Pimpinan militer China ditangkap, benarkah terkait rencana kudeta?

Photo of author

By AdminTekno

Jajaran pimpinan Tentara Pembebasan Rakyat China tengah dalam kemelut. Sejumlah penangkapan dikaitkan dengan stabilitas politik di bawah rezim Presiden Xi Jinping.

Pada akhir pekan lalu jenderal tertinggi di militer China, Zhang Youxia, yang juga merupakan wakil ketua Komisi Militer Pusat (CMC) dipecat. Nasib serupa dialami perwira militer senior, Liu Zhenli, yang menjabat Kepala Staf Gabungan CMC.

Langkah pemberhentian keduanya ini seolah menjadi upaya pembersihaan besar-besaran. Pertanyaan serius lantas mencuat di publik, apakah ada pertarungan kekuasaan antarelite di China?

Apa pula artinya peristiwa itu bagi kemampuan militer China yang terus berambisi untuk merebut Taiwan dan juga terlibat dalam konflik regional besar lainnya?

Usai pemecatan keduanya, di CMC kini hanya tersisa dua anggota, yaitu Xi Jinping dan Jenderal Zhang Shengmin.

Sebagai konteks, CMC merupakan kelompok Partai Komunis yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping. Organisasi ini juga merupakan pengendali angkatan bersenjata China.

Biasanya, CMC ini terdiri dari sekitar tujuh orang. Tiga anggota CMC lainnya sudah ditangkap dalam “operasi pemberantasan korupsi” pada gelombang penangkapan sebelumnya.

Fakta bahwa hanya Xi dan satu jenderal CMC yang tersisa adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut Lyle Morris dari Asia Society Policy Institute.

“Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dalam kekacauan,” katanya kepada BBC.

Morris berkata, militer China kini memiliki “kekosongan kepemimpinan yang besar”.

Ketika ditanya apa yang sebenarnya mendorong pemecatan begitu banyak jenderal senior, Morris menyebut “Ada banyak rumor yang beredar.”

“Kami tidak tahu, pada tahap ini, apa yang benar dan apa yang salah. Akan tetapi ini tentu buruk bagi Xi Jinping, bagi kepemimpinannya serta kendalinya atas PLA,” kata Morris.

Akademisi Ja Ian Chong dari National University of Singapore juga tidak yakin apa alasan sebenarnya di balik kejatuhan Jenderal Zhang. Namun, kata dia, banyak spekulasi tentang hal itu.

“Mulai dari bocornya rahasia nuklir ke Amerika Serikat hingga rencana kudeta dan pertikaian antar faksi. Bahkan ada rumor tentang baku tembak di Beijing,” kata Chong.

“Namun, kejatuhan Zhang dan Liu beserta spekulasi liar ini menyoroti dua hal, bahwa Xi tetap tak tergoyahkan dan ada batasan signifikan terhadap informasi di Beijing yang memicu ketidakpastian dan memperkuat spekulasi ini,” ujar Chong.

Dari pengumuman resmi mengenai Jenderal Zhang dan Liu, keduanya disebut “sedang diselidiki” dengan tuduhan melakukan “pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum”.

Istilah-istilah itu yang merupakan penyebutan halus untuk korupsi di China.

Surat kabar milik militer China, PLA Daily, menyatakan hal secara jelas dalam sebuah editorial bahwa pemecatan keduanya menunjukkan pendekatan Partai Komunis yang “tidak ada toleransi” terhadap “tindakan korupsi bahkan tidak peduli siapa orangnya atau seberapa tinggi posisinya”.

Hingga saat ini, tuduhan spesifik terhadap dua jenderal ini belum diungkapkan kepada publik. Bahkan bisa jadi tidak akan pernah dibeberkan.

Namun, fakta bahwa mereka telah disebut sebagai objek penyelidikan hampir pasti berarti mereka akan dijatuhi hukuman penjara sebagai hukuman minimal.

Tajuk kencana PLA Daily sudah menyebut Zhang Youxia dan Liu Zhenli seolah-olah keduanya bersalah.

Keduanya dikabarkan telah “mengkhianati kepercayaan dan harapan Komite Pusat Partai Komunis” serta “menginjak-injak dan melemahkan Komisi Militer Pusat”.

Target pemecatan terhadap para jenderal ini memunculkan dugaan apakah berkaitan dengan korupsi atau sesungguhnya merupakan persoalan politik kekuasaan. “Pembersihan” semacam ini kerap dilakukan pemerintah Chicna di masa lalu.

China memang memiliki masalah korupsi saat Xi Jinping berkuasa. Namun, Xi juga dituding menggunakan kampanye antikorupsinya untuk menyingkirkan lawan politik potensial dan membuang orang-orang di jajaran pemerintahannya yang terlihat tidak loyal.

Xi disebut kerap mengerahkan tim inspeksi disiplin Partai yang ditakuti. Hal ini pun memberikan Xi tingkat kendali yang tak tertandingi sejak era Mao Zedong.

Namun, gaya kepemimpinan semacam ini juga dapat kontraproduktif. Di militer, misalnya, iklim kecurigaan dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang hati-hati, bahkan cenderung lemah.

Ayah Zhang Youxia adalah rekan revolusioner ayah Xi Jinping. Jenderal tersebut telah lama mengenal Xi. Keduanya dianggap sebagai sekutu dekat sebelum terjadi pergolakan beberapa pekan terakhir ini.

Pemecatan atas tuduhan korupsi ini diprediksi memperburuk situasi karena keyakinan bahwa tidak ada yang aman.

Zhang juga merupakan salah satu dari sedikit perwira senior di PLA yang memiliki pengalaman tempur, sehingga dampak dari pemecatan ini sangat signifikan bagi militer.

Penggantiannya juga menimbulkan masalah jangka panjang bagi Xi Jinping, menurut Morris.

“Xi mungkin telah memperkuat otoritasnya sekali lagi, tapi gejolak ini berarti ada gesekan yang berkelanjutan,” kata Morris.

“Ini tentu saja menjadi citra buruk bagi Xi. Saya pikir akan ada gejolak signifikan di PLA, terutama di kalangan pemimpin Xi dan PLA, untuk tahun-tahun mendatang.”

Pembersihan jenderal-jenderal senior juga memantik kecemasan di kalangan jenderal di China bahwa mereka bisa menjadi target berikutnya.

Para perwira senior menghadapi dilema mengingat nasib mereka bergantung pada pemimpin negara tersebut. Alasannya, menerima atau menolak promosi jabatan tetap punya potensi besar masuk dalam jebakan antikorupsi Xi yang dapat terjadi kapan saja.

Lalu, bagaimana dengan tekanan China terhadap Taiwan yang terus meningkat dengan tujuan merebut pulau otonom tersebut melalui serangan militer?

Pakar berpendapat pemecatan itu tidak akan banyak mempengaruhi ambisi China.

“Pembersihan ini tidak memengaruhi ambisi China untuk mengendalikan Taiwan. Hal itu bergantung pada Partai Komunis China secara keseluruhan dan Xi secara khusus,” kata Chong.

“Tanpa profesional militer tingkat atas atau profesional militer yang terintimidasi, keputusan tentang eskalasi dan agresi terhadap Taiwan akan semakin berpusat pada Xi,” ujarnya.

Laporan tambahan oleh Yvette Tan dari BBC.

Baca artikel lainnya:

  • Apakah China masih bisa disebut sebagai negara komunis?
  • China makin intensif menangkap pemimpin-pemimpin gereja
  • Ada apa di balik ketegangan China-Taiwan yang memanas?

Leave a Comment