
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan pada Minggu (4/1) bahwa AS kini “mengendalikan” Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Meski demikian, Washington juga mulai berkomunikasi dengan kepemimpinan baru di Caracas.
Trump mendapat banyak pertanyaan terkait pernyataannya yang berulang kali menyebut Washington kini menjalankan Venezuela, menyusul operasi militer AS yang menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1) dini hari.
Maduro dituduh memberi dukungan pada kelompok-kelompok perdagangan narkoba besar, seperti Kartel Sinaloa dan Geng Tren de Aragua. Ia membantah tuduhan-tuduhan itu.

Jaksa Penuntut mengatakan, Maduro mengarahkan rute perdagangan kokain, menggunakan militer sebagai perlindungan pengiriman, melindungi kelompok-kelompok perdagangan narkoba, dan menggunakan fasilitas kepresidenan untuk memindahkan narkoba.
Rentetan tuduhan itu pertama kali diajukan pada 2020, kemudian diperbarui pada Sabtu (3/1) untuk menjebloskan sang istri, Celia Flores dengan tuduhan memerintahkan penculikan dan pembunuhan.
“Kami berurusan dengan orang-orang yang baru saja dilantik. Jangan tanya siapa yang berkuasa, karena jawabannya akan sangat kontroversial,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One saat ditanya apakah ia telah berbicara dengan Rodriguez.

Ketika didesak untuk menjelaskan, Trump menambahkan, “Artinya kami yang memegang kendali.”
Pemerintahan Trump menyatakan bersedia bekerja sama dengan sisa pemerintahan Maduro, selama kepentingan Washington terpenuhi. Salah satu fokusnya adalah membuka akses investasi AS ke cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar.
Saat ditanya apakah operasi tersebut bertujuan menguasai minyak atau mengganti rezim, Trump menjawab, “Ini tentang perdamaian dunia.”
Hal senada disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Dalam wawancaranya bersama NBC, ia menegaskan Washington tidak berniat melakukan perubahan rezim secara penuh atau langsung menggelar pemilu.
Trump: Rezim Kuba Siap Runtuh
Trump menyebut, rezim berkuasa di Kuba akan segera tumbang.
Venezuela adalah sekutu dekat Kuba. Serangan AS ke Venezuela berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
“Kuba sudah siap runtuh,” kata Trump pada Minggu (4/1).
Meski demikian, Trump menampik akan meluncurkan serangan ke Kuba seperti yang dilakukan di Venezuela.
Ancam Akan Kembali Serang Venezuela
Donald Trump akan melancarkan serangan lain terhadap Venezuela jika mereka tak mau kerja sama.
Kerja sama yang dimaksud Trump ialah kesediaan pemerintahan sementara Venezuela dalam membuka industri minyak AS dan menghentikan perdagangan narkoba.
Trump juga mengancam akan melancarkan operasi militer di Kolombia dan Meksiko, dengan menyebut rezim komunis Kuba “tampaknya siap runtuh” dengan sendirinya.
Atas hal itu, Kedutaan Besar Kolombia dan Meksiko di Washington belum memberikan tanggapan.

Rencana Trump itu disampaikan menjelang kehadiran Presiden Venezuela Nicolas Maduro di pengadilan AS di New York yang dijadwalkan pada Senin (5/1) waktu AS. Pascaoperasi penggerebekan militer di Caracas pada Sabtu (3/1), Maduro ditahan.
Para pejabat pemerintahan Trump menilai, penangkapan itu sebagai sebuah tindakan penegakan hukum untuk meminta pertanggungjawaban Maduro atas tuduhan konspirasi narkoterorisme pada 2020.
Meski begitu, Trump menegaskan faktor lain turut berperan. Penggerebekan itu disebut dipicu oleh masuknya imigran Venezuela ke AS dan keputusan negara itu untuk menasionalisasi kepentingan minyak AS beberapa dekade lalu.
Trump mengatakan perusahaan minyak akan kembali ke Venezuela dan membangun kembali industri perminyakan negara. “Mereka akan menghabiskan miliaran dolar dan akan mengambil minyak dari dalam tanah,” kata dia.