
Ketegangan semakin meningkat di Iran seiring unjuk rasa terkait biaya hidup yang melonjak. Hingga saat ini sejumlah laporan menyebut munculnya korban luka dan tewas pada hari kelima demonstrasi bergulir. Kurs mata uang Iran pun turut ambruk.
Video yang diverifikasi oleh BBC Persia memperlihatkan protes menyebar di kota pusat Lordegan, Tehran, dan Marvdasht di Provinsi Fars, pada 1 Januari lalu.
Kantor berita Fars memberitakan dua orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan di Lordegan, yang berada di barat daya Iran.
Kelompok hak asasi manusia Hengaw menyebut dua orang yang tewas di Lordegan tersebut merupakan demonstran bernama Ahmad Jalil dan Sajjad Valamanesh.
Laporan lain juga menyebutkan tiga orang tewas di Azna, di dekat Lorestan. Namun belum bisa dipastikan korban tewas merupakan demonstran atau aparat keamanan. BBC Persia belum dapat memverifikasi secara independen kematian tersebut.
Pada 1 Januari lalu, sejumlah video di media sosial menunjukkan mobil-mobil dibakar selama bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Media milik pemerintah melaporkan seorang anggota pasukan keamanan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tewas dalam bentrokan dengan demonstran pada malam pergantian tahun, 31 Desember lalu, di kota Kouhdasht.
Selain itu, sebanyak 13 anggota polisi dan anggota Basij yang merupakan bagian dari IRGC terluka akibat lemparan batu di wilayah tersebut, menurut laporan media pemerintah.

Para demonstran turun ke jalan untuk menuntut agar pemimpin tertinggi negara itu mundur. Beberapa orang juga terdengar menuntut pemberlakuan lagi sistem monarki.
Rentetan aksi protes di Iran ini dimulai dari kemarahan para pedagang di Tehran. Pemicunya adalah nilai mata uang Iran yang melemah terhadap dolar AS di pasar terbuka. Protes kemudian merembet ke berbagai lini.
Pada 30 Desember lalu, para mahasiswa ikut terlibat dan demonstrasi makin meluas ke beberapa kota. Sehari setelahnya, sekolah, universitas, dan lembaga publik ditutup di seluruh Iran.
Melalui pernyataan resmi, pemerintah Iran menyebut penutupan tersebut dilakukan dengan alasan penghematan energi akibat cuaca dingin. Namun, banyak warga Iran memandang ini sebagai upaya untuk mengendalikan massa dan meredam kerusuhan.
Gelombang demonstrasi kali ini merupakan aksi yang paling luas sejak pemberontakan pada 2022 karena kematian seorang perempuan muda bernama Mahsa Amini.
Saat itu, aksi terjadi usai Amini meninggal di dalam tahanan akibat tuduhan polisi moral tentang pemakaian jilbab yang tidak sesuai aturan. Akan tetapi, unjuk rasa kala itu skalanya tidak sebesar sekarang.
Untuk mencegah eskalasi, keamanan diperketat di Tehran yang menjadi titik mula demonstrasi.
Presiden Masoud Pezeshkian berkata pemerintahannya akan mendengarkan “tuntutan yang sah” dari para demonstran.
Namun, Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad juga memperingatkan bahwa upaya untuk menciptakan ketidakstabilan akan dibalas dengan “tanggapan yang tegas”.
Respons aparat keamanan dan ancaman dari Trump
Merebaknya demonstrasi ini direspons dengan berbagai penangkapan oleh aparat keamanan Iran.
Ketua Mahkamah Agung Provinsi Lorestan, Saeed Shahvari, mengumumkan penangkapan sejumlah demonstran beberapa hari terakhir di kota Azna dan Delfan. Namun, Shahvari tidak menyebutkan jumlah tahanan yang ada.
Ia hanya berkata telah memerintahkan kepala keadilan dan jaksa penuntut umum serta jaksa revolusioner di dua kota tersebut untuk “mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap para perusuh dan pada mereka yang mengganggu ketertiban dan keamanan publik.”
Sejak kemarin, banyak gambar demonstrasi bertebaran. Salah satunya demonstrasi yang terjadi di Azna.
Media massa di Iran melaporkan selama demonstrasi tersebut, markas polisi diserang sehingga menyebabkan “tiga orang tewas dan 17 luka-luka.”
Kantor berita Fars menulis, “Sekelompok perusuh memanfaatkan kerumunan demonstrasi di Azna dan menyerang markas polisi, menggunakan berbagai senjata tajam dan panas untuk melucuti senjata petugas dan menyerang gudang senjata.”

Dalam situasi ini, Presiden AS Donald Trump tiba-tiba mengeluarkan peringatan pada Iran.
Trump menulis di pelantar media sosial Truth Social, “Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, seperti kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menolong mereka. Kami siap mengambil tindakan.”
Sebelumnya, laman Persia dari Departemen Luar Negeri AS juga menanggapi aksi protes di Iran.
Melalui unggahan di X, lembaga itu menyebut, “sangat prihatin dengan laporan dan video yang menunjukkan bahwa demonstran damai di Iran menghadapi intimidasi, kekerasan, dan penangkapan. Menuntut hak dasar bukanlah kejahatan. Rezim Republik Islam harus menghormati hak-hak rakyat Iran dan menghentikan penindasan.”

Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menanggapi sikap Trump yang mendukung para demonstran. Ia bilang klaim AS tentang “kasih sayang terhadap rakyat Iran” tidak sesuai dengan catatan sejarah tindakan negara tersebut terhadap orang-orang Iran.
Dalam pesan di platform media sosial X, Baghaei menuduh AS “mengorganisir kudeta 19 Mordad 1953 terhadap pemerintah terpilih Dr. Mohammad Mossadegh.”
Dia juga menuding AS pernah “menembak jatuh pesawat penumpang Iran pada 1988 dan membunuh perempuan dan anak-anak tak bersalah”.
Baghaei menulis pula, AS “sepenuhnya mendukung Saddam Hussein dalam perang delapan tahun.” Kini, Trump mengancam akan menyerang “dengan dalih belas kasihan terhadap orang Iran.”
Baghaei pun menekankan bahwa “orang Iran tidak akan membiarkan intervensi asing dalam dialog dan interaksi mereka untuk menyelesaikan masalah.”
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menafsirkan sikap Trump terhadap protes di Iran mengindikasikan keterlibatan AS dalam protes tersebut.
Larijani juga berkata “latar belakang di balik layar telah menjadi jelas.” Apalagi pasca peringatan Trump tersebut.
Larijani menulis di akun media sosial X miliknya, “Dengan sikap pejabat Israel dan Trump, latar belakang insiden tersebut menjadi jelas. Kami menganggap posisi pengusaha yang berdemonstrasi terpisah dari unsur-unsur destruktif.”
Ia juga menambahkan, “Trump harus tahu bahwa campur tangan Amerika dalam masalah internal ini setara dengan kekacauan di seluruh wilayah dan menjadi kehancuran kepentingan Amerika.”
Penasihat Pemimpin Republik Islam, Ali Shamkhani, juga menanggapi pernyataan Trump dengan berkata: “Rakyat Iran tahu betul pengalaman menyelamatkan orang Amerika; dari Irak dan Afghanistan hingga Gaza.”
Pada akun media sosial X-nya, Shamkani juga menuliskan: “Setiap tangan intervensionis yang mendekati keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dipotong sebelum tiba. Keamanan nasional Iran adalah garis merah, bukan panggung untuk cuitan yang provokatif.”
Bagaimana tanggapan oposisi?
Gambar yang dirilis dari kota Zahedan menunjukkan peserta salat Jumat pada 3 Januari, meneriakkan slogan protes sebagai bentuk solidaritas untuk para demonstran dari kota-kota lain di Iran.
Foto yang diperoleh BBC, serta gambar-gambar mengerikan lainnya, menampilkan juga para jamaah meneriakkan slogan seperti “Warga Iran, teriakkan hak-hakmu” dan “Mati bagi diktator” setelah meninggalkan masjid Zahedan.
Mawlavi Abdul Hamid Esmailzahi, pemimpin shalat Jumat di Zahedan, menyampaikan dalam khotbah salat Jumat pekan ini, “Hidup dan mata pencaharian rakyat Iran telah mencapai jalan buntu.”
“Rakyat berhak mengadakan protes damai, dan petugas tidak boleh menangani demonstran dengan kekerasan,” tuturnya.
Apa yang disampaikan Esmailzahi ini merujuk pada rentetan unjuk rasa baru-baru ini.
Ia juga menyampaikan, “Kita semua adalah orang Iran. Hari ini, orang-orang kelaparan, dan bahkan beberapa kapitalis menghadapi masalah serius. Pejabat harus mendengarkan suara bangsa dan berpikir secara mendasar.”
Esmailzahi mengkritik rencana pembagian kupon oleh pemerintah.
“Program-program semacam itu tidak berguna. Pejabat harus melihat apa yang diinginkan rakyat. Cara dan kehendak rakyatlah yang menjadi patokan, dan tidak ada yang boleh memaksakan pandangan dan keinginan mereka pada rakyat,” tuturnya.
Mehdi Karroubi, kritikus politik dan mantan ketua parlemen Iran, mengkritik jumlah anggaran yang dialokasikan untuk “institusi agama dan pemerintah. Karroubi menyebutnya sebagai “pencurian harta negara.”
“Saya terkejut bahwa Dr. Pezhakian, dalam kondisi keuangan yang sulit dan situasi perang seperti ini, telah menyerah sehingga berani untuk merampok atau memboroskan kekayaan negara dengan cara ini,” ujar Karroubi.
Karroubi, yang dibebaskan dari tahanan rumah kurang dari setahun lalu, menyinggung presiden: “Dia harus menghentikan praktik mencari keuntungan dari lembaga-lembaga yang menghabiskan anggaran negara dan tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi negara,”
“Sebagai ulama, saya malu kepada rakyat karena anggaran yang diberikan kepada individu-individu berkedok lembaga keagamaan dan budaya,” ujarnya.
- AS gabung dengan Israel serang Iran akan ciptakan ‘malapetaka’ – Bagaimana posisi UK?
- AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, apa dampaknya dan bagaimana Iran akan membalas?
- Bagaimana cara pesawat siluman B-2 menyerang fasilitas nuklir Iran?