
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, angkat bicara soal kondisi cuaca panas yang belakangan dirasakan warga Jakarta.
Ia mengatakan, berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu panas diperkirakan terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Jadi untuk, memang diperkirakan BMKG pada satu, dua, tiga hari ini cuacanya cukup panas, termasuk hari ini,” kata Pramono usai menghadiri upacara Melasti di Pura Segara, Jakarta Utara, Minggu (15/3).
Meski demikian, ia menyebut kondisi tersebut masih disertai kemungkinan hujan ringan di beberapa wilayah.
“Dan untuk itu, kita hanya bisa mengimbau karena memang di beberapa tempat masih ada gerimis dan sebagainya,” ujar Pramono.
Pramono juga menyebut prediksi cuaca menunjukkan kemungkinan adanya hujan saat mendekati perayaan Nyepi maupun Idul Fitri.
“Sehingga dengan demikian pada saat nanti Idul Fitri dan prediksinya pada saat Nyepi akan ada curah hujan. Jadi untuk warga di Jakarta enggak perlu khawatir, kita udah terlalu biasa dengan panas-panas yang ada,” pungkas dia.
Penyebab Cuaca Lebih Panas

BMKG menjelaskan penyebab suhu udara di Jakarta dan sejumlah wilayah di Jawa, terasa lebih panas dalam beberapa hari terakhir.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab menyebut kondisi tersebut dipicu oleh minimnya tutupan awan hingga fenomena atmosfer global yang sedang berlangsung. Ia mengatakan suhu udara yang terasa terik dalam beberapa hari terakhir berkaitan dengan kondisi langit yang relatif cerah.
“Hasil pengamatan BMKG dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa suhu maksimum mencapai kisaran 34-36 celcius,” jelas Fachri saat dihubungi kumparan, Minggu (15/3).
Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena tutupan awan sangat sedikit sehingga radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi sejak pagi hingga siang hari.
“Kondisi ini terjadi karena langit relatif cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit, sehingga sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal sejak pagi hingga siang hari,” ujar Fachri.
“Ketika awan konvektif yang biasanya membantu menahan dan memantulkan sebagian radiasi matahari tidak banyak terbentuk, pemanasan permukaan menjadi lebih kuat. Akibatnya, suhu udara terasa lebih tinggi dan kondisi siang hari menjadi lebih terik,” lanjutnya.
Fachri juga mencatat faktor penyebab lainnya, yakni perubahan kondisi atmosfer yang membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih sedikit. Hal itu berkaitan dengan fase kering dari fenomena atmosfer global Madden-Julian Oscillation, sehingga membuat aktivitas pembentukan awan dan hujan melemah di Indonesia bagian barat.
Faktor lain yang turut memengaruhi kondisi panas tersebut adalah terbentuknya pusat tekanan rendah di wilayah utara Australia.