Longsor Cisarua tewaskan belasan orang – mengapa longsor sering terjadi di Indonesia dan bisakah dideteksi dini?

Photo of author

By AdminTekno

Longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang menewaskan belasan jiwa dan puluhan orang hilang memunculkan pertanyaan: Apa penyebab bencana itu? Dan, mengapa longsor menjadi salah satu momok ancaman bencana terbanyak di Indonesia, serta adakah teknologi yang dapat mendeteksinya?

Bencana longsor yang terjadi pada Sabtu (24/01) dini hari sedikitnya mengubur 30 rumah warga di Kampung Pasir Kuning, Bandung Barat.

Dari ratusan warga yang dilaporkan hilang, 25 jenazah telah dievakuasi dan 17 di antaranya teridentifikasi, menurut data BNPB per Senin (26/01).

Bencana ini adalah satu dari 15 kejadian longsor yang terjadi sejak awal 2026 di seluruh Indonesia.

Jika dilihat mundur, BNPB mencatat 4.055 bencana tanah longsor di Indonesia sejak 2020, dan hampir 10.000 kejadian dalam 15 tahun terakhir.

Alhasil, tanah longsor menempati posisi tiga bencana terbanyak di Indonesia, setelah banjir, dan cuaca ekstrem.

Ancaman potensi tanah longsor pun tak main-main. Data BNPB menunjukkan luas bahaya potensi tanah longsor mencapai 79,5 juta hektare, dari total daratan Indonesia seluas 191 juta hektare.

Selain itu, potensi warga yang terpapar mencapai 20,7 juta jiwa, dan juga mengancam perekonomian hingga Rp515 triliun.

Apa penyebab longsor di Bandung Barat?

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq berkata, perubahan tata guna lahan untuk pertanian tanaman subtropis yang terjadi di sekitar area longsor Cisarua adalah salah satu pemicu terjadinya bencana.

“Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis,” kata Hanif, Minggu (25/01).

“Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” tambah Hanif yang akan menurunkan tim ahli untuk mengkaji lebih dalam dampak fisik hingga aspek ekologis dari bencana itu.

Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Taufan Suranto berkata sekitar 745 hektare (atau 70%) lahan dari luas 1.065 hektare di Desa Pasirlangu yang jadi lokasi longsor, dalam kondisi kritis.

Kerusakan akibat alih fungsi lahan di sana juga menjadi sorotan Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat Wahyudin Iwang. Salah satunya adalah betonisasi atau pembangunan properti seperti perumahan, vila, dan resor.

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria juga menyoroti tata guna lahan. Dia bilang di sekitar lokasi longsor didominasi oleh permukiman penduduk, lahan pertanian, lahan kering, kebun campuran, serta sebagian kawasan terbuka.

“Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum memadai, turut mempengaruhi kestabilan lereng dan memperbesar potensi terjadinya gerakan tanah,” kata Lana melalui siaran pers, seperti dilaporkan wartawan Yuli Saputra dari Bandung, Senin (26/1).

Selain tata guna lahan, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari melihat durasi dan intensitas hujan yang lebat menjadi pemicu terjadinya longsor.

Mungkin Anda tertarik:

  • ‘Pakai gelang hitam enggak, Bu?’ – Ayah yang mencari putrinya di tengah temuan korban-korban longsor Cisarua
  • Apakah teknologi bisa selamatkan penduduk dari tanah longsor?
  • Indonesia diguncang gempa bumi ribuan kali per tahun – Apa yang harus dilakukan saat gempa bumi terjadi?

Menurutnya, volume air hujan yang besar masuk dengan mudah ke dalam tanah yang memiliki lapisan bebatuan yang rapuh, kohesi rendah, dan porositas tinggi di Cisarua.

Ditambah lagi, katanya, wilayah itu memiliki titik-titik sumber mata air.

Akibatnya, kata Adrin, air hujan melemahkan kekuatan tanah dan bebatuan sehingga menimbulkan longsor. Kemudian, longsor bergerak ke sungai dan mengalir ke pemukiman.

