
Di Bandung, Jawa Barat, mulai bermunculan inisiatif warga mempraktikkan urban farming atau pertanian perkotaan. Inisiatif itu kemudian didukung Pemerintah Kota Bandung yang meluncurkan program Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis) pada 2020.
Banyak wisatawan yang datang ke Kota Bandung karena tertarik pada kulinernya.
Tak heran jika Bandung dikenal sebagai kota wisata kuliner. Beragam inovasi kuliner tercipta di kota berjuluk Parijs van Java ini.
Namun, Kota Bandung belum sepenuhnya mandiri pangan.
Berdasarkan hasil kajian Neraca Bahan Makanan pada 2024, sebanyak 94,01% kebutuhan pangan di Kota Bandung masih disuplai dari luar kota.
Meski demikian, sejak beberapa tahun lalu, mulai bermunculan inisiatif warga mempraktikkan urban farming atau pertanian perkotaan.
Inisiatif itu kemudian didukung Pemerintah Kota Bandung yang meluncurkan program Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis) pada 2020.
Kendati belum signifikan melepaskan ketergantungan pangan secara makro, tapi program ini perlahan membentuk kemandirian dan ketahanan pangan skala mikro di lingkungan warga.
Bahkan, program ini menarik perhatian lembaga dunia dan mendapat dua kali penghargaan internasional.
Buruan SAE KWT Kebun Sauyunan – Belajar dari nol hingga mengentaskan stunting
Sekelompok ibu rumah tangga di RW 03 Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung tergerak melakukan urban farming karena tertarik mengikuti lomba yang diadakan sebuah produk minuman herbal pada 2016.
Berbekal bibit jahe merah, ibu-ibu yang kemudian membentuk grup bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) ini mulai bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan terlantar di wilayahnya.
“Kami semuanya dari nol, tidak ada pengalaman sama sekali untuk menanam. Jadi kami belajar. Sekarang Alhamdulillah semua sudah pada pintar menanam, menyemai, memanen juga,” tutur Ely Yulia, anggota KWT, di akhir tahun 2025.
Kelompok ibu-ibu tersebut berhasil membudidayakan jahe merah yang kemudian diolah menjadi minuman herbal. Produk herbal itu dijual dari satu pameran ke pameran lain.
Kiprah KWT ini menarik perhatian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung yang tengah merealisasikan program Buruan SAE di 2020.
Pada tahun itu, KWT mulai mendapat bantuan bibit tanaman dan sarana prasarana penunjang lainnya. Kebun mereka kemudian diberi nama Buruan SAE KWT Kebun Sauyunan.
Di kebun ini, bukan hanya jahe merah yang ditanam, melainkan aneka tanaman lainnya, seperti sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat keluarga (TOGA).
Dalam perjalanannya, Kebun Sauyunan secara bertahap melengkapi isinya dengan beternak ayam petelur, bebek, serta ikan.
Baca juga:
- Petani Bali pakai drone untuk bertani di sawah – ‘Lebih efisien’
- Cerita para pemuda Bali yang beralih menjadi ‘petani cerdas’
Hasil panen Kebun Sauyunan dipasarkan dan dikonsumsi warga sekitar. Dengan sistem tanam alami atau organik, hasil panen Kebun Sauyunan diminati warga karena dinilai lebih sehat.
“Kami menanamnya itu sehat, tidak ada bahan kimia. Jadi setiap panen itu pada beli semua untuk dikonsumsi di keluarga. Tidak gratis, kami beli juga dari hasil panen tersebut. Uangnya dibelikan lagi untuk benih,” ungkap Ely.
Kebun Sauyunan dilengkapi dengan tempat menyemai benih dan bata terawang atau komposter bata berongga (media untuk mengubah sampah organik menjadi kompos).
Ada pula peternakan maggot sebagai pengurai sampah organik menjadi pupuk. Maggot juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Ketua Buruan SAE KWT Kebun Sauyunan, Adam Cahyana, menyebutkan, program Buruan SAE memiliki delapan komponen utama yang harus diwujudkan. Salah satunya mengolah hasil panen menjadi makanan bergizi dan bernilai ekonomi.
Sampah organik yang terkumpul juga diolah menjadi eco-enzyme yang memiliki berbagai manfaat. Dari situlah, menurut Adam, akan terjadi sirkuler ekonomi.
“Semuanya yang delapan komponen itu sudah terintegrasi siklusnya. Mulai pembibitan sayuran, kemudian kompos. Dari hasil sayuran jadi olahan makanan minuman. Di sana terjadi siklus di antara delapan komponen itu dan kemudian nantinya jadi sirkuler ekonomi, hasil dari penjualan,” beber Adam.
