
Seorang pendaki dinyatakan masih hilang di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Operasi pencarian oleh tim penyelamat dihentikan setelah terkendala medan dan cuaca yang berat. Mengapa metode pendakian cepat alias tektok membutuhkan kesiapan yang matang?
Sampai Jumat (09/01) pagi, pendaki bernama Syafiq Ridhan Ali Razan (18) belum ditemukan.
Tim SAR sebelumnya telah menghentikan proses pencariannya pada Rabu (07/01) sore.
Adapun temannya sesama pendaki, Himawan Choidar Bahran, telah ditemukan dalam kondisi selamat.
Dua pendaki ini dilaporkan mendaki Gunung Slamet di Jawa Tengah pada Sabtu (27/12) malam, dengan menggunakan metode ‘tektok’.
Tektok adalah istilah pendakian secara cepat ke puncak gunung.
Biasanya pendakian seperti ini dilakukan para penghobi trail run dengan memakan waktu seharian.
Apa tantangan dan kendala selama operasi pencarian?
Seharusnya, kedua pelajar SMA di Magelang, Jateng, ini tiba ke basecamp pada Minggu (28/12) sore, tetapi kenyataannya tidak.
Keduanya berencana ke puncak Gunung Slamet—memiliki ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl)—dari basecamp Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Jateng.
Gunung Slamet memiliki pos pendakian di lima kabupaten, yakni Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga.
Masing-masing pos pendakian biasanya dikelola dengan mencatat para pendaki.
Anggota Basarnas Semarang Unit SAR Pemalang, Handika Hengki, mengatakan Himawan dan Syafiq sudah mendaftarkan diri sebelum naik secara tektok.
Karena itulah, ketika dua orang itu belum turun sesuai jadwal, maka tim dari basecamp mencari keduanya, kata Handika.
“Awalnya, justru yang ketemu adalah Himawan. Dia ditemukan sendirian di luar jalur pendakian sekitar pos 9,” jelas Handika Hengki, kepada wartawan Lilik Darmawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (08/01).
Menurut Handika, Tim SAR gabungan yang didukung oleh para relawan melakukan pencarian di jalur Dipajaya ke arah puncak Gunung Slamet hingga kawasan Gunung Malang ke arah Purbalingga.
“Ada sekitar 150 orang yang melaksanakan SAR dan telah menelusuri lokasi-lokasi dari puncak melewati pos-pos pendakian hingga sampai basecamp,” ungkap Handika
Handika mengatakan, salah satu kendala adalah survivor (Syafiq) tidak membawa apa-apa, sehingga kesulitan untuk mencari jejaknya.
Sebab, berdasarkan pengakuan Himawan, Syafiq berangkat ke basecamp karena ingin mencari bantuan. “Himawan ditinggal karena mengalami cedera kaki,” katanya.
“Jadi kemungkinan Syafiq ke bawah dengan tergesa-gesa juga mencari pertolongan. Karena Himawan mengalami cedera kaki. Malah yang ditemukan justru Himawan, sedangkan Syafiq tidak diketahui,” Handika bercerita.
‘Bertemu macam kumbang’
Sebetulnya, pencarian telah dilakukan di berbagai lokasi yang dicurigai, namun hingga rampung SAR, survivor belum dapat ditemukan, ungkap Handika.
“Bahkan, dua kali Tim SAR bertemu dengan macan kumbang pada saat pencarian,” katanya.
Mereka bersua hewan buas itu dua kali yaitu di sekitar sungai yang mengarah ke Gunung Malang.
“Kami cukup terkejut juga dengan peristiwa itu,” ujarnya.
Dia mengaku tim SAR telah bekerja sepenuhnya untuk melaksanakan pencarian terhadap survivor.
Handika kemudian mengungkap kendala cuaca buruk selama proses pencarian, yaitu kabut, hujan dan badai.
“Ketika cuaca buruk terjadi, maka harus benar-benar berhati-hati, karena lembah yang curam tidak kelihatan. Biasanya pencarian dihentikan saat cuaca buruk terjadi demi keselamatan Tim SAR,” tambahnya.
Tim SAR juga menyisir dari pos-pos pendakian lainnya seperti Bambangan, Gunung Malang, dan Pos Jurangmangu.
Mengapa operasi pencarian dihentikan?
Setelah memakan waktu lebih dari sepekan, proses pencarian Syafiq akhirnya dihentikan pada Rabu (07/01) sore.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemalang, Agus Ikmaludin, menjelaskan operasi SAR ditutup dan dilanjutkan dengan pemantauan.
“Sudah dialihkan ke pemantauan dan apabila dilakukan pencarian dilaksanakan secara mandiri,” kata Agus Ikmaludin, seperti dikutip Detikcom, Kamis (08/01).
Secara terpisah, Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Muhammad Chomsul, mengatakan tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda jejak survivor.
Dia mengatakan, Tim SAR telah berupaya keras melakukan penyisiran di sejumlah titik, namun akhirnya pendaki bernama Syafiq Ridhan Ali Razan (18) belum ditemukan hingga batas akhir.