“Disebut aliran lumpur [mudflow] karena dominan materialnya tanah, bukan batang pohon dan bebatuan. Kalau di Sumatra itu debris flow karena ada batang pohon dan bebatuan,” kata Adrin.

Senada, pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun menyebut longsor di Cisarua adalah hasil dari interaksi faktor alamiah kompleks dengan berbagai faktor manusia.

Hal itu menghasilkan mekanisme aliran lumpur yang dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya.

Dia bilang wilayah Bandung Barat berada pada produk vulkanik tua yang memiliki lapisan pelapukan yang relatif tebal. Artinya, batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya.

Kondisi itu, kata Imam, semakin diperlemah oleh intensitas dan durasi hujan, yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.

“Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” ujar Imam.

Baca juga:

  • Longsor di Cilacap, total 18 orang ditemukan meninggal dunia, lima orang masih dicari – ‘Saya terseret sampai 15 meter, saya tidak bisa bergerak’
  • Kisah keluarga yang terjebak di hutan berhari-hari saat banjir dan longsor Sumut – ‘Tinggalkan aku, selamatkanlah adikmu’

Selain itu, kata Imam, adanya sumbatan atau bendungan alam di hulu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang.

Ketika bendungan alam itu tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada, ujarnya.

Imam mengingatkan adanya potensi bahaya susulan karena masih ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.

“Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, akumulasi air di balik sumbatan-sumbatan tersebut berpotensi kembali jebol dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir,” kata Imam.

Mengapa Indonesia rawan bencana longsor?

Longsor adalah pergerakan tanah yang mengakibatkan jatuhnya bebatuan dan gumpalan tanah. Hal ini terjadi ketika lereng tidak lagi mampu menahan gaya gravitasi.

British Geological Survey menyebut longsor adalah pergerakan massal batu, tanah, atau puing-puing, menuruni lereng. Ini dapat terjadi secara tiba-tiba atau lebih lambat dalam jangka waktu yang lama.

Adrin Tohari dari BRIN berkata longsor terjadi jika ada pemicunya dan ada kemiringan lereng. Pemicu longsor dapat berupa hujan, gempa, pelapukan dan aktivitas manusia yang memperlemah kekuatan tanah.

Dan, Indonesia adalah laboratorium bencana dunia. Setiap tahun terjadi ribuan bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir hingga tanah longsor.

Tanah langsor menempati posisi tiga bencana terbanyak di Indonesia, setelah banjir, dan cuaca ekstrem.

Di awal 2026 saja sudah terjadi 15 kejadian longsor. Dan, jika dilihat mundur, BNPB mencatat 4.055 bencana tanah longsor di Indonesia sejak 2020, dan hampir 10.000 kejadian dalam 15 tahun terakhir.

Ancaman potensi tanah longsor pun tak main-main. Data BNPB menunjukkan luas bahaya potensi tanah longsor mencapai 79,5 juta hektare, dari total daratan Indonesia seluas 191 juta hektare.

Selain itu, potensi warga yang terpapar mencapai 20,7 juta jiwa, dan juga mengancam perekonomian hingga Rp515 triliun.

Lalu, mengapa Indonesia rawan terjadi longsor? Pertama, kata Adrin dari BRIN, adalah faktor geologi, pembentukan lapisan tanah.

“Wilayah Indonesia tersusun dan dibentuk oleh material hasil aktivitas gunung api yang relatif masih muda. Jadi lapisan bantuan yang terbentuk relatif tidak kompak.”

“Ketika mengalami pelapukan maka dihasilkan tanah yang rapuh, atau gembur, yang tidak punya kekuatan ikatan yang besar,” kata Adrin.

Kedua adalah Indonesia berada di wilayah Cincin Api Pasifik, pertemuan tiga lempeng tektonik aktif utama—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Posisi ini menjadikan Indonesia negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia (127 gunung) dan memiliki lereng-lereng yang terjal, terutama di Pulau Jawa dan Sumatra.

“Lereng-lereng yang terjal ini akan menjadi faktor penyebab terjadinya longsoran ketika ada pemicunya,” katanya.

Ketiga adalah faktor cuaca, di mana Indonesia memiliki cuaca yang normal hingga ekstrem.

