
Impian dan harapan warga di sejumlah kawasan di Aceh yang terdampak parah bencana, ikut hilang disapu banjir atau tertimbun longsor. Di malam tahun baru 2026, mereka dihimpit frustasi dan putus asa lantaran dihadapkan masa depan yang suram. Inilah kisah tiga penyintas di Aceh Utara dan Aceh Tamiang.
Awal tahun 2026, masih menjadi duka bagi penyintas banjir dan longsor di Aceh Utara.
Rencana dan impian mereka ikut tenggelam dalam derasnya arus air dan timpaan gelondongan kayu.
Mereka adalah warga Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Hingga kini mereka masih bertahan dibawah selembar terpal yang disokong sebilah kayu tanpa dinding.
Jika malam, orang-orang harus bertahan dari sergapan udara dingin, dan saat pagi menuju siang mereka harus bertahan dari panas dan kepungan debu jalanan.
“Disini tinggal tiga Kartu Keluarga (KK) dengan jumlah 14 orang, dari sejak hari pertama banjir, kami pulang dari tempat pengungsian lansung di sini,” kata Mulyawati, korban banjir kepada Hidayatullah, wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (31/12).
Mulyawati (35) mengatakan pemerintah harus memberikan perhatian lebih kepada masyarakat Aceh dan utamanya para korban.
Dia menekankan hal itu berulang-ulang, karena semua yang mereka miliki hilang disamun banjir—termasuk rencana dan impian Mulyawati pada tahun 2026.
“Gak tahu ke depannya,” ujarnya dengan nada getir.
“Untuk tahun ini [2026], kami tidak tahu cara mencari rezeki, karena lahan semuanya sudah tidak ada lagi, kebun pun kayak jeruk-jeruk sudah punah semua,” suara Mulyawati terdengar parau.
Sampai saat ini dia dan seluruh anggota keluarganya masih terus bertahan di bawah tenda, sampai batas waktu yang belum diketahui.
“Tidak ada lagi [harta], sudah hilang semua dibawa air, kamipun belum tau sampai kapan ini berakhir, semoga ini segera berakhir,” harap Mulyawati.
Di sepanjang perjalanan menuju Kecamatan Langkahan, dari pantauan wartawan Hidayatullah, terdapat ratusan tenda terpal yang dibangun secara mandiri oleh para korban
Lokasi mereka terbagi di beberapa titik, mulai di tengah kebun kelapa sawit, pinggir jalanan, hingga di samping bantaran sungai.
‘Semua rata dihantam kayu gelondongan, hanya tersisa lima rumah’
Dari halaman musala Desa Geudumbak, lautan hamparan kayu menjadi pemandangan.
Sejumlah eskavator tengah membersihkan kayu di atas jalanan.
Nyaris saban hari ada sejumlah mayat yang tercangkul alat berat itu.
Imam Desa Geudumbak, Saiful (60), mengatakan dulu terdapat banyak rumah di sana.
Tapi sekarang semuanya rata setelah dihantam gelondongan kayu.
“Yang tinggal cuma lima buah rumah, kami 310 orang tidak makan, baru hari ke 10 dapat bantuan dari swadaya masyarakat,” kata Saiful, sambil menunjuk musala tempat mereka semua selamat dari kepungan banjir.
Saiful mempertanyakan apa yang disebutnya sebagai ketidakhadiran pemerintah bagi korban banjir di Aceh dan Sumatra.
Dia lalu berujar bahwa bantuan yang datang hanya “segenggam beras”.
“Aku gak tahu, entah kenapa itu pemerintah Republik Indonesia tidak peduli terhadap orang kami Aceh,” Saiful berkata.
Saiful meminta pemerintah harus memindahkan semua gelondongan kayu ini.
Dia juga menuntut agar rumah-rumah yang hancur harus segera diperbaiki pemerintah.
Demikian pula bendungan yang hancur harus segera diperbaiki.
“Supaya masyarakat kembali bertani di sawah-sawah, biar kami mendapat makanan. Kalau tidak dibangun pintu air, mungkin masyarakat kelaparan,” tandas Saiful, yang rumahnya juga luluhlantak akibat diterjang banjir.
Kisah relawan berjibaku atasi kelaparan di Aceh Utara
Cerita-cerita tentang anak-anak yang lepas dari gendongan ibunya dan hilang disapu banjir itu masih bersemayam di benak Pujo Waluyo (41), seorang relawan.
Nyawa manusia tidak ada harganya, lebih mahal nyawa ayam, ujarnya.
Dari fakta seperti itulah, Pujo Waluyo (41) dan 24 orang dari kelompok relawan Rakyat Banting Tulang (RBT), berjibaku menembus tiga wilayah kabupaten di Aceh/
Tujuannya jelas, yatu menghantar pasokan makanan.
Pujo Waluyo kemudian bersaksi, di awal-awal banjir menerjang, banyak orang bertahan di atas pohon kelapa sawit selama berhari-hari—dengan kondisi badan basah dan tanpa makanan.
“Kami galang donasi untuk beli beras, mempertahankan yang masih hidup, mungkin yang sudah dibawa air ya sudah, tapi yang hidup harus tetap hidup, harus kita suplai logistik,” ujar Pujo.
Pujo Waluyo berkata korban banjir di wilayah Langkahan harus segera direlokasi.
Jika tidak, sama saja seperti kita membunuh mereka semua, katanya dengan nada tegas.
“Gak usah hitungan hari, jika hujan lagi selama tiga jam, orang itu bisa tersapu air. Siang kerja bersihkan rumah, malam otomatis lelah sekali dan terlelap. Begitu hujan lagi gak sempat lari, dahsyat sekali [kalau banjir susulan],” papar Pujo Waluyo. Mata Pujo terlihat memerah.