“Operasi SAR resmi ditutup…Namun, dapat dibuka kembali apabila terdapat informasi baru yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Chomsul saat dikonfirmasi, Senin (05/01), seperti dikutip Kompas.com.
Sementara, Kepala BPBD Jateng, Bergas C. Pananggungan, mengungkap sejumlah faktor yang mempersulit operasi SAR selama delapan hari.
Mulai dari kondisi cuaca, hingga luasan gunung Slamet yang membentang di lima kabupaten, yakni Pemalang, Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Brebes.
“Jalur pendakian dan cabang jalurnya banyak, sehingga identifikasi perkiraan posisi korban tidak mudah. Belum lagi cuaca dan medan jalur yang terjal,” jelas Bergas.
Seberapa aman pendakian dengan cara ‘tektok’?
Dua pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan dan Himawan Choidar Bahran dilaporkan mendaki Gunung Slamet di Jawa Tengah dengan menggunakan metode ‘tektok’.
Tektok adalah istilah pendakian secara cepat ke puncak gunung.
Biasanya pendakian seperti ini dilakukan para penghobi trail run dengan memakan waktu seharian.
Dengan kejadian yang dialami Syaiq dan Himawan ini, sejauhmana kesiapan pendaki dalam menggunakan metode tektok menjadi pembicaraan.
Salah-satu yang digulirkan adalah aturan pendakian dengan cara tektok ini harus diperketat/
Ketua Pos Bambangan di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Saiful Amri, mengaku pihaknya sudah memperketat aturan tektok sejak 24 November 2024 lalu.
Menurut Saiful, pihaknya membuat aturan ketat setelah ada tren pendakian cepat pada 2024 lalu.
Waktu itu banyak anak-anak muda yang naik ke puncak Gunung Slamet dengan jadwal hanya seharian, ungkapnya.
“Memang ada yang sanggup. Tetapi tidak sedikit yang kemudian menghubungi posko meminta bantuan,” ujar Saiful.
“Macam-macam persoalannya di antaranya adalah cedera. Ini yang membuat kami repot. Kalau sedikit [kasusnya] tidak masalah, ini jumlahnya banyak,” Syaiful bercerita.
Apa syarat utama untuk mendaki ala tektok?
Berkaca dari masalah itu, lanjut Saiful, pihaknya memutuskan untuk memperketat pendakian, terutama cara tektok.
“Kami meminta kepada pendaki tektok agar menyerahkan sertifikat dari ALTI [Asosiasi Lari Trail Indonesia]. Mereka yang akan tektok sudah harus pernah mengikuti trail run setidaknya 15 kilometer. Ini syarat mutlak,” katanya saat dihubungi wartawan Lilik Darmawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (08/01).
Tanpa sertifikat tersebut, demikian klaim Saiful, pihaknya akan menolaknya.
Dia mengaku selama ini sudah banyak yang tidak diizinkan mendaki dengan cara tektok, karena mereka tidak dapat menunjukkan sertifikat dari ALTI.
Menurutnya, mendaki Gunung Slamet memiliki risiko tinggi, salah satunya adalah cuaca yang sering berubah.
Karena itu, pihaknya akan meminta kepada pendaki agar menaati aturannya.
“Kami tidak ingin ada pendaki yang bermasalah. Yang paling dikedepankan adalah keselamatan. Bagi pendaki tektok, benar-benar harus persiapan,” tegasnya.
Secara teknis saja, lanjutnya, tektok harus benar-benar diperhitungkan waktunya. Misalnya, sebelum keberangkatan, sebaiknya pendaki sudah di posko terlebih dahulu, setidaknya empat jam untuk istirahat.
Misalnya saja, ketika pendaki datang pada sore atau malam hari, maka mereka istirahat terlebih dahulu.
Sekitar pukul 23.00 WIB, barulah tim pendaki tektok dapat melakukan perjalanan ke puncak gunung.
“Perjalanan sekitar 5–6 jam, sehingga pagi sudah sampai di puncak. Di lokasi tersebut, ada waktu hingga jam 10.00 WIB,” kata Saiful.
Setelah itu, sebaiknya tim pendaki tektok harus segera turun.
Saiful lalu menjelaskan alasannya yaitu setelah jam 10.00 WIB, cuaca secara umum sering berubah.
“Yang paling sering adalah kabut tebal, kemudian tiba-tiba hujan, bahkan bisa jadi ada badai. Inilah yang perlu diperhatikan bagi pendaki tektok,” jelasnya.
Dia kemudian menekankan, upaya pendakian ke puncak Gunung Slamet perlu menyiapkan waktu tiga hari dua malam.
Untuk estimasi perjalanan naik dari Posko Bambangan ke puncak sekitar tujuh dan sembilan jam, katanya.
“Berangkat malam hari, kemudian menginap di Pos Lima. Kemudian pada jam 03.00 WIB naik sampai ke puncak, sehingga menjelang matahari terbit sampai di puncak. Setelah itu turun menjelang siang,” tandas Saiful.