“Ketiga faktor ini menyebabkan kenapa di wilayah Indonesia terutama daerah perbukitan yang tersusun oleh tanah produk lapukan batuan vulkanik dan juga mempunyai kemiringan yang curang, kerap mengalami longsor dan menimbulkan bencana,” ujar Adrin.

Selain faktor alam, penyebab lain yang juga berkontribusi pada longsor adalah perubahan tata guna lahan dari hutan ke lahan produktif seperti pertanian.

Perubahan ini, kata Adrin, menganggu daya dukung dan kekuatan tanah, khususnya di wilayah lereng.

Terakhir adalah banyak wilayah pemukiman yang dibangun di daerah-daerah yang masuk dalam kategori rawan longsor, “Namun masyarakat belum mempunyai kewaspadaan yang tinggi terhadap adanya potensi bencana di daerahnya,” ujarnya.

BNPB pernah mencatat bahwa sekitar 40,9 juta jiwa (17,2%) dari penduduk Indonesia tinggal area yang rawan longsor.

Bahkan menurut dosen teknik geologi UGM, Wahyu Wilopo sekitar 60% penduduk Indonesia hidup dan tinggal di daerah lereng dataran tinggi yang rawan longsor. Dari jumlah penduduk itu, mayoritas tinggal di daerah pedesaan yang memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah.

Bukan hanya di Indonesia, tanah longsor juga menjadi ancaman di seluruh dunia. Bencana ini menewaskan ribuan orang setiap tahunnya, sekaligus mengakibatkan kerugian senilai miliaran dolar AS.

Bahkan, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan angka kematian akibat tanah longsor di seluruh dunia mencapai 18.000 orang dari 1988 hingga 2017. Longsor juga berdampak terhadap 4,8 juta orang di seluruh dunia.

Adakah teknologi mendeteksi longsor?

Adrin Tohari dari BRIN menjelaskan tanah longsor biasanya terjadi secara tiba-tiba, dan minim menunjukkan tanda alamnya, berbeda dari gempa bumi yang dapat dirasakan lewat getaran.

Hal ini menyebabkan banyak korban tidak menyadari datangnya bencana longsor. “Dan sering kali berlangsung di malam hari ketika masyarakat sedang istirahat. Jadi mereka kewaspadaannya berkurang,” kata Adrin.

Walaupun demikian, Adrin bilang, kini telah ada beragam teknologi yang dapat mendeteksi gejala kejadian longsoran, termasuk yang dikembangkan oleh BRIN dan dari kampus lainnya.

Contohnya adalah Sistem Informasi TRIGRS (Transient Rainfall Infiltration and Grid-based Regional Slope-stability). Model yang dikembangkan BRIN ini mampu memprediksi potensi longsor berdasarkan data curah hujan dan topografi, sehingga dapat menghitung faktor keamanan lereng.

Kemudian ada juga Alat Deteksi Longsor (AdeL). Ini adalah perangkat peringatan dini (early warning system) berbasis sensor yang dirancang untuk memantau pergerakan tanah dan kelembaban di daerah rawan bencana secara real time.

Ada juga Modathus, yaitu instrumen deteksi dini longsor berbasis Internet of Thing dengan menggabungkan sensor akuisisi data curah hujan, sensor kelembaban dan suhu udara sekitar, sensor kelembaban tanah, GPS, serta sensor orientasi 3D untuk mendeteksi gerakan tanah.

Bahkan, BPBD Banjarnegara telah mengembangkan alat pendeteksi longsor, bernama ELWASI.

Begitu juga ahli geografi kebencanaan UNNES, Juhadi, yang mengembangkan sistem peringatan dini longsor berbasis Android, bernama Land Instability Detection Unit atau disingkat Lindu.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa semua peralatan untuk deteksi dini bencana tanah longsor, mulai dari indikasi kawasan rawan hingga peringatan cuaca, sudah difasilitasi bagi pemerintah daerah. Sehingga, seharusnya bencana yang menelan jiwa bisa dihindari.

“Jadi penanggulangan bencana ini, ujung tombaknya pemerintah daerah. Sekarang informasi apa lagi yang diperlukan? Peta daerah sudah ada, peta risikonya sudah ada. Terus sekarang, prakiraan cuaca BMKG alatnya sudah ada di situ.”

