
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz harus menjadi bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Ia mengancam meningkatkan serangan untuk menghancurkan infrastruktur utama Iran jika persyaratannya tidak dipenuhi sebelum batas waktu hari Selasa (7/4).
Trump mengatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan dengan baik dan pembukaan kembali selat tersebut merupakan prioritas.
“Kita harus memiliki kesepakatan yang dapat diterima oleh saya, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kita menginginkan lalu lintas minyak yang bebas dan segalanya,” kata Trump pada konferensi pers Gedung Putih, dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/4).
Trump mengungkapkan konsekuensi yang akan dihadapi Iran jika tidak mencapai kesepakatan sebelum batas waktu pukul 8 malam Waktu Bagian Timur pada hari Selasa, dengan mengatakan bahwa militer AS dapat menghancurkan setiap jembatan di Iran. Ia menegaskan pembangkit listrik yang diserang akan “Terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi,” ujar Trump.
Menyerang infrastruktur sipil dilarang oleh Konvensi Jenewa, tetapi Trump mengatakan sama sekali tidak khawatir melakukan kejahatan perang.
“Maksud saya penghancuran total pada pukul 12 siang, dan itu akan terjadi dalam jangka waktu empat jam, jika kita mau. Kita tidak ingin itu terjadi,” ungkap Trump.

Batas waktu yang ditetapkan sendiri oleh Trump menandai momen penting terbaru dalam perang, yang kini memasuki bulan kedua. Perang itu telah menewaskan ribuan orang dan memicu gangguan terbesar yang pernah terjadi pada pasar minyak global. Trump telah berupaya menemukan jalan keluar dari perang tersebut, tetapi semakin tidak populer di kalangan warga AS yang melihat harga bensin rata-rata di atas USD 4 per galon.
Iran telah memperingatkan akan menanggapi jenis serangan yang diancam Trump terhadap target sipil dengan meningkatkan serangan mereka sendiri terhadap infrastruktur energi di Teluk, sebuah langkah yang dapat meningkatkan krisis bahan bakar global dan memperbesar kerusakan pada ekonomi dunia.
Pernyataan Trump tentang selat tersebut tampaknya bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dari pemerintahannya tentang apakah bersedia mengakhiri perang dengan selat yang masih tertutup. Pekan lalu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt tidak mencantumkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai tujuan militer utama AS.