
Beton tinggi menjulang di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Tiang-tiang itu memisahkan jalur lambat dengan jalur cepat. Sejatinya tiang itu bukanlah pemisah jalan, tapi bagian dari konstruksi monorel yang hendak dibangun di Jakarta pada 2004.
Tiang monorel tidak hanya terdapat di Jalan HR Rasuna Said, tapi juga di sepanjang Jalan Gelora hingga Jalan Asia Afrika. Kini tiang-tiang tersebut tinggal menunggu waktu untuk dibongkar oleh Pemprov DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Rabu (14/1) meninjau langsung lokasi tiang monorel di Jalan Rasuna Said yang akan dibongkar.
“Ada 109 tiang monorel sampai ujung Jalan Rasuna Said. Yang di jalan ini sampai dengan Gran Melia Hotel. Semuanya akan ditata rapi. Saya meyakini ini akan membuat Jalan Rasuna Said semakin baik dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang,” kata dia saat meninjau lokasi.

Pramono mengatakan, pihaknya menargetkan pembongkaran dengan total anggaran Rp 254 juta ini rampung pada September 2026.
“Untuk biaya pembongkarannya sendiri 254 juta. (Selesai) bulan September,” ujarnya.
Tak hanya membongkar tiang-tiang monorel, Pramono menyebut pihaknya juga akan menata kawasan sekitar.
“Untuk penataan secara keseluruhan nanti ada pedestrian, saluran trotoar, penerangan jalan umum, sarana kelengkapan lainnya, dan juga tentunya estetika dari taman yang ada. Diperkirakan Rp 102 miliar,” sambung dia.
Berikut perjalanan monorel dari awal dibangun hingga berakhir dengan pembongkaran, dikutip dari beberapa sumber:

2003
Rencana pembangunan monorel disusun. Perusahaan konsorsium yang dibentuk Adhi Karya, Global Profex Sinergy, dan Radiant Utama menjadi pemrakarsanya.
2004
Pengerjaan konstruksi dimulai. Tiang pertama monorel diresmikan Presiden ke-4 Megawati Soekarnoputri pada 14 Juni 2004. Namun pembangunan proyek ini dialihkan ke konsorsium PT Jakarta Monorail dan Omnico Singapura.
2005
Skema pembiayaan monorel bermasalah karena Omnico Singapura gagal memenuhi target setoran modal. Proyek monorel akhirnya beralih dengan nota kesepahaman baru.
Proyek dijalankan oleh konsorsium PT Bukaka Teknik Utama, PT INKA, dan Siemens Indonesia. Namun ini ditentang oleh pihak Omnico. Meski begitu proses konstruksi berlangsung hingga Oktober 2005. Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, juga bersikeras untuk melanjutkan pembangunan monorel.
Keyakinan pembangunan monorel didasari adanya bantuan dana dari Dubai Islamic Bank, Uni Emirat Arab. Namun bantuan dana itu baru bisa diberikan dengan syarat ada jaminan dari Pemerintah Republik Indonesia. Sayangnya Menkeu saat itu, Sri Mulyani, menolaknya. Sehingga pembangunan tertunda lagi.

2010-2011
Pemprov DKI Jakarta saat itu dipimpin oleh Fauzi Bowo alias Foke. Ia sempat ingin mengambil alih pembangunan monorel. Pihak PT Jakarta Monorail meminta penggantian nilai investasi sebesar Rp 600 miliar. Namun berdasarkan perhitungan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Pemprov DKI Jakarta cukup membayar maksimal Rp204 miliar.
Dalam putusan tersebut pihak perusahaan juga dipersilakan meneruskan proyeknya, menyerahkan ke Pemprov DKI, atau memberikan ke pihak swasta baru untuk melanjutkan pembangunan.
Proyek monorel tersebut akhirnya dinyatakan berhenti pada 2011.
2013
Di era Gubernur Joko Widodo (Jokowi), proyek monorel ingin dihidupkan kembali. Tapi memberikan syarat kepada PT Jakarta Monorail, salah satunya ialah modal sebesar Rp 15 triliun untuk pembangunan. Namun syarat itu tidak dapat dipenuhi.
Pembatalan proyek monorel juga berlanjut hingga era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
2025
Setelah bertahun-tahun tiang monorel menjadi bagian dari proyek yang gagal, baru di era Gubernur Pramono Anung tiang tersebut diputuskan untuk dibongkar.
Pramono mengungkapkan tiang monorel akan dibongkar pada minggu ketiga Januari 2026.
2026
Pembongkaran tiang monorel dimulai. Pembongkaran dilakukan oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta.
Pramono mendatangi salah satu lokasi tiang monorel yang akan dibongkar di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/1) pagi. Sementara pembongkaran dimulai pada malam harinya.