Iran Tetap Serang Kapal Perang AS Meski Diminta tak Ganggu Project Freedom, Trump Lalu Setop Operasi

Photo of author

By AdminTekno

Kita Tekno – , WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat (AS), pada Ahad (3/5/2026) dilaporkan menyampaikan pesan tertutup kepada Iran bahwa Pentagon akan memulai operasi di Selat Hormuz untuk mengawal kapal-kapal yang berusaha keluar dari jalur tersebut. Portal berita Axios, Selasa (5/5/2026), mengutip pejabat AS dan sumber terkait, melaporkan bahwa Gedung Putih ingin mencegah eskalasi, sehingga meminta Teheran agar tidak mengganggu operasi yang kemudian diumumkan sebagai Project Freedom.

Namun, laporan itu menyebut Iran diduga menyerang kapal Angkatan Laut AS. Padahal pada hari yang sama, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan Washington berkomunikasi dengan Iran baik secara terbuka maupun tertutup untuk memastikan Teheran tidak menghalangi pelaksanaan Project Freedom.  

Baru dua hari operasi Project Freedom berjalan, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (6/5/2026), mengatakan, bahwa ia memutuskan untuk menunda Project Freedom yang bertujuan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz, guna melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai. Trump berdalih keputusannya atas permintaan beberapa negara.

“Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer luar biasa yang telah kami capai selama operasi militer terhadap negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran,” tulis Trump di platform Truth Social.

“Kami telah sepakat bersama bahwa, sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Project Freedom (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan (damai dengan Iran) itu dapat difinalisasi dan ditandatangani,” tulis Trump selanjutnya.

Trump mengumumkan Project Freedom pada 3 Mei. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dukungan militer untuk inisiatif ini mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat darat dan laut, platform nirawak multi-domain, serta 15.000 personel. Operasi dimulai Senin (4/5/2026) pagi.

 

Tak lama setelah Trump mengumumkan operasi Project Freedom, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin merilis peta baru Selat Hormuz dalam kontrol penuh mereka. Kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz juga akan beroperasi di bawah aturan baru.

Dilaporkan media setempat dilansir Telegraph, Selat Hormuz dalam peta baru dimulai di sebelah barat dengan garis yang membentang dari ujung paling barat Pulau Qeshm di Iran hingga Umm al Quwain di Uni Emirat Arab. Di sebelah timur, wilayah ini berhenti pada garis yang membentang dari Gunung Mobarak di Iran hingga Emirat Fujairah di Uni Emirat Arab.

Iran juga memperkenalkan mekanisme baru yang mengatur transit kapal melalui Selat Hormuz, di tengah kebuntuan negosiasi dengan AS terkait jalur perairan strategis tersebut, menurut laporan Press TV milik pemerintah Teheran pada Selasa (5/5/2026). Di bawah sistem tersebut, kapal yang akan melewati Selat Hormuz akan menerima email dari alamat yang terkait dengan Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang memberitahukan mereka tentang peraturan transit.

Kapal kemudian diharuskan untuk mematuhi kerangka kerja tersebut sebelum menerima izin transit. Langkah itu dilakukan seiring dengan semakin ketatnya kontrol Iran atas lalu lintas maritim di selat yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global itu.

Iran telah memberlakukan kontrol yang lebih ketat terhadap navigasi di Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan gabungan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Teheran pada 28 Februari. Pernyataan terbaru dari para pejabat Iran menyebut bahwa kapal harus mengikuti rute yang telah ditentukan dan memperoleh izin untuk melintasi Selat Hormuz.

    Peta baru Selat Hormuz yang dirilis IRGC, Senin (4/5/2026). – (Tangkapan layar X)

Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan kesiapan Berlin untuk berpartisipasi dalam memastikan navigasi yang aman melalui Selat Hormuz, termasuk melalui upaya militer.  Stasiun televisi Jerman NDR melaporkan pada Senin bahwa kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Jerman, FGS Fulda, telah meninggalkan pangkalan di Kiel, Jerman utara, dan menuju Laut Mediterania, dari mana kapal tersebut kemudian dapat dikerahkan kembali ke Selat Hormuz untuk mengambil bagian dalam misi keamanan maritim internasional.

“Dalam kondisi yang tepat, Jerman siap untuk mengambil bagian dalam memastikan kebebasan jalur laut, termasuk melalui cara-cara militer,” kata Merz setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro di Berlin, Selasa.

Merz kemudian mengonfirmasi pengerahan pertama kapal Angkatan Laut Jerman ke Laut Mediterania, yang kemudian dapat dikerahkan kembali ke Selat Hormuz.

“Kapal pertama Jerman sudah menuju Mediterania timur,” ujar Merz.

Ia juga memperbarui seruannya untuk meningkatkan tekanan sanksi terhadap Iran jika negara itu menolak untuk membuka blokade Selat Hormuz. “Seruan bersama kita adalah agar Iran duduk di meja perundingan, harus berhenti membuang waktu, dan tidak boleh lagi ‘menyandera’ kawasan dan seluruh dunia,” kata Merz.

Adapun, Spanyol menolak segala bentuk partisipasi dalam operasi militer di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares meyakini bahwa tindakan militer apa pun dapat memicu eskalasi.

“Kami menolak partisipasi dalam operasi militer dan segala tindakan yang dapat menyebabkan eskalasi. Hal ini harus dihindari dengan segala cara saat ini, karena risiko perang terus ada,” kata Albares dalam wawancara dengan TVE yang ditayangkan pada Senin.

Menteri tersebut mengatakan bahwa Madrid tetap yakin konflik tidak dapat diselesaikan melalui cara militer. Saat ini tidak ada kondisi apa pun untuk operasi di bawah naungan PBB.

Albares menambahkan bahwa situasi di sekitar selat berada dalam kondisi “blokade ganda” oleh Iran dan Amerika Serikat, dan status quo saat ini “jelas tidak berkelanjutan.”

“Selat Hormuz harus dibuka, secara bebas, aman, dan tanpa biaya. Tidak boleh ada pungutan,” ucapnya.

Madrid terus mendukung proses negosiasi untuk menyelesaikan krisis tersebut, kata Albares, seraya menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran telah menghubunginya untuk memberitahu mengenai perkembangan negosiasi dan menjelaskan posisi Teheran.

Dirinya menambahkan bahwa Pakistan, dengan dukungan penuh dari Spanyol, terus melakukan upaya mediasi antara para pihak yang bersengketa.

Albares juga menambahkan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis ini, baik bagi Amerika Serikat maupun Iran. Ia mengatakan bahwa sehari sebelum perang dimulai, Washington dan Teheran masih berada di meja perundingan di Oman, dan informasi yang diterima dalam beberapa hari terakhir mengenai kontak tersebut “cukup menggembirakan.”

Leave a Comment