Trump klaim banyak negara akan bantu AS blokade Selat Hormuz, Inggris jadi yang pertama membantah

Photo of author

By AdminTekno

Kita Tekno – , WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Ahad (12/4/2026), mengeklaim bahwa, negara-negara lain akan membantu AS dalam melakukan blokade angkatan laut terhadap Iran setelah negosiasi dengan Iran di Islamabad, Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Blokade bertujuan untuk mencegah Iran mengekspor minyaknya.

“Baiklah, kami akan melakukan blokade. Ini akan perlu sedikit waktu, tetapi akan segera efektif,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News.

Menurut Trump, banyak negara akan membantu AS dalam hal blokade tersebut dan pihaknya akan melakukan blokade secara penuh. “Kami tidak akan membiarkan Iran mendapatkan uang dengan menjual minyak kepada orang-orang yang mereka sukai dan bukan kepada orang-orang yang tidak mereka sukai,” kata Trump.

Blokade tersebut akan memakan waktu sedikit, tetapi akan segera efektif. Negara-negara Teluk pun sudah membantu upaya tersebut, kata Trump, tanpa menyebutkan negara-negara tersebut secara spesifik.

Kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz, Iran, 11 Maret 2026 . – (EPA/ROYAL THAI NAVY )

Dia menambahkan bahwa pihak Iran bisa saja menyatakan akan menjatuhkan satu atau dua, bahkan hingga 10, ranjau.

“Jika Anda memiliki kapal yang harganya satu miliar dolar, maka Anda akan berkata, ‘Ya, saya lebih suka tidak terkena ranjau, kehilangan kapal saya atau setidaknya merusaknya parah’,” kata Trump dengan menyebutnya sebagai “pemerasan”.

Menurut Trump, AS dan negara-negara lain akan mengirimkan kapal penyapu ranjau ke Selat Hormuz untuk membersihkan ranjau yang ditinggalkan Iran.

“Kami memiliki kapal penyapu ranjau di sana. Sekarang, kami memiliki kapal penyapu ranjau bawah laut yang sangat canggih, terbaru, dan terbaik; tetapi kami juga mendatangkan kapal penyapu ranjau yang lebih tradisional. Jadi, saya mengerti Inggris dan beberapa negara lain mengirimkan kapal penyapu ranjau,” ucapnya.

Trump pun merasa sangat kecewa dengan NATO dan mengatakan bahwa NATO kini ingin datang dan membantu AS membersihkan selat itu. “Dan tidak akan butuh waktu lama untuk membersihkannya. Jadi kami akan membersihkan selat itu dan mereka akan dapat menggunakan selat itu dalam waktu yang tidak terlalu lama,” katanya.

 

Negosiasi Islamabad

Trump pun menggambarkan negosiasi di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026) lalu sebagai “pertemuan yang benar-benar baik”. Kedua belah pihak menyetujui “95 persen” masalah, kata Trump, kecuali satu masalah belum disepakati yakni Iran ingin memiliki senjata nuklir.

“Kami melakukan negosiasi yang sangat intensif dan menjelang akhir, suasananya menjadi sangat ramah; dan kami mendapatkan hampir semua poin yang kami perlukan, kecuali fakta bahwa mereka (Iran) menolak untuk melepaskan ambisi nuklir mereka. Mengenai isu penting, mereka ingin memiliki senjata nuklir, mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

Trump mengatakan bahwa dia telah melakukan kampanye militer secara maksimal melawan Iran. Dia pun mengulangi ancamannya untuk menargetkan infrastruktur Iran, seperti pembangkit listrik, jembatan, serta pabrik desalinasi dan pengolahan air, dengan mengklaim bahwa AS masih memiliki hal-hal lain sebagai target potensial Iran untuk diserang.

Trump mengatakan bahwa pihaknya akan mengenakan tarif 50 persen pada China dan negara-negara lain, jika mereka mengirim senjata ke Iran.

“Jika kami menangkap mereka melakukan itu, maka mereka akan dikenakan tarif 50 persen, yang itu merupakan jumlah yang mengejutkan, itu jumlah yang mengejutkan,” tambahnya.

Dia juga mengatakan bahwa di tengah tekanan AS terhadap Iran, China dapat membeli minyak dan gas dari AS dan Venezuela. “Sejauh menyangkut China, China dapat mengirim kapal mereka kepada kami. China dapat mengirim kapal mereka ke Venezuela. Kami memberi tahu mereka, beli dari Venezuela,” jelasnya.

  Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. – (Wikimedia Commons)

Merespons Trump, Inggris menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam blokade AS terhadap Selat Hormuz. Seorang juru bicara pemerintah mengatakan Inggris tetap mendukung kebebasan navigasi dan tetap terbukanya Selat Hormuz, jalur yang penting bagi ekonomi global dan biaya hidup domestik.

“Selat Hormuz tidak boleh dikenakan pungutan,” kata pejabat tersebut, seperti dikutip Sky News.

Ia menyebut Inggris tengah bekerja secara mendesak dengan Prancis dan mitra lain untuk membangun koalisi guna menjaga kebebasan navigasi. Dalam sebuah wawancara dengan ITV, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer dia mengatakan bahwa dia “muak dengan fakta bahwa keluarga di negaranya melihat tagihan naik dan turun… karena aksi dari Putin atau Trump.”

Pada Maret lalu, Menteri Energi Inggris Ed Miliband kepada BBC mengatakan, bahwa negaranya mengeksplorasi “banyak opsi” untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun pemerintah khawatir upaya mengirim kapal dan jet penyapu ranjau bisa meningkatkan eskalasi krisis.

Leave a Comment