Sejarah di balik tendangan Panenka yang membuat Maroko gagal juara Piala Afrika 2025

Photo of author

By AdminTekno

Tendangan Brahim Diaz pada Final Piala Afrika 2025 di Stadion Prince Abdellah Moulay, Rabat, Senin (19/01), menghadirkan petaka bagi Maroko.

Penyerang Real Madrid itu melambat saat mendekati bola dan menendang bola ke tengah, tapi kiper Edouard Mendy tidak bergerak sehingga dengan mudah menangkapnya.

Pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan dan Senegal keluar sebagai pemenang. Momen yang semestinya menjadi penentu kemenangan bagi Maroko justru berbalik arah.

Walau menerima Sepatu Emas dari Presiden FIFA Gianni Infantino sebagai pencetak gol terbanyak turnamen, Diaz tampak sedih dan wajahnya memancarkan penyesalan.

Tendangan Diaz itu dikenal dengan tendangan Panenka. Entah kenapa, Diaz memilih langkah itu mengingat tendangan Panenka beberapa kali gagal.

Apakah tendangan Panenka adalah pilihan buruk bagi seorang penendang penalti?

Siapa pelopor tendangan Panenka?

Tendangan Panenka berasal dari Antonin Panenka, yang terkenal berkat penalti ke gawang Jerman Barat sehingga Cekoslovakia memenangkan Piala Eropa 1976.

Setelah berlari cepat, Panenka mencongkel bola dengan lembut ke tengah gawang untuk membingungkan kiper Sepp Maier sekaligus membawa trofi untuk Cekoslovakia.

Ini bukan kali pertama Panenka mencoba tendangan penalti semacam itu. Ia telah mencetak gol untuk klub Bohemians saat melawan Dukla Praha dengan cara yang sama sebulan sebelumnya.

Namun, tekniknya yang mengelabui Sepp Maier disaksikan khalayak dunia. Tendangan Panenka pun lahir.

Bagaimana asal-usul tendangan Panenka?

Final Piala Eropa 1976 yang mempertemukan Jerman Barat dan Cekoslovakia tidak disangka-sangka berakhir imbang.

Jerman Barat—juara Eropa bertahan dan pemenang Piala Dunia saat itu—merupakan unggulan dan favorit juara.

Untuk menentukan pemenang, sejatinya pertandingan akan diulang dua hari kemudian. Wasit Wales, Clive Thomas, bahkan telah diberitahu untuk menunda kepulangannya untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut.

Namun, rencana tiba-tiba berubah.

“Itu adalah permintaan dari Asosiasi Sepak Bola Jerman,” kenang Antonin Panenka.

“Mereka mengatakan bahwa para pemain mereka sudah memesan tiket liburan, bla, bla, bla, dan bertanya apakah adu penalti bisa langsung dilakukan daripada menggelar pertandingan ulang.”

Sebagai tim underdog, Cekoslovakia merasa peluang menang lebih besar lewat adu penalti daripada melakukan pertandingan kedua. Karena itu, tim nasional Cekoslovakia setuju melakukan adu penalti.

Panenka, seorang gelandang serang yang elegan dan ahli dalam umpan, memeriksa kembali rencananya.

Semua sudah siap. Tidak perlu perubahan, tidak ada keraguan.

Strategi yang direncanakan selama dua tahun, entah berhasil atau tidak, sudah siap.

Di kampung halamannya, Panenka sudah biasa adu penalti.

Setelah merampungkan latihan bersama klub Bohemians, Panenka dan kiper Zdenek Hruska rutin berlatih tendangan penalti. Momen itu semacam duel antara mereka.

Panenka akan mendapat lima tendangan penalti dan harus mencetak lima gol, sedangkan Hruska hanya perlu menahan satu penalti. Siapa pun yang kalah harus membelikan bir atau cokelat setelah latihan.

“Saya terus-menerus membayarnya,” kata Panenka.

“Jadi di malam hari saya memikirkan cara untuk mengalahkannya. Itulah saat saya menyadari bahwa saat berlari ke arah gawang, kiper akan menunggu detik terakhir dan kemudian bertaruh, melompat ke kiri atau kanan.

“Saya berpikir: ‘Bagaimana jika saya mengirim bola hampir langsung ke tengah gawang?'”