Trik pendaki ala ‘tektok’ yang sering ke puncak Gunung Slamet
Penghobi trail run asal Banyumas, Slamet Prayitno, mengaku kerap naik ke puncak Gunung Slamet dengan cara tektok.
“Saya sampai lupa sudah berapa kali ke puncak Gunung Slamet karena sangat sering,” kata Slamet kepada wartawan Lilik Darmawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (08/01).
Slamet paling sering lewat pos di Purbalingga dan Banyumas.
Dia mengaku melakukan persiapan fisik dan mental sebelum mendaki.
“Ini sangat penting, karena trail run, apalagi ke puncak gunung, mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Butuh persiapan fisik dan mental serta menguasai teknik,” jelas Prayitno.
Menurutnya, sekarang memang lagi fomo lari, termasuk trail run. Namun demikian, bagi para pemula harus betul-betul mempersiapkan diri.
“Saya menduga, adanya pendaki yang hilang di Gunung Slamet karena naik dengan cara tektok, mungkin saja belum terlalu berpengalaman. Apalagi, hilangnya survivor itu pada saat akan mencari bantuan,” katanya.
Ia menjelaskan bagi yang ingin naik ke Gunung Slamet secara tektok, harus betul-betul pernah melakukan trail run dengan elevasi yang tinggi.
“Tektok ke gunung itu elevasinya bisa sampai ribuan. Maka dari itu, butuh persiapan yang matang. Mulai dari latihan baik fisik dan mental serta peralatan yang memadai. Misalnya dengan smartwatch. Kenapa? Ya, karena untuk mengukur heart rate hingga GPX untuk melihat rute.
“Yang tidak kalah penting adalah mengenal survival. Bagaimana jika ada masalah di jalan seperti kekurangan logistik. Kemampuan semacam itu mutlak harus ada,” tegasnya.
Bagi Prayitno, yang bukan atlet dan hanya penghobi, bukan berarti kemudian menyepelekan perjalanan khususnya tektok ke Gunung Slamet.
“Gunung Slamet itu masih memiliki hutan yang lebat. Cuacanya kerap berubah. Lima hingga 10 menit cerah, tiba-tiba mendung dan hujan deras, bahkan disertai angin. Fenomena tersebut sering terjadi terutama di atas 2.000 mdpl,” paparnya.
Sementara, Hariyawan Agung Wahyudi, seorang pegiat lingkungan sekaligus pendaki gunung, mengatakan bahwa risiko naik gunung itu tinggi, baik itu tektok maupun pendaki umum.
“Untuk pendaki umum saja ke Gunung Slamet membutuhkan waktu hingga tiga hari. Tentu saja, selain membutuhkan persiapan fisik dan mental, logistik juga harus cukup.
“Logistik itu harus dilebihi sekitar dua hari dari rencana perjalanan terjadwal. Ini penting supaya tidak kekurangan logistik jika perjalanan mengalami kendala,” ungkap Hariyawan.
Menurut Hariyawan yang telah naik ke Gunung Slamet melalui berbagai pos pendakian tersebut, gunung tertinggi di Jawa Tengah itu memiliki karakteristik yang berbeda dengan gunung-gunung lainnya di provinsi setempat.
“Misalnya di Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing, atau Merbabu, masih kelihatan curamnya medan karena vegetasi sudah tidak lebat. Kalau di Gunung Slamet, di bagian tengah kisaran ketinggian 2.500 mdpl, vegetasinya masih sangat baik, sehingga sulit untuk melihat tebing atau jurang yang curam, apalagi kalau hujan,” jelasnya.
Apalagi musim-musim di bulan Januari hingga Februari, curah hujan di Gunung Slamet masih sangat tinggi.
“Kemungkinan saja, survivor yang hilang di Gunung Slamet tersesat dan sulit mendapatkan jalan misalnya akibat cuaca buruk,” katanya.
Ia mengingatkan pada awal Februari 2001 silam, pernah terjadi peristiwa mahasiswa pecinta alam dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yakni Mapagama.
Akibat cuaca buruk, para mahasiswa yang mendaki melalui Kaliwadas, Tegal, terjebak badai di batas vegetasi. Dalam peristiwa itu, ada lima mahasiswa yang meninggal dunia.
“Peristiwa tersebut menjadi peringatan untuk terus berhati-hati ketika naik gunung, apalagi jika puncak musim penghujan antara Januari–Februari,” tandasnya.
Wartawan Lilik Darmawan melakukan reportase dan menuliskannya.
- Pendakian Gunung Rinjani kembali dibuka, apa saja perbaikan yang dilakukan?
- Belajar cara aman mendaki dari para Sherpa di Himalaya
- Dua jenazah pendaki Himalaya ditemukan setelah 16 tahun membeku
- Dua perempuan meninggal dalam pendakian Carstensz – Kenangan terakhir rekan-rekan, kronologi, hingga kesaksian penyanyi Fiersa Besari
- Kesaksian warga Irlandia yang hampir tewas saat mendaki Gunung Rinjani
- Jenazah Juliana Marins diautopsi lagi di Brasil – Apa yang sejauh ini diketahui?