
China yang merupakan negara utama pembeli minyak mentah Venezuela,mengecam serangan Amerika Serikat (AS) sekaligus penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Pemerintah China menilai AS sudah melanggar hukum internasional.
Dikutip dari Bloomberg pada Minggu (4/1), Negeri Tirai Bambu tersebut merupakan pembeli minyak mentah terbesar sekaligus kreditur utama bagi Venezuela.
“China dengan tegas mengecam penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh AS terhadap negara berdaulat serta tindakan terhadap presidennya. Tindakan AS tersebut secara serius melanggar hukum internasional dan kedaulatan Venezuela, serta mengancam perdamaian dan keamanan di kawasan Amerika Latin dan Karibia. China dengan tegas menentangnya,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China.
China tercatat tak lagi mengimpor minyak mentah Venezuela per Maret 2025. Namun demikian, data pihak ketiga dan pelacakan kapal menunjukkan adanya aliran minyak dari Venezuela ke China yang kuat sepanjang tahun lalu.
Di China, kilang independen yang dikenal sebagai ‘teapots’ menjadi pembeli utama minyak Merey dari Venezuela. Minyak Merey merupakan minyak mentah berat yang biasanya digunakan untuk memproduksi bitumen untuk pengaspalan jalan.
Minyak Merey ditawarkan dengan diskon besar dibandingkan jenis minyak sekelasnya, sehingga menarik bagi para kilang di China yang menghadapi margin keuntungan yang sangat tipis.
Terkait distribusi, pengiriman minyak Venezuela dinilai menempuh jalur yang tidak lazim ke China. Pengangkutan biasanya memakan waktu lebih dari dua bulan dan melibatkan beberapa kali pemindahan muatan dari kapal ke kapal untuk menyamarkan asal kargo.
Sementara terkait peran China sebagai kreditur utama Venezuela, data publik menyebut perkiraan bahwa China telah menyalurkan pinjaman berbasis minyak senilai lebih dari USD 60 miliar kepada Venezuela melalui bank-bank milik negara hingga 2015. Angka tersebut menjadi mencapai tingkat investasi diplomatik dan finansial yang tertinggi di Amerika Latin, bahkan mungkin di dunia.
China sudah menjadi pemberi kreditur utama bagi Venezuela sejak 2007. Hal ini dimulai ketika China untuk pertama kalinya menyediakan dana untuk proyek infrastruktur dan minyak pada masa Presiden Hugo Chávez.

Selain China, Brasil, Rusia, Kolombia, Meksiko, dan Kuba juga mengecam operasi militer AS di Venezuela tersebut. Rusia memberi rasa prihatin yang mendalam serta mengecam sementara Presiden Brasil, Lula da Silva menyebut AS sudah melewati batas.
“Tindakan ini mengingatkan pada episode terburuk campur tangan dalam politik Amerika Latin dan Karibia dan mengancam untuk merusak status kawasan tersebut sebagai zona perdamaian,” tulis presiden Brasil di X.
Selain itu, Presiden Kolombia Gustavo Petro kini juga tengah berupaya untuk mengadakan pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk menolak agresi AS terhadap kedaulatan Venezuela. Hal ini juga didukung oleh Brasil, Rusia dan Meksiko.
Sementara pemimpin Kiba yakni Miguel Diaz-Canel sudah menyerukan agar komunitas internasional mengambil sikap terhadap serangan AS ke Venezuela yang disebutnya sebagai serangan kriminal.