Densus 88 Antiteror Polri membongkar ancaman nyata dari jaringan terorisme yang merekrut anak-anak melalui media sosial dan game online. Salah seorang pelaku bahkan berencana melakukan aksi teror di Gedung DPR RI, sehingga penindakan cepat dianggap krusial.
“Salah satu dari pelaku ini berkeinginan melakukan aksi di Gedung DPR RI. Inilah yang mendorong penegakan hukum segera,” tegas Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11). Konferensi pers tersebut membahas penanganan rekrutmen online terhadap anak-anak oleh kelompok terorisme.
Menurut Mayndra, sebagian besar tersangka berasal dari jaringan ISIS atau Ansharu Daulah. Namun, mereka mengadopsi metode baru dalam menjerat anak-anak. Hingga saat ini, Densus 88 mencatat 110 anak di 26 provinsi di Indonesia telah berhasil direkrut.
Modus Operandi: Membandingkan Pancasila dengan Kitab Suci
Mayndra menjelaskan modus yang digunakan oleh lima pelaku yang merekrut anak-anak melalui platform digital. Mereka adalah pemain lama dalam jaringan terorisme yang kini menggunakan pendekatan berbeda.
“Pemain lama yang mencoba merekrut anak-anak kembali. Setelah menjalani proses hukum dan bebas, mereka kembali mencoba merekrut anak-anak,” ungkap Mayndra.
Para pelaku memanfaatkan ruang digital, mulai dari platform terbuka hingga grup privat terenkripsi, untuk melancarkan aksinya. Di platform umum, mereka menyebarkan visi utopia yang menarik perhatian anak-anak.
Proses indoktrinasi kemudian berlangsung di grup privat. Salah satu pola yang digunakan adalah membandingkan ideologi, misalnya dengan pertanyaan provokatif seperti, “Mana yang lebih baik, Pancasila atau kitab suci?”. Pertanyaan semacam ini menjadi pintu masuk untuk menanamkan ideologi ekstrem. Mayndra menekankan bahwa metode rekrutmen ini dilakukan secara berlapis.
“Anak-anak ditarik perhatiannya terlebih dahulu, kemudian diundang ke grup. Selanjutnya, mereka diarahkan ke grup yang lebih privat dan kecil, yang dikelola oleh admin. Di sanalah proses indoktrinasi berlangsung,” jelasnya.
Upaya Pencegahan dan Perlindungan
Densus 88, bersama BNPT dan Kominfo, terus memperkuat publikasi konten positif dan memonitor potensi ancaman di ruang digital. Langkah pencegahan dilakukan secara fisik maupun ideologis.
“Kami mendeteksi adanya ancaman serangan terhadap fasilitas vital atau fasilitas keamanan,” ujar Mayndra.
Tindakan cepat Densus bukan hanya bertujuan melindungi objek vital negara, tetapi juga menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban rekrutmen.
“Pencegahan atau preventive strike yang dilakukan Densus bertujuan melindungi keamanan objek vital negara dan keselamatan umum, termasuk keselamatan para pelaku dan anak-anak yang direkrut,” pungkas Mayndra.
Ringkasan
Densus 88 Antiteror Polri membongkar jaringan terorisme yang merekrut anak-anak melalui media sosial dan game online, bahkan salah satu pelaku berencana menyerang Gedung DPR RI. Para tersangka, yang sebagian besar berasal dari jaringan ISIS atau Ansharu Daulah, menggunakan modus baru dengan membandingkan Pancasila dengan kitab suci untuk menarik perhatian dan melakukan indoktrinasi terhadap anak-anak di grup privat terenkripsi.
Densus 88 bersama BNPT dan Kominfo terus memperkuat publikasi konten positif dan memonitor ancaman di ruang digital untuk mencegah rekrutmen lebih lanjut. Langkah pencegahan yang dilakukan bertujuan untuk melindungi objek vital negara, keselamatan umum, serta menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban rekrutmen, dengan telah terdeteksi 110 anak di 26 provinsi yang berhasil direkrut.