Komisi X bicara penyaluran PIP di tengah kasus bunuh diri siswa di NTT

Photo of author

By AdminTekno

Wakil Ketua Komisi X Lalu Hadrian menyebut tak sepakat apabila kasus bunuh diri siswa Kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT diakibatkan anggaran MBG yang lebih besar dari anggaran pendidikan.

Menurutnya, akar masalah daripada kasus tersebut ada pada penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) yang belum maksimal.

“Sebenarnya kalau kita baca kronologis dari peristiwa yang ada di NTT, itu sebenarnya kan PIP-nya sudah masuk, tetapi penyalurannya yang belum maksimal,” ucap Lalu di DPR, Kamis (5/2).

Menurut Lalu, masalah itu lah yang seharusnya didalami.

​“Nah, kita cari sekarang kenapa penyaluran ini tidak maksimal, tidak bisa, sehingga anak menjadi frustrasi karena keterbatasan ekonomi,” tutur Lalu.

“Dan yang paling penting adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memastikan, bahwa Sekolah Rakyat yang hari ini diperuntukkan bagi warga miskin, bagi anak-anak yang tergolong dalam keluarga miskin, harus betul-betul bisa dimanfaatkan dalam rangka menuntaskan itu tadi,” tambahnya.

Lalu menjelaskan, anggaran besar MBG tidak mengganggu anggaran pendidikan sama sekali. Malah, ia menyebut anggaran pendidikan akan ditambah.

“MBG sebenarnya pada prinsipnya tidak akan mengganggu anggaran pendidikan, karena Presiden sudah berkomitmen akan menambah melalui revitalisasi sarana dan prasarana untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan, 60.000 sekolah yang akan diperbaiki. Artinya anggaran pendidikan akan ditambah,” ucap Lalu.

​“Nah, ketika anggaran pendidikan ini ditambah, maka akan melebihi angka 20% mandatory spending yang sesuai dengan konstitusi. Bagus memang masukan dari para pihak yang mengatakan bahwa jangan diganggu anggaran pendidikan,” tambahnya.

Sebelumnya, seorang siswa laki-laki kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1) siang.

Peristiwa memilukan ini terjadi di sebuah pohon cengkeh tak jauh dari pondok sederhana tempat korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.

Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga kuat ditulis YBS sebelum mengakhiri hidupnya. Surat tersebut ditujukan kepada sang ibu dan ditulis dalam bahasa daerah Ngada. Isinya berpamitan dan meminta sang ibu tidak menangis, disertai gambar kecil bergambar wajah menangis.

Leave a Comment