Detik-Detik Ibu dan 3 Anak Selamat dari Banjir Maut Pelambayan

Photo of author

By AdminTekno

Emalina, perempuan berusia 27 tahun, berusaha menenangkan bayinya yang baru berumur dua bulan pada Sabtu (29/11). Senyum tipis terukir di wajahnya, mengisyaratkan kelegaan mendalam setelah berhasil lolos dari cengkeraman maut bersama ketiga anaknya dari banjir bandang (dikenal sebagai galodo dalam Bahasa Minang) yang menerjang Palembayan, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.

Kengerian Kamis siang, 27 November, masih terpatri kuat dalam ingatan Emalina. Kala itu, jarum jam menunjuk pukul 14.30 WIB ketika ia mendengar raungan seperti gemuruh dahsyat. Teriakan kakaknya yang histeris, “Air bah datang dari atas, segera pergi!”, menjadi isyarat kehancuran yang tak terelakkan.

“Waktu itu saya sedang menggendong anak saya yang paling kecil ini,” kenang Emalina sambil menunjuk sang bayi di pangkuannya kepada wartawan Halbert Caniago dari BBC News Indonesia. Sementara itu, kedua anaknya yang lain sedang mandi bersama bibi mereka. Tanpa berpikir panjang, Emalina berteriak dan nekat melompat dari jendela rumahnya.

Dalam kekacauan itu, setiap detik adalah perjuangan untuk hidup. “Anak saya yang bungsu langsung digendong kakak saya, sementara satu anak lagi saya gendong. Adik saya juga sigap menggendong anak kedua saya,” tuturnya, menggambarkan momen penyelamatan yang penuh ketegangan. Mereka berlari ke arah kiri rumah, namun pandangan Emalina segera disergap pemandangan mengerikan: gelombang air tinggi yang menghantam tak terbendung.

Mereka terus berlari, menembus ladang jagung, hingga menemukan sebuah batu besar yang menjadi satu-satunya harapan. Dari ketinggian batu itulah Emalina menyaksikan pemandangan paling menyayat hati: rumah yang ia bangun perlahan hanyut ditelan arus banjir bandang yang begitu dahsyat. “Tidak ada satu pun yang bisa saya selamatkan, selain ketiga anak saya dan pakaian yang melekat di badan,” ujarnya lirih. Kedua anak sulungnya bahkan tidak sempat mengenakan baju saat itu, sementara hujan tak henti-hentinya mengguyur, menambah dinginnya malam yang mencekam.

Di tengah kondisi yang makin dingin dan memprihatinkan, Emalina berinisiatif membawa anak-anaknya mencari tempat pengungsian yang lebih aman. Perjalanan menuju rumah warga lain bukanlah perkara mudah; mereka harus kembali menembus perkebunan jagung yang becek dan gelap. “Untungnya anak saya tidak demam setelah kehujanan cukup lama,” Emalina bersyukur. Mereka memilih lokasi pengungsian tersebut karena kekhawatiran akan terjadinya banjir bandang susulan.

Saat ini, Emalina dan anak-anaknya menetap di sebuah rumah warga yang cukup jauh dari aliran sungai yang meluap. Di sana, para ibu-ibu bahu-membahu memasak dan menyiapkan makanan untuk puluhan pengungsi lainnya di rumah permanen berukuran 10×8 meter itu. Sementara itu, para pria sibuk menanti dan menjemput pasokan bantuan makanan dari pemerintah serta donatur yang tiba di posko utama, sekitar enam kilometer dari lokasi pengungsian mereka.

Mencari Istri dan Anak-anak

Ketika banjir bandang itu menerjang, suami Emalina, David Aris Munandar (29), tidak berada di rumah. Ia sedang bekerja di daerah Bawan, sekitar 30 kilometer dari kediamannya di Palembayan. Pada Kamis malam, 27 November, beberapa jam setelah bencana, David merasakan kekhawatiran yang mendalam karena tidak dapat menghubungi sang istri.

