Harga emas & perak rekor lagi dampak isu tarif AS ke Eropa terkait Greenland

Photo of author

By AdminTekno

Harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi, sementara pasar saham global bergerak tertekan. Sentimen negatif ini dipicu kekhawatiran baru soal potensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa.

Emas dan perak mencetak rekor pada perdagangan Senin. Di saat yang sama, mayoritas bursa saham melemah setelah Presiden AS kembali memicu ketegangan dagang. Ia mengancam sejumlah negara Eropa dengan tarif impor menyusul penolakan mereka terhadap rencana Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland.

Mengutip AFP News, Senin (19/1), Presiden AS meningkatkan ketegangan geopolitik yang memang sudah meninggi sepanjang bulan ini. Trump bersikeras Washington perlu menguasai pulau di Atlantik Utara tersebut dengan alasan kepentingan keamanan nasional.

Situasi memanas pada Sabtu lalu. Setelah perundingan gagal menyelesaikan apa yang disebut sebagai “ketidaksepakatan mendasar” terkait wilayah otonom milik Denmark itu, Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif baru kepada delapan negara Eropa.

Ia mengatakan akan mengenakan tarif 10 persen kepada Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari. Tarif tersebut bahkan akan naik menjadi 25 persen mulai 1 Juni jika negara-negara itu tetap menolak pengambilalihan Greenland oleh AS.

Ancaman tersebut langsung menuai reaksi. Dalam pernyataan bersama, negara-negara yang terdampak menegaskan “Ancaman tarif merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan spiral penurunan yang berbahaya.”

Langkah Trump juga berpotensi mengguncang kesepakatan dagang yang diteken Amerika Serikat dan Uni Eropa tahun lalu. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul, bahkan menyatakan kepada televisi ARD tidak percaya terhadap kesepakatan tersebut.

“Saya tidak percaya bahwa kesepakatan ini mungkin terjadi dalam situasi saat ini,” kata dia.

Dari Prancis, para ajudan Presiden Emmanuel Macron menyebut Macron akan meminta Uni Eropa mengaktifkan “instrumen anti-paksaan” terhadap Washington jika ancaman tarif benar-benar direalisasikan. Instrumen ini memungkinkan pembatasan impor barang dan jasa ke pasar Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara dengan total populasi sekitar 450 juta jiwa.

Menurut laporan Bloomberg, negara-negara anggota Uni Eropa juga tengah membahas kemungkinan penerapan tarif balasan terhadap produk AS senilai €93 miliar atau sekitar USD 108 miliar.

Prospek konflik dagang antara dua kekuatan ekonomi besar dunia ini mengguncang pasar keuangan. Aset safe haven kembali diburu, melanjutkan tren kenaikan sejak pekan lalu setelah Trump mengancam Iran dan Amerika Serikat menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Emas, yang kerap menjadi pilihan investor di tengah ketidakpastian, melesat hingga USD 4.690,59. Perak juga menanjak ke level USD 94,12.

Di pasar saham Asia, mayoritas bursa melemah. Tokyo, Hong Kong, Sydney, Singapura, Manila, Mumbai, dan Wellington ditutup di zona merah. Sebaliknya, Shanghai, Seoul, Taipei, dan Bangkok masih mampu mencatatkan penguatan.

Tekanan juga terlihat di pasar global lainnya. Kontrak berjangka bursa Eropa dan Amerika Serikat turun, sementara dolar AS melemah terhadap mata uang utama. Euro, poundsterling, dan yen justru menguat.

Kepala Strategi Investasi Saxo Markets, Charu Chanana, menilai kunci pasar kini ada pada tindak lanjut kebijakan.

“Tanda selanjutnya adalah apakah ini akan beralih dari retorika ke kebijakan, dan itulah mengapa tanggal-tanggal konkret itu penting,” kata Chanana.

“Dari sisi Eropa, jalur pengambilan keputusan sama pentingnya dengan judul berita, karena ada perbedaan antara sekadar menyebutkan instrumen anti-paksaan sebagai sinyal dan secara formal mengejarnya sebagai tindakan,” imbuhnya.

Menurutnya, meski ancaman tarif bisa saja dinegosiasikan turun, risiko jangka panjang tetap besar. “Bahkan jika ancaman tarif langsung dinegosiasikan hingga turun, risiko strukturalnya adalah fragmentasi terus meningkat, dengan perdagangan yang lebih dipolitisasi, rantai pasokan yang lebih bersyarat, dan risiko kebijakan yang lebih tinggi bagi perusahaan dan investor,” kata dia.

Dari China, pasar relatif tenang merespons data ekonomi terbaru. Angka resmi menunjukkan ekonomi China tumbuh 5 persen sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah, namun menjadi salah satu laju pertumbuhan paling lambat dalam beberapa dekade. Pertumbuhan pada kuartal terakhir juga melambat tajam dibandingkan periode sebelumnya.

Data tersebut menegaskan bahwa ekspor masih menjadi penopang utama ekonomi, sementara konsumsi domestik tetap lemah. Kondisi ini meningkatkan tekanan agar pemerintah China menggelontorkan stimulus tambahan.

Leave a Comment