Panenka mencobanya. Menurut dia, kemungkinan tendangan penalti ke arah tengah ini bisa membangkitkan ragu pada Hruska yang lebih sering menang.

Panenka menyadari teknik barunya dan menemukan taktik penalti yang sah dan ampuh.

Selama dua tahun berikutnya, ia mengujinya di panggung yang semakin besar.

Pertama, ia mencoba ketika latihan. Selanjutnya, ia menjajal dalam pertandingan persahabatan. Kemudian, sebulan sebelum Piala Eropa 1976, dia mengujinya saat melawan klub lokal, Dukla Praha.

Setiap kali berhasil, keyakinannya makin kuat.

“Saya tidak menyembunyikannya. Di sini [di Cekoslovakia] orang-orang sudah tahu tentang itu. Tapi di negara-negara Barat, di negara-negara top sepak bola, tidak ada yang tertarik sama sekali dengan sepak bola Cekoslovakia,” kata Panenka.

“Mungkin mereka mengikuti beberapa hasil, tapi tidak menonton pertandingan kami.”

Karena itu, tidak ada lembar contekan atau instruksi dari staf pelatih Jerman Barat untuk Sepp Maier ketika Panenka bersiap menendang.

Saat Maier berdiri di garis gawang dan memusatkan pandangannya pada Panenka, kiper Jerman Barat itu hanya mengandalkan insting.

Rekan setim Maier, Uli Hoeness, telah melepaskan tendangan penalti sebelumnya. Namun, tendangan itu melambung di atas mistar gawang.

Mendadak, nasib Jerman Barat berada di ujung tanduk. Sebab, apabila Panenka mencetak gol, Jerman Barat akan kalah.

Ketika tiba gilirannya menenandang, Panenka berlari menuju bola dengan cepat. Ia tampak berniat melepaskan tendangan keras.

Akan tetapi, dia menggunakan trik andalannya yang membuat bola melayang pelan ke tengah gawang. Lengan Panenka terangkat seperti sudah bersiap merayakan kemenangan sebelum bola menyentuh jaring.

Maier, yang kebingungan dan terkecoh, bergegas bangkit, tetapi terlambat. Dia hanya bisa memandang Panenka yang berlari menjauh dalam perayaan.

Tendangan itu menjadi momen paling penting dalam hidup Panenka.

“Tak ada di antara kami yang percaya berhasil menjadi juara Eropa,” kata Panenka. “Rasanya seperti Alice in Wonderland.”

Situasi di Praha saat itu pun tak kalah heboh. Kemenangan di Piala Eropa terjadi delapan tahun setelah Musim Semi Praha atau Prague Spring.

Peristiwa Prague Spring adalah saat pasukan tank Uni Soviet menindas upaya perlawanan yang ingin melonggarkan sistem komunis negara tersebut.

Sejak kejadian tersebut, kerumunan publik dalam jumlah besar menjadi langka. Sebab, izin berkerumun hanya dikeluarkan untuk menyambut tamu asing. Namun, ketika tim Cekoslovakia tiba pascakemenangan Piala Eropa 1976, euforia warga orang tidak bisa ditahan.

“Tidak ada yang mengira begitu banyak orang akan datang untuk memberi kami sambutan hangat,” kenang Panenka.

“Ketika seorang kepala negara datang, jalan-jalan biasanya dipenuhi pemuda yang memegang tongkat parade. Tapi itu semua terasa dipaksakan.

“Kali ini, mereka semua datang secara sukarela untuk menyambut kami dan menunjukkan apresiasi mereka. Saya belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya. Itu adalah salah satu momen terbaik dalam karier sepak bola saya.”

Penalti Panenka yang menentukan dan unik membuatnya menjadi pusat perhatian. Bukan hanya bagi penonton, tetapi juga bagi pihak berwenang.

Warga Cekoslovakia telah menjalani proses yang disebut ‘normalisasi’ sejak upaya keluar dari model Soviet. Pembentukan ulang atau penghilangan unsur-unsur oposisi telah melampaui ranah politik.

Hanya tiga bulan sebelum Piala Eropa 1976, polisi rahasia Cekoslovakia menangkap band rock psychedelic dan musisi bawah tanah lainnya, khawatir bahwa rambut panjang dan lirik kontra-budaya dapat memicu revolusi.