“Malam itu saya melihat di media sosial bahwa tempat tinggal saya terkena galodo, dan saya terus mencoba menghubungi istri saya. Saya sangat khawatir dengan keadaan istri dan anak-anak saya,” ungkap David, yang tak bisa memejamkan mata mengingat anak bungsunya baru berumur dua bulan. Setelah berbagai upaya, ia akhirnya berhasil menghubungi Emalina, yang mengabarkan mereka selamat, meskipun rumah yang dibangunnya dengan kerja keras bertahun-tahun telah lenyap tak bersisa.

“Saya ingin langsung pulang, tapi dilarang oleh istri saya karena ada informasi soal galodo susulan yang akan kembali melanda tempat tinggal kami,” jelasnya. Namun, tekad David untuk segera menemui keluarganya di Palembayan tak terbendung. “Sesampainya saya di daerah ini, saya melihat tidak ada jalan menuju ke sini. Terpaksa saya melewati lumpur selama tiga jam baru bisa sampai di seberang ini,” kisahnya, menggambarkan betapa beratnya perjalanan menembus medan yang porak-poranda.

Setelah berhasil bertemu dengan anak dan istrinya, David masih dihadapkan pada masalah ketersediaan makanan di tempat pengungsian. Ia pun berupaya mencari berbagai bantuan ke posko utama yang berjarak enam kilometer. “Beruntung ada bahan makanan saat itu dan itulah yang dimasak para ibu-ibu di sini untuk makan kami. Ada sekitar 106 orang pada Jumat kemarin,” imbuhnya, bersyukur atas solidaritas yang terbangun.

Bagaimana Keadaan di Palembayan Saat Ini?

Data terbaru pada Sabtu (29/11) menunjukkan peningkatan drastis jumlah korban meninggal dunia di Sumatera Barat, dari 23 menjadi 90 orang. Sebanyak 85 orang dinyatakan hilang, dan 10 orang mengalami luka-luka. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, mencapai 74 orang, dengan 27 di antaranya berasal dari Kecamatan Palembayan saja. Selain itu, dari 78 orang yang belum ditemukan di Kabupaten Agam, 69 di antaranya masih dicari di Kecamatan Palembayan.

Pantauan wartawan Halbert Caniago untuk BBC Indonesia pada Sabtu (29/11) melaporkan bahwa akses jalan menuju lokasi bencana belum sepenuhnya terbuka. Beberapa perkampungan masih terisolasi dan belum dapat dijangkau kendaraan roda empat. Untuk mengatasi hambatan ini, beberapa jembatan darurat telah dibangun menggunakan pohon pinang yang diikat dengan kawat berukuran sedang, memungkinkan warga melintasi aliran sungai.

Kapolres Agam, AKBP Muari, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan darurat ini sangat penting. “Dengan begitu, masyarakat yang terisolasi bisa mengangkut bahan makanan untuk dimasak di tempat pengungsian mereka masing-masing,” katanya. Pihaknya juga telah meminta pengerahan alat berat untuk membuka akses jalan yang tertutup tanah dan material longsor. “Ada tiga unit alat berat yang diturunkan untuk bisa membantu proses evakuasi. Mudah-mudahan pada hari berikutnya pencarian bisa lebih lancar dan korban dapat segera ditemukan,” harap Muari.

Berbagai instansi telah terlibat aktif dalam operasi pencarian dan pertolongan korban, meliputi Polda Sumbar, Sat Brimob, Polres Agam, TNI, serta masyarakat setempat yang tak kenal lelah. Wartawan di Sumbar, Halbert Caniago, berkontribusi dalam artikel ini.

Ringkasan

Artikel ini menceritakan kisah Emalina, seorang ibu muda di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, yang berhasil menyelamatkan diri dan ketiga anaknya dari banjir bandang (galodo). Emalina dan keluarganya terpaksa mengungsi setelah rumah mereka hanyut diterjang banjir. Suaminya, David, yang sedang bekerja di luar kota, berjuang menembus lumpur selama tiga jam untuk menemui keluarganya di pengungsian.

Banjir bandang di Sumatera Barat telah menyebabkan peningkatan drastis jumlah korban meninggal dunia. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan korban terbanyak. Akses jalan menuju lokasi bencana masih sulit, dan beberapa perkampungan masih terisolasi. Pihak berwenang dan masyarakat setempat terus berupaya melakukan pencarian korban dan memberikan bantuan kepada para pengungsi.

Leave a Comment