
Gelombang demonstrasi antipemerintah yang telah berlangsung selama belasan hari di Iran dilaporkan telah menyebabkan ribuan orang tewas. Peristiwa ini membuat Husein Ali, warga Jember, Jawa Timur, khawatir.
Pasalnya, kedua anak Husein yang tengah belajar di Iran tak bisa dihubungi selama lima hari terakhir, akibat jaringan telekomunikasi yang putus.
“Saya selalu berdoa semoga aman dan baik-baik saja. Cara mengatasi kekhawatiran, tidak ada jalan lain selain berdoa, serahkan kepada Tuhan,” ujar Husein saat dihubungi via telepon, Selasa (13/01).
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia melalui KBRI di Tehran memantau secara seksama situasi keamanan dan kondisi WNI di Iran. Berdasarkan penilaian kondisi per 12 Januari lalu, Kemlu bilang belum diperlukan evakuasi.
“Namun demikian, persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontigensi terus dilakukan,” bunyi siaran pers Kemlu.
Demonstrasi terkait masalah ekonomi dimulai pada 28 Desember lalu di Teheran, ibu kota Iran. Aksi ini lalu menyebar ke 187 kota dan seluruh 31 provinsi, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA).
Sejak itu, data HRANA menunjukkan, total terjadi 614 aksi demo yang menyebabkan 2.403 demonstran dan 147 aparat pemerintah tewas.
‘Saya selalu berdoa mereka aman dan baik-baik saja’
Husein Ali, 71 tahun, menyekolahkan kedua anaknya di Iran. Anak perempuanya telah menikah dan memiliki anak. Mereka telah tinggal di Iran selama lebih dari 15 tahun.
Lalu, anak laki-laki Husein tengah menempuh studi ilmu komputer di Kota Qom, Iran.
Di awal gelombang demo pada akhir Desember lalu, Husein bilang terus intens berkomunikasi dengan anak-anaknya.
“Saya sebagai orang tua tanya hampir setiap hari, bagaimana kondisi di sana, karena saya lihat di berita ada demo, ada yang dibakar. Mereka bilang aman, kegiatan masih berjalan biasa,” ujar Husein.
Husein berkata, saat itu anak-anaknya masih beraktivitas seperti biasa, seperti jalan ke taman, dan kumpul dengan teman-teman.

“Terus cucu saya yang SD masih sekolah biasa. Fasilitas pelayanan publik berjalan normal,” ujarnya.
Husein juga bertanya ke anak-anaknya, apakah mereka ingin pulang ke Indonesia sampai situasi yang panas mereda. Namun, mereka tidak mau pulang dan ingin menuntaskan pendidikan yang sedang ditempuh.
“Mereka bilang di sana ada organisasi mahasiswa Indonesia yang sudah terorganisir dengan KBRI, mereka terus komunikasi, ada grupnya,” kata Husein.
Namun sejak sekitar lima hari lalu, Husein tak lagi bisa menghubungi anak-anaknya akibat jaringan komunikasi yang terputus.
Mungkin Anda tertarik:
- Mengapa terjadi demonstrasi besar-besaran di Iran?
- Wasit dan mahasiswa termasuk di antara ratusan korban tewas dalam demonstrasi di Iran
- Siapa Reza Pahlavi, putra mahkota Shah Iran yang diasingkan?
Husein hanya bisa memantau situasi di Iran melalui berita-berita dari internet.
“Saya lima hari enggak komunikasi, enggak bisa, diputus jaringannya. Perasaan hilang kontak tentunya sebagai orang tua khawatir. Tapi saya selalu berdoa semoga aman dan baik-baik saja. Tidak ada jalan lain selain berdoa, serahkan kepada Tuhan,” ujarnya.
Husein berkata, pada perang antara Israel dan Iran selama 12 hari, Juni tahun lalu, jaringan komunikasi tak putus. Dia masih bisa menghubungi dan memantau kondisi anak-anaknya.

Kini Husein berkata hanya pasrah, “dan berdoa mudah-mudahan Tuhan beri jalan dan keselamatan [untuk mereka]. Toh, anak-anak ini memang tugas belajar, menuntut ilmu.”
Dirinya pun berharap semoga situasi di Iran kembali normal, dan demonstrasi berhenti.
Apa upaya Kemlu sejauh ini?
Di tengah situasi yang terjadi di Iran, Kemlu melalui KBRI Tehran memantau secara seksama situasi keamanan dan kondisi WNI.
Berdasarkan komunikasi KBRI Tehran dengan WNI di berbagai wilayah di Iran, seperti Qom dan Isfahan yang menjadi simpul utama komunitas, kondisinya relatif tidak terdapat gangguan keamanan yang signifikan.
“Berdasarkan asesmen KBRI dan memperhatikan kondisi di lapangan per Senin [12/01] saat ini belum diperlukan evakuasi. Namun demikian persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontigensi terus dilakukan,” bunyi siaran pers Kemlu.
Selain itu, KBRI Tehran juga mengimbau seluruh WNI di Iran agar meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi, menghindari lokasi pusat-pusat demonstrasi dan kerumunan massa, serta menjaga komunikasi dengan KBRI Tehran.
“Bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Iran, diimbau agar menunda perjalanan hingga situasi dan kondisi keamanan dinyatakan kondusif.”
“Dalam situasi darurat, WNI dapat segera menghubungi Hotline KBRI Tehran melalui nomor +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027.”

