikit pula yang membela sang musisi dan menilai tudingan tersebut terlalu berlebihan.
Respons Isyana Sarasvati
Menanggapi polemik yang berkembang, Isyana akhirnya memberikan respons melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia menuliskan sepenggal lirik yang seolah menjadi jawaban atas berbagai spekulasi yang beredar.
“Sometimes pure light, sometimes cruel tides, I am passing through,” tulis Isyana, dikutip Kamis (5/3/2026).
“Terkadang cahaya murni, terkadang gelombang kejam, aku sedang melewatinya,” lanjutnya dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Unggahan tersebut langsung mendapat perhatian dari para penggemarnya yang memberikan dukungan di kolom komentar.
Suami Isyana Ikut Buka Suara
Sementara itu, respons serupa juga datang dari suami Isyana, Rayhan Maditra Indrayanto.
Melalui akun Threads miliknya, Rayhan menilai polemik tersebut sebagai ujian bagi seorang musisi ketika karya yang dibuat dengan kejujuran justru dimaknai berbeda oleh publik.
“Ujian besar bagi seorang musisi ketika karya yang lahir dari kejujuran justru dimaknai dengan cara yang jauh berbeda. Sering kali asumsi datang lebih cepat daripada keinginan untuk memahami,” tulis Rayhan.
Ia juga berharap agar semua pihak dijauhkan dari fitnah, terlebih di bulan suci.
“Semoga Tuhan melindungi kita semua dari segala bentuk fitnah di bulan suci ini,” tambahnya.
Bagian dari Proyek Album “Eklektiko”
Kontroversi tersebut muncul di tengah perilisan proyek musik terbaru Isyana yang merupakan bagian dari album kelimanya bertajuk Eklektiko. Proyek “Abadhi” menjadi babak final atau Chapter 4 dari konsep besar album tersebut.
Era musik baru Isyana sebelumnya dibuka dengan single “Babel” yang dirilis pada Februari 2026 dengan genre symphonic metal yang memadukan unsur orkestra megah.
Dalam proyek ini, Isyana juga menampilkan transformasi visual yang lebih edgy dan gothic. Penggunaan simbol mata satu dalam visual proyek Abadhi memicu berbagai spekulasi di media sosial sejak awal Maret 2026. Sebagai informasi, visual tersebut muncul dalam video berjudul “Eklektiko: This is Abadhi” yang tayang pada 2 Februari 2026 serta “Abadhi: The Final Chapter of Eklektiko (Official Teaser)” yang dirilis pada 5 Februari 2026.
Proyek musik ini juga dirilis secara independen melalui label milik Isyana sendiri, REDROSE Records.
Baca berita Tribunsumsel.com lainnya di Google News
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Kita Tekno –