Penalti Panenka yang dieksekusi dengan gaya santai khas dan mengabaikan aturan jelas tidak “normal”.

Pada dasarnya, trik yang diulangnya di panggung sebesar itu membawa risiko pribadi yang signifikan, serta risiko olahraga.

“Saya tidak pernah membayangkan bahwa politik dan olahraga, atau politik dan sepak bola, bisa dihubungkan seperti ini. Tapi memang ada yang melihatnya dari sudut pandang itu,” kata Panenka.

“Ketika dibahas di lingkaran politik, mereka bisa menganggapnya sebagai penghinaan terhadap sistem politik.

“Jika saya tidak berhasil menciptakan gol dari penalti itu, mungkin akan ada konsekuensi bagi saya, sanksi, atau masalah lain.”

Namun, Panenka berhasil mencetak gol yang menyelamatkannya dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman dan kemungkinan karier baru di pabrik atau tambang.

Di sisi lain, gol Panenka menghadirkan sensasi yang tidak biasa bagi Maier. Bagi kiper yang menjadi bagian dari Bayern Muenchen yang baru saja memenangkan gelar Piala Antarklub Eropa ketiga berturut-turut sebulan sebelumnya, kejadian di final itu adalah penghinaan yang tak terbayangkan.

Laporan The Scotsman menggambarkan bagaimana tendangan Panenka menghancurkan dua prasangka: gaya bermain Cekoslovakia yang tak berwajah dan kolektif, serta keunggulan, kontrol, dan kemenangan yang tak terelakkan atas Jerman Barat dan Maier.

“Disiplin lama dan keras dari Cekoslovakia masih terlihat,” tulis Ian Wood.

“Tapi pengkultusan terhadap sosok menjadi pijakan yang rapuh. Momen Panenka memberi gelar juara kepada Cekoslovakia dengan melancarkan tendangan mengecoh yang sangat berani terhadap Sepp Maier yang malang menggambarkan semangat baru.”

Sementara itu, ada deskripsi yang lebih keras ketimbang “malang” di tempat lain.

“Beberapa jurnalis asing, terutama dari Barat, bersikeras bahwa saya mengejek Maier, bahwa saya menjadikannya badut, dan hal-hal semacam itu,” kata Panenka.

“Itu tidak benar. Bagi saya, itu hanya cara termudah untuk mencetak gol. Tapi Maier percaya apa yang ditulis jurnalis tentang saya yang telah mengejeknya.

“Setiap kali dia mendengar nama ‘Panenka’, itu sangat tidak menyenangkan baginya dan dia akan bereaksi dengan sangat kesal.

“Dia tidak berbicara dengan saya selama 35 tahun mendatang.”

Beberapa dekade berselang, hubungan keduanya mencair.

“Saya pikir hubungan kami belakangan ini sudah normal,” kata Panenka.

“Terakhir kali saya bertemu dengannya adalah empat atau lima tahun yang lalu. Ada konferensi pers yang diadakan oleh pihak Jerman di Praha, dan saya bisa melihat bahwa dia tidak marah atau kesal pada saya. Kami minum bir dan bermain golf bersama.

“Dia bahkan bisa tersenyum tentang tendangan penalti itu. Ketika dia pertama kali melihat saya dalam perjalanan terakhirnya, dia menggerakkan jarinya ke arah saya dan menggambarkan lintasan bola yang dicongkel dengan tangannya.”

Bahkan hubungan Panenka sendiri dengan tendangan penalti 1976-nya pun rumit.

Tendangan bebasnya yang memikat, tembakan matinya, dan umpan tajamnya tidak mendapat pengakuan, tersembunyi di balik ketenaran tendangan Panenka ciptaannya sendiri.

“Saya bangga tendangan penalti itu diciptakan dan menjadi terkenal, bahkan ditiru oleh pemain-pemain terbaik. Tapi memang benar bahwa setiap kali nama Panenka disebut, semua orang hanya memikirkan ‘tendangan penalti Panenka’.

