Iran bersedia bernegosiasi dengan AS – “Syaratnya bebas dari ancaman dan ekspektasi yang tidak masuk akal”

Photo of author

By AdminTekno

Presiden Iran Masoud Pezeshkian akan melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat, seiring permintaan dari sejumlah “negara sahabat di kawasan” agar mereka segera menanggapi proposal dialog dari Donald Trump.

Melalui pernyataan di media sosial X, Pezeshkian memerintahkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk melanjutkan perundingan dengan AS.

Namun, kata Pezeshkian, dialog itu harus itu harus “bebas dari ancaman dan ekspektasi yang tidak masuk akal.”

Pernyataan Presiden Iran ini muncul setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan memicu konflik regional.

“AS harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, itu akan menjadi perang regional,” kata Khamenei, seperti dilansir oleh kantor berita Tasnim.

Sebelumnya Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan campur tangan di Iran dengan dalih persoalan nuklir dan tuduhan soal penindasan mematikan terhadap demonstran.

Rencananya, upaya negosiasi yang disebut Pezeshkian “dilakukan dalam kerangka kepentingan nasional Iran” ini akan dilaksanakan di Istanbul, Turki, pada 6 Februari mendatang.

Araghchi berkata pada CNN bahwa dia yakin kedua negara dapat mencapai kesepakatan. Namun dia telah kehilangan kepercayaan kepada AS sebagai mitra negosiasi.

Bagaimanapun, pertukaran pesan melalui “negara-negara sahabat” di Timur Tengah memfasilitasi “pembicaraan bermanfaat” antara Iran dan AS.

Araghchi berkata, sistem pertahanan rudal Iran tidak akan pernah menjadi bagian dari negosiasi.

Araghchi menegaskan posisi Iran bahwa program nuklir mereka bersifat damai. Dia juga membantah tuduhan AS bahwa Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir.

Araghchi juga menggarisbawahi bahwa negosiasi yang adil dan jujur diperlukan jika Iran dan AS ingin mencapai kesepakatan.

Trump, di hadapan para wartawan di Gedung Putih, pada Senin (02/01), menyebut bahwa kesepakatan AS dan Iran akan menjadi hal yang sangat luar biasa.

Sebaliknya, Trump mengultimatum “hal-hal buruk” akan terjadi apabila kesepakatan kedua negara tak tercapai.

Bagaimana kekuatan militer AS dan Iran?

Menurut Trump, “kekuatan besar” sedang menuju Iran, termasuk kapal-kapal “terbesar dan terbaik”. Ini terdiri dari kapal induk USS Abraham Lincoln yang bertenaga dan punya kapasitas membawa sekitar 70 pesawat tempur.

Pada akhir pekan lalu, Komando Pusat AS menyatakan kapal tersebut beroperasi di Laut Arab.

“Trump sering mengatakan bahwa dia mengirim kapal. Iran tidak akan takut dengan hal-hal ini,” kata Khamenei.

Iran diperkirakan akan memulai latihan militer laut dengan tembakan langsung selama dua hari di Selat Hormuz. Wilayah ini merupakan jalur pelayaran terpenting di dunia dan rute kunci untuk pasokan energi.

Namun pada 1 Februari lalu, merujuk laporan Reuters, seorang pejabat Iran menyebut Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak memiliki rencana melakukan latihan semacam itu.

Selat Hormuz adalah area krusial mengingat sekitar seperlima dari minyak yang diperdagangkan di dunia melewati jalur air ini.

Selat ini berukuran sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya antara Iran dan Oman. Iran pernah mengancam akan menutup selat tersebut jika diserang.

AS telah memperingatkan Iran agar tidak melakukan “perilaku yang tidak aman dan tidak profesional” di dekat pasukannya di wilayah tersebut.

Araghchi pun menanggapi saat itu dengan mengatakan, ” Militer AS kini mencoba mendikte bagaimana Pasukan Bersenjata Kuat kami harus melakukan latihan menembak di wilayah mereka sendiri.”

Pada 31 Januari lalu, dua ledakan di Iran meningkatkan kekhawatiran di negara tersebut. Pihak berwenang setempat menginformasikan ledakan yang menewaskan satu orang dan melukai 14 orang di gedung di kota pelabuhan Bandar Abbas di selatan itu disebabkan oleh kebocoran gas.

Tasnim membantah laporan media sosial bahwa seorang komandan angkatan laut Korps Pengawal Revolusi menjadi sasaran ledakan tersebut.

Di kota Ahvaz di bagian barat daya, setidaknya empat orang tewas dalam ledakan lain. Otoritas lokal kembali menyalahkan kebocoran gas, menurut Tehran Times.

Pada 2025, AS melancarkan serangan terarah terhadap fasilitas nuklir Iran dalam operasi bernama Operation Midnight Hammer. Serangan tersebut terjadi usai operasi besar-besaran Israel yang menargetkan fasilitas nuklir Iran dan ilmuwan nuklirnya.

Berulangkali Trump mendesak agar Iran sepakat saja ketimbang menghadapi aksi militer AS. Bahkan ia sempat memperingatkan waktu sudah habis untuk membicarakan mengenai program nuklir.

Sementara itu, Rusia berupaya untuk menengahi ketegangan antara keduanya. Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani telah berjumpa dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Mereka membahas “masalah Timur Tengah dan internasional” di antara topik lain, menurut laporan agen berita negara Ria-Novosoti.

Persoalan demonstran

Tekanan dari Trump pada Iran yang kian keras ini terpicu setelah penindasan oleh pasukan keamanan Iran yang menurut para demonstran kepada BBC tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sebelumnya, pihak berwenang Iran menyatakan 3.117 orang tewas dalam demonstrasi. Namun kelompok aktivis dan pemantau menduga angkanya jauh lebih tinggi daripada itu.

Lembaga Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS menyatakan telah mengonfirmasi kematian 6.430 demonstran, 152 anak-anak, dan 214 orang. Mereka juga masih menyelidiki sekitar 11.280 kasus.

Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengatakan angka akhir korban tewas bisa melebihi 25.000. Demonstrasi yang meluas dan menelan banyak korban itu akibat frustrasi ekonomi di negara tersebut, yang belakangan berkembang menjadi tuntutan perubahan politik.

Pejabat Iran telah memberitahu Khamenei bahwa kemarahan publik setelah protes telah mencapai titik puncak sehingga rasa takut tidak lagi menjadi penghalang, menurut laporan agen berita Reuters.

Dalam pernyataannya pada Minggu, Khamenei menuduh para demonstran menyerang polisi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan fasilitas lain termasuk bank dan masjid.

“Kudeta telah diatasi dengan tekanan penertiban,” kata Tasnim mengutip pernyataannya.

More on this story

  • Mengapa terjadi demonstrasi besar-besaran di Iran?
  • Trump punya tiga pilihan dalam pertikaian Israel-Iran – Apakah AS akan serang Iran?
  • Apa saja skenario yang mungkin terjadi jika AS menyerang Iran?

Leave a Comment