Terkait dengan kondisi di Iran, pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi berkata, pemerintah Indonesia harus intensif memonitor keadaan WNI di sana.
“Jadi ini harus dikaji, detik demi detik, jam demi jam situasinya, dan kalau ini terus meningkat, menurut saya harus segera diambil langkah evakuasi, seperti yang dulu dilakukan pada perang 12 hari [dengan Israel] di Juni lalu,” kata Hasibullah.
Pasalnya, Hasibullah berkata, kondisi saat ini berpotensi berdampak lebih besar dari perang 12 hari yang terjadi pada 2025.
Hal itu karena sumbernya berasal dari pergejolakan masyarakat di dalam negeri Iran yang dapat menciptakan kerusuhan besar, “dan orang asing bisa menjadi bahaya,” ujarnya.
Dia juga berharap agar pemerintah Indonesia menyuarakan kepada seluruh pihak untuk menahan diri, menghormati hukum internasional, dan kebebasan masing-masing negara.
Senada, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi juga berharap pemerintah Indonesia untuk mengimbau warganya agar tak ikut terlibat dalam urusan internal di Iran, dan “mencari tempat-tempat yang aman agar terhindar dari potensi yang tidak diinginkan.”
Mengapa terjadi aksi demo besar di Iran?
Rangkaian aksi demonstrasi di Iran dimulai pada, Minggu, 28 Desember di Teheran. Para pedagang dan pelaku usaha di sana marah akibat nilai mata uang Iran, rial, yang terus melemah terhadap dolar AS di pasar terbuka.
Nilai rial jatuh ke titik terendah sepanjang masa dan inflasi melonjak hingga 40%.
Ini mengakibatkan melejitnya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng dan daging.
Pendemo menuntut adar pemerintah mengembalikan stabilitas pasar dan menerapkan langkah-langkah ekonomi yang efektif.
“Pada hari Minggu, 28 Desember 2025, menyusul fluktuasi nilai tukar, terjadi unjuk rasa serikat pekerja dan ekonomi yang terdiri dari beberapa pengusaha dan pedagang di Tehran. Unjuk rasa itu diadakan dengan motif mata pencaharian dan sebagai reaksi dampak negatif fluktuasi mata uang terhadap kegiatan bisnis dan daya beli,” tulis Kedubes Iran di Jakarta dalam siaran pers yang diterima, Rabu (14/01).
Kedubes Iran menyebut di awal unjuk rasa itu masih berlangsung kondusif dan terkendali.

Namun, dalam perkembangannya, protes kemudian merembet ke berbagai lini. Pada 30 Desember lalu, para mahasiswa ikut terlibat dan demonstrasi makin meluas ke beberapa kota.
Salah satu tuntutan utama demonstran adalah mengakhiri Republik Islam dan pemerintahan di bawah Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Adapun dukungan kepada Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang diasingkan, makin luas menjelang akhir pekan lalu, bersamaan dengan turunnya ribuan orang ke jalan-jalan di Teheran dan kota-kota besar lainnya.
Sejumlah video di media sosial menunjukkan mobil-mobil dibakar selama bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Kedubes Iran pun mengklaim, aksi demo itu lalu disusupi oleh kejahatan terorganisir untuk melakukan kerusuhan hingga menimbulkan korban jiwa.
“Unjuk rasa damai telah disalahgunakan secara sengaja oleh sejumlah kecil elemen kekerasan yang berafiliasi terhadap gerakan yang disetir dari luar, sehingga menyebabkan perusakan properti publik, penyerangan terhadap lembaga penegak hukum, dan penggunaan alat pembakar dan bahkan senjata api,” kata Kedubes Iran di Jakarta.
Selain itu, pemerintah Iran juga menyoroti intervensi dari Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memperkeruh demonstrasi di Iran.
Iran mengklaim hasutan dan provokasi yang dilakukan kedua negara itu telah melanggar hukum internasional dan kedaulatan Iran sebagai negara merdeka.

