
Kita Tekno – , BANDUNG BARAT — Di tengah mengerikannya bencana longsor yang mengubur puluhan rumah warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, ada sebuah kisah keajaiban. Seorang balita berusia dua tahun selamat dari maut.
Balita tersebut bernama Arsa (2 tahun), yang selamat dari terjangan air bercampur tanah yang datang dari arah kaki Gunung Burangrang. Ia ditemukan di atas genting rumahnya setelah beberapa jam bertahan sendirian di tengah bencana yang mengubur puluhan rumah warga.
Pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, longsor menerjang permukiman warga hingga luluh lantak. Sebelum kejadian, bumi Desa Pasirlangu diguyur hujan sejak beberapa hari terakhir. Warga kian cemas karena hujan tak kunjung berhenti kala itu. Ditambah lagi listrik padam yang membuat suasana kian mencekam.
Di tengah kesunyian malam itu, getaran dirasakan warga yang diikuti dengan suara gemuruh. Ketika itu warga sedang tertidur lelap dan ada juga yang terjaga malam. Dalam hitungan detik, seketika air bercampur tanah meluncur dari perbukitan di kaki Gunung Burangrang hingga mengubur permukiman.
Di tengah kepanikan dan teriakan histeris meminta bantuan itu, ada keajaiban yang terjadi di tengah hamparan permukiman yang sudah berubah menjadi hamparan tanah. Arsa ditemukan selamat oleh Tim SAR gabungan.
“Iya, keponakan kami Arsa alhamdulillah selamat. Ditemukannya di atas genting rumah,” tutur Asep Dadang Rukmana, paman Arsa, Kamis (29/1/2026).
Rumah Arsa dan keluarganya di Kampung Babakan Pasirkuning, RT 05/11, Desa Pasirlangu terkubur longsor. Rumah itu dihuni Arsa bersama ayahnya, Komarudin (48), ibunya Epon (28) dan kakaknya Feby. Ibu dan ayahnya sudah ditemukan meninggal dunia, sedangkan kakak Arsa masih hilang.
Menurut Asep, Komarudin sempat berusaha menyelamatkan keluarganya satu per satu dari lumpur yang perlahan merangsek rumahnya. Saat longsor pertama menutup akses keluar rumah, Komarudin mencari celah dan memilih jalur terakhir yang tersisa melalui atap. Arsa diselamatkan lebih dulu dengan menyimpannya di atas genteng rumah.
“Anak yang paling kecil ini diselamatkan lebih dulu. Disimpan di atap rumah,” ucap Asep.
Setelah memastikan Arsa berada di tempat yang relatif aman, Komarudin kembali turun untuk menolong istri dan anak sulungnya. Namun, sebelum upaya itu berhasil, longsor kedua datang lebih besar dan langsung menimbun rumah.
Tak lama setelah kejadian, Arsa yang masih berada di atap rumah segera dievakuasi kerabat bersama Tim SAR gabungan, yang datang menyelamatkan di tengah kondisi darurat. Balita itu selamat tanpa luka serius, hanya ada sedikit goresan-goresan.
Namun, ia harus hidup sebatang kara karena seluruh keluarganya tertimbun longsor dalam hitungan detik. Arsa sementara kini dalam pengasuhan saudaranya. Baginya, mungkin belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dini hari itu. Namun, suatu hari nanti ia akan tahu bahwa kehidupannya adalah hasil dari pengorbanan terakhir seorang ayah, yang memilih menyelamatkan anak bungsunya, meski harus kehilangan segalanya.
Jenazah Komarudin dan Epon yang telah ditemukan dan diidentifikasi, langsung dimakamkan di dekat kediaman kerabat keluarga. Sementara itu, proses pencarian terhadap Feby masih terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan. “Harapannya kakaknya ini bisa segera ditemukan,” kata Asep.