
Kita Tekno Sederet pemain diaspora Timnas Indonesia memutuskan untuk melanjutkan karier mereka di Super League.
Dion Markx dan Shayne Pattynama menjadi dua pemain diaspora terbaru yang memutuskan hijrah ke Super League.
Dion memilih untuk bergabung dengan Persib Bandung, sedangkan Shayne memutuskan berlabuh ke Persija Jakarta.
Ia sebelumnya memperkuat tim U-21 NEC Nijmegen di Belanda, sedangkan Shayne membela klub Thailand Buriram United.
Andil Dua Bek Timnas Indonesia Bawa Shayne Pattynama ke Persija Jakarta, Singgung Proyek Besar
Kepindahan Dion dan Shayne menambah panjang daftar pemain diaspora yang memilih berkarier di Super League.
Sebelumnya, tercatat lima pemain diaspora berlabel tim nasional yang lebih dulu mengadu nasib di liga kasta tertinggi Indonesia.
Mereka adalah Thom Haye, Eliano Reijnders (Persib), Jordi Amat (Persija), Rafael Struick (Dewa United), dan Jens Raven (Bali United).
Menariknya, mayoritas dari mereka tergolong masih muda dan memiliki perjalanan karier yang masih panjang.
Tak ayal, fenomena ini menimbulkan perdebatan di kalangan para penggemar sepak bola Tanah Air.
Tidak sedikit yang menyayangkan keputusan para pemain diaspora merumput di Super League di usia yang masih muda.
Di sisi lain, ada pula yang menyambut positif kehadiran mereka dengan alasan menit bermain dan peningkatan kualitas liga.
Menanggapi situasi tersebut, anggota Komite Eksekutif PSSI Arya Sinulingga menyebut hal itu sudah menjadi pilihan masing-masing pemain.
Arya menegaskan bahwa PSSI selaku federasi tidak memiliki kewenangan untuk menghalangi mereka bermain di Indonesia.
Di Timnas Indonesia Masih Misteri, Gaji Jordi Cruyff di Ajax Amsterdam Rp27 Miliar Per Tahun
Di sisi lain, Arya juga meyakini kehadiran para pemain diaspora akan meningkatkan kualitas dari Super League.
“Pertama ini pilihan mereka. Kami tidak bisa tahan mereka. Kami tidak menggaji mereka,” kata Arya, dikutip SuperBall.id dari Kompas.com.
“Mungkin beda kalau kami gaji mereka, pasti bisa diarahkan. Tapi ini soal pilihan mereka dan hak asasi mereka juga, kami tidak bisa tahan.”
“Mungkin karena banyak pemain naturalisasi datang, kualitas liganya naik sehingga membuat pemain-pemain naturalisasi mau datang,” tambahnya.
Meski begitu, Arya menepis anggapan bahwa bergabung ke Super League adalah penurunan karier bagi para pemain diaspora.
Ia juga mengaku tidak khawatir kualitas Timnas Indonesia akan menurun dengan ramainya pemain diaspora di Super League.
“Tidak hanya pemain naturalisasi, banyak juga pemain top yang mau datang karena kualitas kita,” kata Arya.
“Kalau kompetisi makin tinggi sebenarnya pengaruhnya (penurunan kualitas timnas) jadi kecil.”
“Jadi kami harapkan harus naik kualitas kompetisi liganya. Kalau tidak naik, ya akan jelek. Tapi kalau naik, pasti tidak,” tambahnya.