
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun Instagram resminya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (@infobmkg), menjelaskan fenomena cuaca yang dirasakan masyarakat belakangan ini semakin panas.
Dalam unggahannya, BMKG menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar persepsi, melainkan dipengaruhi faktor ilmiah.
BMKG menjelaskan, kondisi panas yang dirasakan masyarakat bukan hanya disebabkan oleh faktor umum seperti polusi atau pendingin ruangan yang kurang optimal. Ada faktor astronomi dan meteorologi yang turut berperan.

“Lagi ngerasa nggak sih kalau akhir-akhir ini cuaca lagi ‘ngajak berantem’? Mandi berkali-kali pun tetep kerasa gerah. Ternyata, ini bukan sekadar karena polusi atau AC yang kurang dingin, tapi ada fenomena astronomi dan meteorologi yang lagi terjadi!” tulis BMKG dalam unggahan Instagramnya, Kamis (19/3).
Salah satu penyebab utama adalah fenomena gerak semu tahunan Matahari. BMKG menjelaskan bahwa secara teknis Matahari seolah bergerak dari belahan bumi selatan menuju utara.
“Salah satu faktor adalah Gerak Semu Tahunan Matahari. Secara teknis matahari seolah-olah ‘berjalan’ dari belahan bumi selatan menuju ke utara,” lanjutnya.

BMKG juga menyebut bahwa pada periode tertentu, posisi Matahari akan tepat berada di garis ekuator atau khatulistiwa, termasuk wilayah Indonesia.
“Nah, pada tanggal 21 – 23 Maret nanti, Matahari akan tepat berada di atas garis ekuator (khatulistiwa) wilayah tempat kita tinggal!” sambung dia.
Kondisi ini menyebabkan intensitas radiasi Matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih maksimal, sehingga suhu udara meningkat signifikan.

Selain faktor astronomi, BMKG juga menyoroti faktor meteorologi yang memperparah kondisi panas. Di antaranya adalah minimnya tutupan awan serta masa transisi dari musim hujan ke kemarau.
“Gabungan antara faktor astronomi dan meteorologi: 1. Posisi Matahari yang semakin mendekat ke ekuator, intensitas radiasi sinar matahari yang kita terima jadi lebih maksimal. Jaraknya yang seolah ‘tegak lurus’ di atas kepala bikin suhu udara melonjak. 2. Sedikit tutupan awan. 3. Masa transisi hujan ke kemarau juga turut berperan,” demikian unggahan tersebut.
BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus tahunan yang normal terjadi. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk menjaga kesehatan dan menyesuaikan aktivitas selama kondisi panas berlangsung.

“Fenomena ini normal terjadi setiap tahun, kok,” sambung dia.
BMKG kemudian memberikan sejumlah tips, seperti meningkatkan konsumsi air putih, melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet, mengenakan pakaian berbahan katun, serta membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari jika tidak diperlukan.
“Minum air putih lebih banyak. Lindungi kulit dari paparan UV langsung. Pilih bahan katun yang menyerap keringat. Batasi aktivitas luar ruangan pada siang hari jika tidak diperlukan,” tutup unggahan itu.