
Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) disebut sejumlah pakar telah mengacaukan tata kelola gizi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.
Sebelumnya, orangtua balita di beberapa daerah mengeluhkan keberadaan makanan ultra-proses dan makanan dengan kandungan gula serta garam yang tinggi dalam menu MBG yang mereka terima, semisal: burger, roti isi, biskuit, susu kemasan, hingga kacang polong.
Saat dimintai tanggapan, juru bicara BGN, Dian Fatma, menolak menjawab pertanyaan dari BBC News Indonesia.
Sebelumnya, Direktur Bina Institusi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan BKKBN/Kemendukbangga, Mahyuzar, menyebut MBG untuk 3B harus menjadi prioritas sebagai ujung tombak penanganan stunting.
Pemberian MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, balita bakal menyasar 9,1 juta penerima manfaat dan bakal semakin intensif pada tahun 2026 seiring dengan perluasan target nasional yang mencapai 89,2 juta.
MBG balita: burger, roti, biskuit, susu kemasan
Sejak pertengahan Januari lalu, Tina mulai menerima paket makan bergizi gratis untuk anak ketiganya yang berusia tiga tahun.
Paket MBG yang diantar ke rumah oleh kader PKK di wilayahnya dibagikan dua kali: Senin dan Kamis.
Setiap Senin, ia menerima paket makanan untuk tiga hari hingga Rabu. Kemudian paket MBG pada Kamis diberikan untuk empat hari ke depan atau sampai Minggu.
Dua paket MBG tersebut ada dua macam: basah dan kering.
Menu basah berupa nasi atau karbohidrat beserta lauk-pauk diberikan pada Senin dan Kamis bersamaan dengan jadwal pembagian. Adapun untuk hari berikutnya dalam bentuk makanan kering seperti roti, biskuit, susu kemasan, kacang-kacangan, dan buah.
Bagi Tina, ia cukup senang dengan paket MBG tersebut. Sebab, menurutnya, sang anak menyukai berbagai jenis makanan. Hanya saja, ibu tiga anak ini, agak menyayangkan adanya pangan ultra-proses.
Bahkan, dia mengaku pernah menerima paket MBG balita dalam bentuk burger.
“Kurang baik kalau roti dan biskuit itu. Walaupun ada telur rebusnya, ada susu kemasan, dan buah,” ungkap warga Bandung, Jawa Barat, ini kepada BBC News Indonesia, Rabu (04/02).
Sebelum ada program MBG, Tina biasanya mendapatkan makanan balita dari program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di posyandu. Jenisnya bisa kudapan atau makanan lengkap, semisal: puding, bubur kacang hijau, atau sup krim.
Ia mengklaim, kalau dibandingkan dengan PMT, menu makan bergizi gratis lebih memenuhi standar gizi anaknya. Meskipun, lagi-lagi ia menyayangkan adanya roti dan biskuit.
Ia berharap makanan ultra-proses itu diganti dengan bahan pangan lain.
“Bisa telur rebus, daging, ikan, atau buah-buahan dibanyakin,” ucapnya.
Pada pembagian paket MBG balita yang digelar Kamis (05/02), menu yang dibagikan antara lain: burger dengan isian telur ceplok, keju, timun, selada, tomat, dan buah anggur.
Adapun untuk makanan kering berupa roti coklat dan roti sosis, susu tawar kemasan, jeruk, dan anggur.
Sajian paket MBG itu langsung dikritik salah satu orangtua balita, Anisa. Ia menilai makanan tersebut termasuk makanan ultra-proses alias UPF. Baginya, menu itu belum memenuhi standar gizi untuk anaknya yang berusia 3,5 tahun.
“Belum [memenuhi standar gizi anak] sih. Soalnya kadang-kadang ada sayur yang cuma beberapa biji. Terus, sayurnya kayak yang di supermarket, bukan yang fresh. Pernah dikasih kentang french fries. Itu enggak sehat. Si anak juga enggak mau kalau dikasih gitu. Burger juga yang dimakan telurnya aja,” ungkapnya.
Atas dasar itu, katanya, sang anak jarang makan paket MBG yang dibagikan. Kalaupun ada yang dihabiskan, hanya susu tawar.
“Kalau burger masuknya junk food kan yah, terus kalau roti banyak mengandung tepung. Jadi jarang [dimakan] juga sih. Jadi [makanannya] suka dibagi-bagi, kadang kebuang juga,” ujar perempuan 31 tahun ini kepada BBC News Indonesia.
