
Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengalami serangan penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal, demikian pernyataan tertulis Badan Pekerja Kontras yang diterima BBC News Indonesia, Jumat (13/03) siang.
Serangan penyiraman air keras itu “mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” kata Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya.
Menurut Dimas, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (12/03) malam, sekitar pukul 23.00 WIB.
Saat itu Andrie Yunus baru saja selesai melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Jakarta.
Tema podcast itu adalah “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”.
Dimas menjelaskan, Andrie Yunus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan secara medis.
“Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24%,” ungkapnuya.
Atas serangan penyiraman air keras tersebut, menurut Dimas, pihaknya menilai merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya pembela HAM.
Mereka merujuk pada UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 66 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Peraturan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Prosedur Perlindungan Terhadap Pembela HAM.
“Peristiwa ini harus segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan masyarakat sipil,” katanya.
Dia kemudian menuntut aparat kepolisian langsung melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut.
“Mengingat, upaya penyiraman air keras terhadap korban dapat mengakibatkan luka fatal yang serius hingga meninggal dunia,” tegas Dimas Bagus Arya.
Berita ini akan diperbarui secara berkala.
- Konten kreator dan aktivis pengkritik penanganan bencana diteror, pemerintah tepis dugaan batasi kritik publik
- Foto diunggah Pemprov Jabar, aktivis demokrasi jadi sasaran serangan digital – ‘Ketika menyangkut tubuh saya, serangan digitalnya brutal luar biasa’
- Ketika negara menangkap anak-anak muda setelah demonstrasi Agustus 2025 – ‘Pemburuan terbesar sejak Reformasi 1998’