
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela belum memengaruhi pasokan maupun harga minyak mentah (crude) untuk Indonesia.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas ESDM), Laode Sulaeman, menyebutkan pemerintah masih mengamati situasi yang tengah memanas dan berdampak pada produksi minyak mentah global tersebut.
“Kita masih mengamati situasinya. Ya harus jaga kestabilan, jadi nanti kana ada pemberitahuan resmi dari jajaran pemerintah yang lebih tinggi, misalnya Pak Menteri (ESDM),” katanya saat ditemui di kantor BPH Migas, Senin (5/1).
Laode mengatakan, pemerintah juga akan menganalisis dampak konflik terhadap harga BBM non subsidi di Indonesia yang sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah global. Namun, kata dia, saat ini kondisinya masih stabil.
“Kita akan analisis, tapi yag jelas kondisi di dalam negara saat ini stabil, jadi tidak ada pengaruh apa-apa. Antisipasi selalu ada,” tegasnya.
Selain dari sisi harga, dia juga menjamin pasokan minyak mentah yang diimpor Indonesia juga belum terdampak, sebab tidak dipasok dari Venezuela.
Adapun Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia dengan estimasi 303 miliar barel. Berdasarkan data OPEC, jumlah cadangan minyak yang dimiliki Venezuela melampaui cadangan minyak milik Arab Saudi dan AS.

Venezuela secara konsisten memproduksi lebih dari 3 juta barel per hari (bpd) sepanjang akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an. Namun, kurangnya investasi dan sanksi AS mengurangi produksi menjadi antara 1 dan 1,2 juta bpd pada 2025.
“Kita sumber crude-nya tidak dari sana, dari wilayah lain. Jadi masih stabil. Pada saat hari ini kita belum melihat (kenaikan), tidak signifikan, kita pantau dulu,” ujar Laode.
Sebelumnya, AS menyerang Venezuela sekaligus menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kondisi tersebut bisa saja berdampak kepada pergerakan harga minyak dunia.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai kejadian tersebut juga tidak akan meningkatkan harga minyak dunia dalam jangka pendek.
“Saya tidak melihat faktor Venezuela akan menaikkan harga minyak dalam jangka pendek karena selain produksi minyak sekarang surplus 3 juta barel per hari (bpd), produksi minyak Venezuela hanya 1 persen dari total produksi minyak dunia,” kata Fabby saat dihubungi, Minggu (4/1).
Sementara itu, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memastikan aset minyak mereka yang berada di Venezuela tak terkena dampak konflik AS dan Venezuela. PIEP merupakan pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 71,09 persen perusahaan Maurel & Prom (M&P). Salah satu aset yang dikelola oleh M&P berada di Venezuela, yakni Urdaneta Oeste Field.
“Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela,” kata Manager Relations Pertamina Internasional EP (PIEP) Dhaneswari Retnowardhani dalam keterangan tertulis, Senin (5/1).