Di sinilah Pujo Waluyo lalu menuntut agar pemerintah harus cepat memindahkan korban dari lokasi bencana.
Alasannya, mereka tinggal dalam tenda-tenda yang didirikan di lokasi yang rentan diterjang banjir susulan.
Pujo lalu menarik napas panjang. Kali ini dia mengaitkan banjir dan longsor itu dengan perusakan lingkungan yang masif.
“Hutan sudah alih fungsi ke lahan sawit, alih fungsi ke kebun. Kalau dulu kita merambah menggunakan parang dan butuh waktu ratusan tahun, kali ini menggunakan alat berat, hitungan detik ratusan hektar hutan bisa dibabat,” katanya.
‘Tahun 2025 paling pedih, habis semua barang kami’
Sejumlah umat Kristen di Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, menyambut malam pergantian tahun dengan tetesan air mata.
Sebulan setelah banjir dan longsor menghancurkan Aceh Tamiang, banyak warga yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Alih-alih merayakan tahun baru, dapat makan seadanya sudah membuat para penyintas sudah bersyukur.
“Ya mau kayak mana kita bilang, kita enggak punya apa-apa. Cuma makan saja ya syukur,” ujar Mesra Rajagukguk (53), seraya sesenggukan di rumahnya yang nyaris roboh, Rabu (31/12).
“Ini kayak mana mau kita rayakan tahun baru, sementara tempat kita pun kondisi kita pun kayak gini, jadi mau bagaimana dibilang,” tambah Mesra kepada wartawan Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Mesra adalah penyintas banjir yang menerjang tiga provinsi di Sumatra pada akhir November 2025 lalu.
Kala itu, ia dan anak-anaknya berhasil menyelamatkan diri dengan menyewa perahu seharga Rp20 ribu per orang saat air sudah nyaris menyentuh kepala.
Hampir semua harta Mesra ludes, termasuk pakaian dan dokumen-dokumen penting.
Banjir juga menyebabkan rumah yang dia bangun 16 tahun lalu terangkat dari pondasi dan nyaris hanyut dibawa air.
Memasuki tahun baru 2026, Mesra berpikir bahwa tahun 2025 merupakan yang paling berat.
Ia bukan hanya kehilangan harta benda, namun juga pasangan hidup. Tepat 24 hari sebelum bencana ini terjadi, suaminya meninggal dunia karena sakit.
“Baru hampir dua bulan suami meninggal. Ya berdua saja lah [sekarang] di rumah sama anak-anak,” ungkapnya dengan nada getir.
Sebelumnya, keluarga Mesra mengais rezeki dengan berdagang sayur. Namun sumber mata pencaharian itu sekarang terhambat lantaran sepetak ladang mereka ikut hancur dihantam banjir.
Kini, Mesra melanjutkan hidup bersama tiga anaknya di rumah semi permanen yang nyaris roboh dan sudah tidak berpintu.
Di sini mereka tidur beralaskan karpet di atas lantai tanah. Demi mengusir nyamuk, Mesra membakar kayu tepat di sebelah tempat tidur.
Sejak bencana terjadi, keluarga Mesra terpaksa bergantung hidup dari uluran tangan dermawan.
Di rumahnya, terdapat beberapa bungkus mi instan dan telur ayam, makanan paling sering mereka konsumsi kurun sebulan terakhir.
Dalam kondisi tersulit, mereka bahkan terpaksa hanya makan nasi dengan garam.
“Ya, kayak mana lah kita bilang, bang. Ya kita jalani lah hidup ini. Ini kan cobaan semua dari Tuhan itu. Karena bukan cuma kita yang kena bencana, semua hampir rata kan? Jadi kayak mana lah, karena sudah kondisi kita kayak gini, ya, apa adanya lah. Kita jalani saja hidup ini,” paparnya.
Mesra dan anak-anaknya tidak sendiri. Nasib serupa juga dialami banyak warga lainnya.
Salah-seorang di antaranya adalah Sahat Sitohang, pedagang sayur berusia 55 tahun.
Bagi Sahat, ini adalah malam pergantian tahun paling menyedihkan.
“Ya, inilah. Sangat sedih lah dibilang, cemana. Sebenarnya mau pulang kampung. Cuma keadaan kayak gini, ya, tahankan sini lah. Lagipun rumah belum beres dibersihkan semua. Kain-kain belum beres. Itu saja,” ujarnya.
Senasib dengan Mesra, Sahat juga baru saja kehilangan pasangan hidup.
Istrinya meninggal dunia pada tahun lalu. Sejak saat itu, Sahat tinggal berdua bersama anaknya, Leo Sitohang (23).
“Pedih tahun ini, bang. Banjir semua. Habis semua,” ujar Leo.
Aceh Tamiang termasuk kabupaten di Provinsi Aceh yang mengalami dampak terparah akibat banjir bandang dan tanah longsor.
Hingga 31 Desember 2025, BNPB mencatat jumlah warga yang ditemukan meninggal dunia di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai 101 orang.
Selain itu, bencana ini juga mengakibatkan 114,9 ribu orang di kabupaten ini terpaksa mengungsi.
Wartawan Hidayatullah di Aceh Utara dan wartawan Nanda Fahriza Batubara di Aceh Tamiang melakukan reportase dan menuliskannya.
- ‘Mendengar hujan dan petir, kami masih ketakutan’ – Natal dan Tahun Baru warga Adiankoting Sumut di tengah trauma banjir-longsor
- Penyintas banjir di Aceh Tengah manfaatkan kayu gelondongan jadi perahu
- Kesaksian kaum muda Kampung Serule di Aceh Tengah menyelamatkan warga dari kelaparan