Baca juga:
- Dari kompos rumahan hingga budidaya maggot, ‘Kesempatan kedua untuk sampah makanan’
- Serangga yang mengubah sampah menjadi pupuk organik, solusi bagi pertanian modern?
- Perubahan iklim: ‘Ibu para petani’, melahirkan generasi petani-ilmuwan yang luwes menghadapi pergeseran musim di Indonesia
Terkait tujuan itu, Kebun Sauyunan mengolah hasil panen, baik sayuran maupun buah-buahan menjadi berbagai produk kuliner, seperti puding bunga telang, keripik bayam, dan teh telang.
Ada produk nonkuliner, yakni cairan eco-enzyme untuk pupuk dan penyubur tanah, sabun eco-enzyme untuk kecantikan, serta tepung cangkang telur untuk mengusir hama tanaman.
“Uang hasil penjualan dipakai untuk mengembangkan Kebun Sauyunan, sebagian disisihkan untuk keperluan anggota. Jadi kami sudah mandiri tidak menggunakan dana dari yang lain,” ungkap Adam.
Dari lahan terlantar seluas 160 meter persegi, Buruan SAE KWT Kebun Sauyunan kini telah berkembang menjadi lahan pertanian dan peternakan produktif.
Keberadaannya juga turut membantu mengentaskan kasus stunting di lingkungannya. Setiap bulan, Kebun Sauyunan menyalurkan 40 paket sayuran dan telur bagi balita melalui posyandu.
“Memang tujuannya Buruan SAE untuk ketahanan pangan dan penurunan angka stunting di wilayahnya sendiri. Menurut laporan posyandu, ada tiga balita stunting. Alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi stunting,” ucap Adam.
Selama 10 tahun berdiri, Adam mengklaim, Kebun Sauyunan telah berhasil membangun ketahanan dan kemandirian pangan di wilayahnya.
Terbukti kebunnya berhasil menyabet penghargaan Buruan SAE Terbaik ke satu kategori Lahan Luas 2025 dari Pemerintah Kota Bandung.
“Mungkin penilaiannya bukan hanya keberadaan atau cara urban farming, mungkin juga banyak sisi-sisi lain yang dinilai DKPP Kota Bandung, antara lain keaktifan anggota, administrasi kelompok. Tapi secara garis besarnya, mungkin menilai konsistennya kami untuk tetap ber-Buruan SAE,” pungkas Adam.
Buruan SAE Padepokan Hegar – Tempat wisata tanaman sekaligus membangun ketahanan pangan
Berkat tanaman cabai rawit di Buruan SAE Padepokan Hegar, warga tidak terdampak lonjakan harga tanaman pedas tersebut. Warga juga bisa membeli sayur mayur segar dengan harga lebih murah.
“Manfaatnya warga bisa menerima sayuran yang masih segar, dan dia bisa berbelanja lebih dekat daripada jauh-jauh ke pasar. Misalkan seperti cengek (cabai rawit). Di pasar taruhlah harganya Rp28.000 atau Rp30.000 per kilo. Kami bisa jual Rp25.000. Sudah selisih Rp5.000. Lumayan,” ungkap Ketua Buruan SAE Padepokan Hegar, Yosep.
Sejak diluncurkan pada 2020, kelompok Buruan SAE semakin banyak bermunculan di Kota Bandung. Jumlahnya kini mencapai 523 kelompok. Jumlah itu adalah kelompok yang didampingi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung.
Buruan SAE Padepokan Hegar di Kecamatan Panyileukan Kota Bandung, termasuk yang baru. Awalnya bertujuan membangun wisata tanaman dengan memanfaatkan lahan kosong yang sebelumnya dijadikan tempat pembuangan sampah.
“Ini lahannya memang sudah lama tidak digarap. Ada yang buang sampah ke sini yah semrawut lah awalnya. Kami coba benahi. Bikin apa gitu. Udah lah bikin tanaman apa, gak kepikiran ke Buruan SAE, yang penting kami membuka dan membuat tempat ini hijau. Gini saja awalnya gak ada yang lain-lain,” sebut Yosep.
Kini, Padepokan Hegar telah berkembang menjadi kebun dengan aneka tanaman sayur dan buah serta peternakan ayam dan ikan. Warga pun menikmati keasrian kebun sehingga tujuan awal membuat wisata tanaman tercapai.
“Mereka (warga) bisa ikut hiburan di sini, piknik tanaman lah seperti itu. Kebanyakan ibu-ibu pada selfie. Kalau botram sudah pasti yah. Pengin botram, ibu-ibu datang ke sini. Alhamdulillah pada happy semua di sini,” ucap Yosep.
