
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan jumlah masyarakat Indonesia yang memiliki masalah kejiwaan diperkirakan mencapai puluhan juta orang.
Namun, sebagian besar kasus tersebut belum terdeteksi dan tertangani secara memadai.
“Karena WHO bilang, masalah kejiwaan itu satu dari delapan sampai satu dari sepuluh penduduk. Jadi kalau Indonesia 280 juta (penduduk), ya minimal 28 juta tuh punya masalah kejiwaan,” kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (19/1).
Budi menjelaskan, masalah kejiwaan yang dimaksud mencakup berbagai kondisi, mulai dari gangguan ringan hingga berat.
“Bisa itu depresi, disorder atau anxiety disorder, yang lebih berat ada skizofrenia, ada ADHD, ada penyakit-penyakit jiwa tuh ada banyak juga,” jelasnya.
Meski jumlahnya besar, Budi menyebut hasil skrining kesehatan jiwa yang dilakukan pemerintah masih sangat rendah. Hal ini menunjukkan masih banyak kasus yang belum teridentifikasi.
“Dari yang kita screen, masih rendah sekali. Ya jadi masih rendah sekali, angkanya masih di bawah 1 persen untuk dewasa dan anak-anak 5 persen,” ujarnya.
Menurut Budi, skrining tetap penting karena menjadi langkah awal untuk mengetahui gambaran masalah kesehatan jiwa di masyarakat.
Kesehatan Jiwa Bisa Dilayani di Puskesmas
Untuk memperluas penanganan, Kementerian Kesehatan mulai menyiapkan sistem layanan kesehatan jiwa di tingkat puskesmas. Selama ini, layanan kesehatan jiwa belum memiliki tata laksana yang jelas.
“Karena jiwa itu nggak pernah ada di puskesmas tata laksananya. Sekarang kita udah bikin tata laksananya, baik yang membutuhkan farmasi, obat-obatan, atau yang membutuhkan psikologi konseling ya,” ujar Budi.
“Kita sekarang sedang bangun sistemnya supaya bisa dilayani di puskesmas-puskesmas,” pungkasnya.