
Kita Tekno – – Keputusan Manchester United memecat Ruben Amorim kembali memantik perdebatan di kalangan pelatih Liga Premier. Kali ini, kritik datang dari manajer Tottenham Hotspur, Thomas Frank, yang secara terbuka mempertanyakan arah kebijakan Setan Merah.
Ia juga menyinggung absennya prinsip keberlangsungan yang menurutnya justru menjadi kunci sukses klub-klub elite Inggris. Frank bukan sosok asing bagi United. Ia sempat diwawancarai untuk posisi manajer pada musim panas 2024, saat Erik ten Hag masih memimpin.
Namun, mantan pelatih Brentford itu akhirnya tetap bertahan di London barat, sementara United memilih menunjuk Amorim pada November 2024.
Empat belas bulan kemudian, dengan catatan 23 kekalahan dan sejumlah pernyataan jujur yang kontroversial, Amorim diberhentikan dari jabatannya.
Nggak Pikir Panjang! Eks Persija Ramon Bueno Langsung Terima Pinangan Persita Tangerang
Melansir Sports Illustrated, di tengah situasi tersebut, Frank—yang ironisnya juga tengah menghadapi keraguan soal masa depannya di Tottenham setelah baru enam bulan menjabat—menyerukan pentingnya kesabaran dalam membangun klub.
“Menurut saya, ini hanyalah contoh lain dari sudut pandang saya bahwa sangat sulit untuk mencapai kesuksesan berkelanjutan jika Anda mengganti personel kunci di klub, seperti pelatih kepala, seperti direktur olahraga,” kata Frank kepada media pada hari pemecatan Amorim.
“Saya pikir jika Anda merasa memiliki orang yang tepat dan selaras, Anda perlu melakukannya dalam jangka waktu yang lama.”
Frank kemudian menyinggung fakta kontrak jangka pendek yang kini kembali terjadi di Liga Premier.
Prediksi Taktik dan Formasi Chelsea di Bawah Era Kepelatihan Liam Rosenior
“Jadi sekarang ada dua klub dengan kontrak satu setengah tahun. Sekali lagi, saya tidak menghakimi, saya hanya mengatakan bahwa itu memang fakta dalam hal itu, mungkin ada banyak alasan untuk itu, saya hanya tidak tahu.”
Ia juga menggambarkan kerasnya dunia sepak bola modern dengan kalimat yang terasa sangat relevan bagi Amorim.
“Di dunia sepak bola yang fantastis dan indah ini, jika Anda menang dan bermain bagus suatu hari nanti, Anda berada di surga, tetapi jika Anda kalah dan tidak bermain bagus, Anda berada di neraka.”
Bagi Frank, perbedaan antara klub yang stabil dan yang terus bergejolak terletak pada keselarasan internal.
“Klub-klub terbaik, mereka selaras, kepemilikan, kepemimpinan, dan pelatih kepala, dari waktu ke waktu, dan Anda mengesampingkan kebisingan, dan Anda melihat kemajuan di baliknya.”
“Itu naik turun, dan mudah-mudahan dari waktu ke waktu, semakin naik, lalu Anda mencapai sesuatu yang besar bersama-sama. Tiga contoh terbesar dan terbaru dari itu, tentu saja, adalah Liverpool, Manchester City, dan Arsenal.”
Menariknya, salah satu pemilik United, Sir Jim Ratcliffe, juga pernah menunjuk Mikel Arteta sebagai contoh ideal keberlangsungan kepemimpinan.
Arteta sempat finis di posisi kedelapan bersama Arsenal sebelum akhirnya membangun The Gunners menjadi penantang gelar yang konsisten.
Namun, Amorim justru dipecat setelah secara terbuka mempertanyakan hierarki klub dan meminta pengaruh lebih besar dalam urusan transfer.
Ogah Jadi Pelatih! Terungkap Rencana Lionel Messi Setelah Gantung Sepatu
Pep Guardiola dan Dukungan untuk Amorim
Thomas Frank bukan satu-satunya manajer yang dimintai pendapat soal kepergian Amorim. Pep Guardiola dari Manchester City memilih bersikap lebih hati-hati, namun tetap menyampaikan respek dan dukungannya.
“Saya tidak bisa mengatakan apa pun karena menghormati para pemain dan institusi Chelsea dan Manchester United,” ujar Guardiola pada hari Selasa, sambil menyinggung pemecatan Enzo Maresca yang juga baru terjadi.
“Yang bisa saya katakan hanyalah Ruben adalah manajer top. Keputusan telah dibuat oleh tetangga kami, tetapi saya berharap Ruben sukses di masa depan.”
Guardiola sendiri pernah menjelaskan perbedaan mendasar antara City dan United, terutama soal keselarasan visi.
Pada Oktober 2023, ia menyebut: “Kita berada di arah yang sama, ketua, CEO, direktur olahraga, manajer, dan para pemain. Benar atau salah, kita akan menuju ke sana.” Sebuah kondisi yang, dalam kasus Amorim, tampaknya tidak pernah benar-benar tercapai di Old Trafford.
Sementara itu, Nuno Espírito Santo dari West Ham United memberikan respons paling emosional.
“Seperti semua orang, saya terkejut dan sedih,” katanya.
“Dia orang Portugal [seperti saya]. Dia manajer muda, tetapi begitulah adanya—saya pikir kita menyadari bahwa begitulah cara industri ini bekerja.”
Seperti yang disiratkan Thomas Frank, tidak semua klub memilih jalan yang sama dalam menghadapi tekanan. Dalam kasus Manchester United, pemecatan Ruben Amorim kembali membuka pertanyaan lama: seberapa jauh kesabaran benar-benar diberi ruang di Old Trafford?