Namun Yosep mengakui, pihaknya masih perlu membenahi manajemen Padepokan Hegar agar bisa mandiri seperti Buruan SAE yang telah lebih dulu berdiri. Terutama untuk biaya pakan ternak. Sejauh ini, kata Yosep, Pemkot Bandung baru membantu dalam penyediaan pupuk.
“Oke lah untuk Buruan SAE ada bantuan pupuk, masih ada. Tapi selama ini pengeluaran dan pendapatan masih belum seimbang, masih nombok. Contoh, kayak kolam terpal ini kami masih perlu biaya,” ujarnya seraya menambahkan pihaknya harus menyediakan dana kurang lebih Rp30.000-Rp40.000 per hari untuk pakan ternak.
Ke depannya, Yosep berharap, Buruan SAE Padepokan Hegar tetap bertahan dan bahkan bisa berkembang sehingga mampu menebar manfaat bagi warga sekitar. Antara lain, ikut berkontribusi pada pengentasan stunting dengan mendirikan dapur sehat.
“Harapan ke depannya tambah solid. Kami menerima hasil dan hasilnya bisa ditebar dan kelompok makin solid. Insya Allah ke depan akan ada dapur sehat untuk program stunting,” kata Yosep.
Dampak Buruan SAE dan penghargaan dunia
Kendati sulit memenuhi 100% kebutuhan pangan lokal, tapi kajian NBM 2024 menunjukkan, program Buruan SAE ikut berkontribusi terhadap pengurangan ketergantungan pangan luar daerah sebesar 0,228%. Adapun kontribusi Buruan SAE terhadap produksi domestik Kota Bandung sebesar 3,82%.
“Sebetulnya tumbuh Buruan SAE itu bukan hanya sekadar bagaimana mengurangi ketergantungan (pangan luar). Paling tidak juga secara mikro lingkungan, (warga) itu bisa memenuhi kebutuhan pangannya dari lingkungannya sendiri,” ujar Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar.
Ada delapan komponen utama Buruan SAE yang dirancang DKPP Kota Bandung sebagai pengampu program tersebut. Ke delapan komponen utama itu adalah budidaya sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga (TOGA), budidaya ikan, peternakan ayam, pengolahan limbah jadi kompos, pengendalian hama terpadu alami, dan manajemen hasil pangan.
Beberapa kelompok Buruan SAE telah menerapkan delapan komponen utama tersebut.
Ada pula yang turut berkontribusi pada program pengentasan stunting, pun kegiatan-kegiatan yang membutuhkan penguatan pangan anak sekolah.
Saat pandemi Covid-19, Gin Gin menambahkan, Buruan SAE menjadi salah satu tempat untuk berbagi pangan.
“Kami berbagi hasil panennya ke orang-orang yang isoman, yang Covid. Jadi kontribusinya cukup besar sebetulnya.” Aku Gin Gin.
Keberhasilan Buruan SAE terdengar sampai mancanegara. Pada Oktober 2022, Buruan SAE menerima penghargaan Prize Milan Pact Award (MPA) Tahun 2022 Special Mention Food Production pada The 8th MUFPP (Milan Urban Food Policy Pact) Global Forum di Rio de Janeiro, Brazil.
Penghargaan MPA kembali diraih di ajang Global Forum Milan Urban Food Policy Pact (MUFPP) 2025 di Milan, Italia. Kali ini dalam kategori Food Waste, dalam pertemuan global dengan konteks sirkuler ekonomi
“Tanpa diduga upaya kecil yang kami lakukan ternyata didengar oleh sebuah komunitas dunia namanya Milan Urban Food Policy Pact (MUFPP) atau Milan Pact Award. Itu kumpulan kota-kota dunia yang concern atau punya komitmen terhadap pembangunan pangan berkelanjutan. Nah dengan adanya gerakan Buruan SAE. mereka tertarik. Mereka menganggap bahwa ini sebuah gerakan yang patut dicontoh untuk kota-kota lain,” papar Gin Gin.
Penghargaan itu, imbuh Gin Gin, menempatkan Buruan SAE tidak hanya sebagai wadah produksi pangan, tapi juga menjadi sebuah gerakan yang mampu membangun sirkular ekonomi. Ia mencontohkan, sampah organik yang dihasilkan dari dapur bisa diolah menjadi berbagai produk, seperti kompos dan eco-enzyme.
“Jadi kondisi itu yang juga diapresiasi oleh dunia sebagai sebuah contoh gerakan masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi lingkungan untuk ketahanan pangan, termasuk persoalan penanganan sampah,” pungkas Gin Gin.
Wartawan Yulia Saputra melakukan reportase dan menuliskannya.