Merespon rangkaian aksi demonstrasi itu, pihak berwenang Iran bertindak keras terhadap pengunjuk rasa. Berbagai senjata, mulai dari meriam air hingga peluru tajam, dilaporkan telah digunakan terhadap para demonstran dengan dampak yang mematikan.
Beberapa orang yang berbicara kepada BBC di Teheran mengatakan bahwa respons terhadap protes dalam seminggu terakhir sangat intens. Para petugas medis menggambarkan rumah sakit “kewalahan” dengan korban tewas dan luka-luka.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activist News Agency (HRANA), mencatat telah terjadi 614 aksi demonstrasi di 187 kota dan mencakup seluruh provinsi Iran, hingga hari ke tujuh belas, pada Selasa (13/01).
HRANA juga mencatat sekitar 2.403 demonstran dan 147 aparat tewas, serta 18.434 orang ditangkap.
Di antara mereka yang dilaporkan tewas adalah Amir Mohammad Koohkan, 26 tahun, pelatih sepak bola, dan Aminian, 23 tahun, mahasiswa Kurdi.
BBC Verify telah melihat potongan video dari proses pemakaman di Teheran yang memperlihatkan para pelayat meneriakkan “Matilah Khamenei”—Pemimpin Tertinggi Iran.
Pemadaman internet juga diberlakukan di negara itu, yang menurut para ahli dimulai pada Kamis lalu.
Pada Senin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengklaim pasukan keamanan telah mengendalikan sepenuhnya protes anti-pemerintah.
‘Mirip dengan revolusi 1979’
Gelombang demonstrasi kali ini merupakan aksi yang paling luas sejak pemberontakan pada 2022 karena kematian seorang perempuan muda bernama Mahsa Amini.
Pengamat Timur Tengah, Yon Machmudi melihat demonstrasi saat ini hampir mirip dengan kondisi menjelang revolusi 1979, yaitu mengubah Iran dari monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, menjadi republik Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini.
“Karena gerakan sekarang ini adalah antitesa terhadap revolusi 1979 yang dipimpin oleh Abdullah Khomeini. Kini yang muncul adalah keturunan atau putra mahkota dari Shah Iran yaitu Reza Pahlavi,” ujar Yon.
Dia pun menganalisis aksi demonstrasi itu berpotensi akan berlangsung lama, “apalagi target dari para demonstran itu adalah untuk menjatuhkan rezim yang sedang berkuasa.”

Sementara Hasibullah menjelaskan rangkaian demonstrasi dan kondisi yang terjadi di Iran dalam empat tahap.
Pertama, adalah aksi demonstrasi yang berangkat dari masalah perekonomian di dalam negeri Iran. “Hari pertama, kedua demo, bisa dianalisis sebagai perjuangan murni tentang masalah ekonomi,” katanya.
Tahap kedua, ujarnya, aksi demo digunakan oleh sekelompok pihak untuk kepentingan politik, yaitu mengganti rezim penguasa hingga sistem pemerintahan, “yang mungkin mau kembali kepada yang lebih pro-Barat, pemerintahannya.”
Tahap selanjutnya, kata Hasibullah, adalah mulai adanya perlawanan dari rezim penguasa untuk menandingi aksi demonstrasi yang berlangsung dan menjaga stabilitas dalam negeri.
Keempat adalah perkembangan upaya dialog antara otoritas Iran dengan negara Barat, seperti AS, untuk meredakan intensitas yang terjadi di internal Iran.
Lalu bagaimana nasib Iran ke depan?
Hasibullah berkata kehancuran atau kebangkitan pemerintahan Iran bergantung pada dinamika faktor internal dan eksternal yang terjadi.
“Dipengaruhi bagaimana kondisi internal, apakah demo semakin besar atau mampu diredam. Lalu kondisi eksternal, apakah terjadi dialog untuk mencapai kesepakatan antara pihak yang terlibat. Faktor itu menentukan masa depan Iran.”
- Iran peringatkan akan membalas jika AS menyerang, ratusan demonstran dilaporkan tewas – Apa yang sejauh ini diketahui tentang unjuk rasa di Iran?
- Ketika pemimpin tertinggi Iran keluar dari persembunyian, apa yang akan dihadapinya?
- Kesaksian warga Iran yang kabur ke Turki setelah serangan Israel
- Puluhan WNI yang dievakuasi dari Iran dipulangkan secara bertahap ke Indonesia
- Perang Iran-Israel: Apakah keterlibatan AS bakal picu Perang Dunia III?
- ‘Mereka merayakan kematian keluarga saya’ – Kemarahan seorang ayah ungkap perpecahan masyarakat Israel
- AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, apa dampaknya dan bagaimana Iran akan membalas?