MBG balita: biskuit, roti, susu kemasan
Di Palembang, Sumatra Selatan, Ida menerima paket MBG untuk dirinya yang sedang menyusui dan sang anak yang berusia tiga tahun.
Paket itu, katanya, sudah didapat sejak Oktober tahun lalu karena namanya terdata oleh perangkat RT setempat.
Namun, saat pertama kali mendapatkan paket MBG, perempuan 30 tahun ini merasa menunya tidak cocok untuk dikonsumsi oleh dirinya dan si sulung.
Sebab, isi menu MBG untuk ibu hamil terdiri dari lauk yang diolah dengan cabai yang cukup pedas.
“Mulai dari ayam sambal, telur ceplok sambal, sampai sambal orak-arik tempe,” ucapnya.
Sedangkan untuk anaknya, menu MBGnya cukup beragam, seperti ayam fillet, tempe, tahu, telur, sayur, dan buah.
Ida yang sangat selektif dalam hal makanan dan menerapkan pola makan sehat, memilih memberikan jatah MBG itu ke kerabatnya. Sementara dia memutuskan untuk memasak sendiri menu makanan untuk disantap keluarganya.
Kendati dia mengaku tidak tahu bagaimana proses pengolahan MBG tersebut, tapi dia ragu lantaran ingin menghindari konsumsi makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG) dan garam berlebih.
“Kami menerapkan hidup sehat dengan mengonsumsi masakan saya sendiri, jadi saya tahu takaran bumbu yang digunakan. MBG yang saya dapat, saya berikan ke saudara,” imbuhnya.
Berdasarkan pengakuan sejumlah warga, ada perbedaan menu MBG pada tahun lalu dan sekarang.
Pada Senin-Jumat, menunya cukup lengkap. Ada nasi, lauk, sayur, buah. Tapi, beberapa kali ada sajian menu seperti mi ayam, gado-gado, dan bakso daging.
Kemudian pada Jumat, paket MBG yang dibagikan akan dirapel untuk dua hari yakni Sabtu-Minggu. Isinya: biskuit, roti, susu kemasan, dan buah.
Namun, sejak Januari 2026, paket MBG yang diberikan tak ada lagi makanan kering.
Ketua Posyandu Tanjung Kates, Heni, berkata ada lebih dari 60 paket MBG 3B yang dibagikan kepada 60 orang. Memasuki 2026, jumlahnya berkurang lantaran ada balita yang sudah masuk sekolah PAUD dan ada juga ibu yang tak lagi menyusui.
Ia pun mengakui ada makanan pedas dalam menu MBG untuk ibu hamil dan menyusui.
“Tapi untuk balita tidak ada makanan pedas. Sejauh ini makanannya masih aman, tidak ada yang basi,” ungkapnya.
MBG balita: roti tawar, roti keju, telur rebus, alpukat, dan susu kemasan
Di Solo, Jawa Tengah, Karnia mendapatkan paket MBG untuk anaknya yang berusia empat tahun. Ia menuturkan, menu yang diberikan selalu berbeda setiap hari.
“Ada nasi, buah, sayur, tahu dan tempe, ayam goreng, ikan dori tepung. Alhamdulillah selalu habis dimakan anak. Kalau pun tersisa, paling hanya dua sendok karena memang porsinya disesuaikan untuk balita,” tuturnya.
Selain menu basah, perempuan 35 tahun ini juga menerima MBG kering semisal: roti tawar, roti keju, telur rebus, alpukat, dan susu kemasan.
Satu makanan lain yang juga didapatnya adalah burger yang terbuat dari roti tawar dan isian daging olahan. Menu itu, katanya, diberikan satu kali.
“Burgernya itu rotinya dari roti tawar yang dicetak, dagingnya katanya dibuat sendiri. Itu hanya sekali, selebihnya mayoritas menu basah. Nasinya juga enak, ada yang nasi daun jeruk atau nasi bunga telang, jadi rasanya gurih,” ujar Karnia.
Sebelum ada MBG, ia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan makanan tambahan dari posyandu. Padahal, menurutnya, berat badan anaknya masih di bawah standar.
Karnia berharap program MBG ini bisa terus berlanjut karena sangat membantu keluarganya, terutama menghemat pengeluaran.
Bagaimana petunjuk teknis MBG untuk ibu hamil, menyusui, dan balita?
Merujuk pada petunjuk teknis (juknis) Badan Gizi Nasional, pemberian paket MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita (3B) diberikan selama enam hari berturut-turut yang terdiri dari: MBG siap santap dan paket MBG sehat.
MBG siap santap adalah makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengandung gizi lengkap dan seimbang, serta disesuaikan dengan kebutuhan gizi penerima manfaat.
