Harga minyak dunia kian mendidih, tembus US$92 per barel

Photo of author

By AdminTekno

Kita Tekno – , JAKARTA — Harga minyak mentah global melonjak hingga menembus level US$92 per barel pada perdagangan Sabtu (7/3/2026) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah berjangka Brent naik 8,52% menjadi US$92,69 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 12,2% hingga mencapai US$90,90 per barel.

Lonjakan harga terjadi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah setelah pasukan gabungan Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada pekan lalu. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.

: Skenario Terburuk Purbaya Jika Harga Minyak Tembus US$92 per Barel

Ketegangan makin meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama ekspor minyak dunia.

Kenaikan harga minyak tersebut turut menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Pasalnya, harga minyak global saat ini telah melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar US$70 per barel.

: : Purbaya Ungkap Skenario Jika Harga Minyak Tembus US$92, Defisit APBN 3,7%!

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Kementerian Keuangan telah melakukan simulasi terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap fiskal negara. Berdasarkan perhitungan pemerintah, harga minyak di level US$92 per barel berpotensi mendorong defisit APBN melebar.

“Kami sudah exercise sampai kalau harga minyak naik ke US$92, apa dampaknya ke defisit? Kalau enggak diapa-apain, defisit kita naik ke 3,6% sampai 3,7% kalau enggak salah, dari PDB, itu kalau kita enggak ngapa-ngapain,” ujarnya kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

: : Tak Hanya Selat Hormuz, Ini Jalur Aliran Minyak Paling Sibuk di Dunia

Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah akan melakukan berbagai penyesuaian kebijakan agar lonjakan harga minyak tidak menyebabkan pembengkakan belanja subsidi energi. Dia juga memastikan defisit APBN masih dapat dijaga di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menurutnya, Indonesia pernah menghadapi situasi yang lebih berat ketika harga minyak dunia melonjak hingga sekitar US$150 per barel pada masa lalu.

“Kita dulu pernah melewati keadaan di mana harganya sampai US$150 per barel. Jatuh enggak ekonominya? Agak melambat, tetapi enggak jatuh ekonominya,” katanya.

Namun demikian, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) apabila tekanan terhadap anggaran subsidi energi makin besar.

“Kalau memang anggarannya enggak kuat sekali, enggak ada jalan lain, ya kita share [bebannya] dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM, kalau memang harganya tinggi sekali, anggaran enggak tertahan lagi,” tutupnya.

Leave a Comment