“Teknologi praktisnya untuk melihat gejala alam sudah kami ajarkan. Proses belajar ini juga harus kita dorong ke pemerintah daerah,” tegas Abdul.

Abdul bilang pemerintah memiliki peta potensi tanah longsor, yang dapat diakses dari situs inarisk.bnpb.go.id.

Pada situs itu, warga dapat memasukkan nama daerah ke dalam kolom pencarian dan melihat status kerawanan daerah tersebut terhadap bencana banjir hingga tanah longsor.

Lalu apa yang perlu dilakukan?

Adrin Tohari dari BRIN bilang alat dan teknologi untuk mendeteksi potensi terjadinya longsor telah memadai. Namun, katanya, yang belum ada adalah nilai ambang batas peringatan di wilayah-wilayah rawan dan bahaya longsor.

Nilai ambang batas itu bisa dilihat dari rekahan, curah hujan, dan parameter lainnya. Rekahan adalah retakan tanah yang disebabkan oleh penurunan tanah akibat fenomena geologi ataupun akibat perbuatan manusia.

“Jadi saat ada rekahan, atau curah hujan di titik tertentu, itu dinilai. Jika di atas ambang batas perlu dikasih warning satu hingga seterusnya. Jadi masyarakat punya informasi untuk evakuasi, jadi tak perlu menunggu ada pergerakan [longsor],” katanya.

Adrin menegaskan, ambang batas itu ditentukan sesuai karakteristik di masing-masing daerah rawan hingga bahaya longsor, baik dari kondisi geologi, curah hujan hingga kepadatan penduduknya.

Kedua adalah memperinci peta kerentanan dan bahaya longsor yang diterbitkan pemerintah menjadi peta potensi resiko.

Pasalnya, peta yang diterbitkan saat ini masih terlalu umum dan belum memberikan informasi spesifik mengenai karakteristik ancamannya.

“Peta resiko akan memberikan informasi yang detail. Contohnya terjadi longsoran. Lalu, apakah longsoran itu akan berubah menjadi aliran, dan jika dia berubah akan mengalir ke mana, lalu dinilai potensi resikonya, seperti ada pemukiman atau tidak.”

“Jika ada pemukiman maka dipasang alat peringatan dini di aliran sungainya. Jadi kalau kita tidak bisa memantau sumber longsor, kita bisa memantau ketika longsor itu berubah menjadi aliran di sepanjang sungai,” jelasnya.

“Untuk melakukan itu perlu ada pemodelan, riset dan kajian mendalam, dan tiap daerah beda-beda. Itu tantangannya.”

Selain itu, ujarnya, perlu juga dilakukan sosialisasi intens ke masyarakat mengenai potensi bencana di daerah mereka.

Terakhir, yang tak kalah penting kata Adrin adalah memperkuat peraturan atas tata guna lahan.

“Jangan sampai ada perubahan tata guna lahan di daerah-daerah yang punya risiko bencana tanah longsor,” ujarnya.

  • ‘Tuhan akan mengatur dengan segala kesederhanaan’ – Bagaimana banjir dan longsor akan mengubah perayaan Natal sebuah kampung kecil di Sumatra?
  • ‘Mama saya meninggal dalam keadaan salat’ – Akhir perjuangan anak mencari sang ibu yang hilang di tengah banjir bandang Sumbar
  • Dua orang ditetapkan tersangka kasus longsor tambang di Cirebon – ‘Ini adalah kesalahan dalam metode penambangan’
  • Tanah longsor di Tana Toraja menewaskan 20 warga, bagaimana cara antisipasi tanah longsor?
  • Bencana longsor: ‘Tidak ada alasan pemda dan masyarakat tidak tahu daerah rawan longsor’
  • Cerita warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor yang tewaskan 20 orang di Pekalongan – ‘Biasanya memang sering longsor, tapi jarang menimpa rumah’
  • Longsor Sukabumi: Rawan bencana dan ‘tidak layak huni’ tapi sulit pindahkan warga

Leave a Comment