“Jadi di satu sisi saya bangga, tapi di sisi lain saya sedikit sedih bahwa tendangan penalti itu menghapus segala yang ingin saya berikan kepada penonton, seperti banyak umpan, gol, dan peluang yang saya ciptakan.

“Dalam arti tertentu, tendangan penalti itu menghancurkan karier saya.”

Jika dia bisa mengulang peristiwa itu, berhadapan dengan Maier di final Piala Eropa, apakah dia berani melakukannya lagi? Atau apakah dia akan menendang secara langsung dengan tendangan yang tidak akan mendefinisikan dirinya selamanya bagi begitu banyak orang?

Jawaban Panenka sangat tegas.

“Tentu saja, saya akan melakukan hal yang sama.”

Bagaimana tendangan Panenka di kalangan para pesepakbola?

Sejak pertama kali diperkenalkan hingga 50 tahun berselang, tendangan Panenka telah banyak diulang dan terbukti sebagai taktik yang sah, meskipun berisiko tinggi.

Beberapa pemain terbaik pun memanfaatkannya dalam momen-momen paling krusial.

Zinedine Zidane mencetak satu gol dengan teknik ini pada final Piala Dunia 2006 melawan Italia. Meski akhirnya Prancis tetap takluk pada Italia melalui drama adu penalti.

Inggris juga pernah menderita akibat tendangan Panenka, yaitu ketika gelandang Italia, Andrea Pirlo, mengalahkan kiper Joe Hart dalam adu penalti pada perempat final Piala Eropa 2012.

“Bagi saya, Hart tampak sangat percaya diri,” kata Pirlo. “Saya perlu melakukan sesuatu untuk mengalahkannya.

“Penalti adalah hal yang sangat pribadi, tapi saat saya melihat gerakannya, saya memutuskan untuk melakukannya. Itu tampaknya menjadi pukulan psikologis.”

Demikian pula dalam final Piala Liga Inggris 2022. Kiper Chelsea, Kepa Arrizabalaga, berusaha mengalihkan perhatian pemain Liverpool, Fabinho. Namun, Fabinho melepaskan tendangan Panenka ke tengah gawang, yang disambut sorak-sorai suporter Liverpool di belakang gawang.

Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Thierry Henry, Francesco Totti, Neymar, dan Zlatan Ibrahimovic juga berhasil melakukannya.

Maier pun tidak lagi sendirian menanggung pedih. Banyak kiper lain yang mengalami nasib serupa.

Kendati demikian, Maier menolak permintaan untuk diwawancarai untuk artikel ini.

Bagaimanapun, korban tendangan Panenka bukan hanya kiper. Penendangnya pun bisa sangat kecewa jika gagal, seperti terjadi pada Brahim Diaz pada final Piala Afrika.

Ada pula contoh lain.

Pada 1992, Gary Lineker memiliki kesempatan untuk menyamai rekor Sir Bobby Charlton dengan mengkoleksi 49 gol untuk Inggris dalam pertandingan persahabatan melawan Brasil. Namun, peluang itu buyar ketika dia gagal mengeksekusi tendangan Panenka.

Tidak hanya itu, mantan penyerang Manchester City, Sergio Aguero, yang biasanya cukup andal dari titik penalti, malah terlihat konyol saat mencoba tendangan Panenka pada Mei 2021.

Chelsea pun menang 2-1 berkat penyelamatan Edouard Mendy, kiper Senegal yang menggagalkan Brahim Diaz.

  • Peringatan 20 tahun tsunami Aceh: Kisah ‘bocah ajaib’ Martunis Ronaldo bertahan hidup selama 21 hari – ‘Saya dikelilingi mayat dan dikira hantu’
  • Foto Lionel Messi memandikan Lamine Yamal saat bayi beredar jelang final Euro dan Copa America – ‘Awal dua legenda’
  • Lamine Yamal dan Nico Williams, anak-anak migran yang menjadi bintang Spanyol di Euro 2024
  • ‘Pemain yang sangat, sangat spesial’ – Lamine Yamal mencetak sejarah Piala Eropa pada usia 16 tahun
  • Franz Beckenbauer wafat – ‘Beristirahatlah dengan tenang, Kaisar Franz’
  • ‘Memori dan sejarah’ dengan Pele, kenangan pemain Indonesia yang pernah satu lapangan

Leave a Comment