Dalam paket MBG sehat untuk ibu hamil dan ibu menyusui terdapat minuman khusus ibu hamil dan minuman khusus ibu menyusui yang merupakan susu sebagai tambahan dari makanan yang dikonsumsi.
Susu yang diberikan untuk ibu hamil dan ibu menyusui diharuskan mengandung gula rendah, yaitu maksimal 2,5 gram per 100 ml untuk produk cair dan maksimal 5 gram per 100 gram untuk produk padat.
Susu disediakan dalam kemasan utuh dan tidak dipindahkan ke wadah lebih kecil untuk mencegah kontaminasi selama tiga hari, sesuai dengan takaran yang tertera pada kemasan.
Jika SPPG kesulitan menemukan susu ibu hamil dan ibu menyusui dengan persyaratan tersebut, SPPG bisa menggantinya dengan susu UHT plain (tanpa rasa dan tanpa tambahan sukrosa) 200 ml atau makanan padat gizi lainnya.
Sementera itu, paket MBG sehat berisikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) diberikan kepada anak usia 6-12 bulan. MP-ASI ini tidak dapat menggantikan ASI yang dikonsumsi. MP-ASI yang diberikan sebaiknya menggunakan bahan pangan lokal.
Jika SPPG belum mampu menyediakan MP-ASI sesuai kebutuhan balita, bisa diberikan bubur fortifikasi dan minimal mengandung zat besi, vitamin A, dan zinc.
Selain MP-ASI, paket MBG sehat sesekali diberikan buah lunak dengan tekstur yang disesuaikan untuk bayi 6-8 bulan dan 9-11 bulan. Adapun anak usia 12-36 bulan sudah bisa mengonsumsi makanan rumahan.
Setiap Senin dan Kamis, mereka akan mendapatkan makanan siap santap dan paket MBG sehat untuk dikonsumsi pada hari Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu.
Paket MBG sehat yang diberikan berisi: susu, telur, dan buah.
Susu yang diberikan merupakan susu UHT plain (tanpa rasa dan tanpa tambahan sukrosa) 115 ml. Jika SPPG kesulitan mendapatkan susu sesuai persyaratan tersebut, susu bisa diganti menggunakan makanan padat gizi lainnya.
Balita, tetap disarankan untuk tetap makan makanan olahan rumah berbasis pangan lokal yang beragam dan bergizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizinya dan mengurangi risiko picky eater.
Bagaimana dengan buku pedoman dari Kemenkes?
Pada praktiknya, MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita ini menggusur program Pemberian Makan Tambahan (PMT) oleh kader posyandu, yang telah berjalan lebih dari satu dekade.
Tujuan PMT untuk meningkatkan gizi balita dan ibu hamil yang kekurangan gizi atau berisiko stunting.
Pemberian Makan Tambahan diberikan setiap hari dengan sedikitnya satu kali makanan lengkap dalam seminggu dan sisanya kudapan. PMT harus berbahan pangan lokal dan tidak disarankan mengandung makanan yang tinggi gula dan garam; makanan olahan berpengawet; makanan mengandung lemak jenuh; makanan dan minuman yang mengandung pemanis tinggi; tidak beragam serta tanpa protein.
Kegiatan PMT di posyandu tidak hanya memberikan makanan tambahan, tapi disertai dengan edukasi, penyuluhan, konseling gizi dan kesehatan agar bisa mempercepat proses perubahan perilaku ibu an keluarga dalam pemberian makan yang tepat sesuai umur.
Masalahnya, kata ahli gizi Tan Shot Yen, meskipun juknis BGN itu diklaim sudah bersandar pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang—yang menjadi rujukan program PMT—tetapi di dalam juknis tidak mencantumkan daftar pangan yang bisa dijadikan patokan dalam menyajikan makan bergizi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Hanya berupa angka-angka kecukupan gizi.
Sementara, Kemenkes telah membuat buku pedoman standar gizi makanan untuk program MBG. Yang isinya persis seperti yang tercantum dalam Permenkes itu.
Bahkan di dalamnya merinci apa-apa saja bahan pangan sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, buah, dan sumber lemak.
Termasuk contoh master menu untuk siklus 20 hari dan yang terpenting pilihan pangan apa yang mesti dihindari. Tertulis di buku pedoman itu, yang dibatasi atau dihindari adalah makanan yang mengandung tinggi garam atau yang diawetkan, misalnya: makanan kaleng, sarden, sosis, ham, kornet, nugget.
Kemudian makanan mentah atau setengah matang, seperti: satai, telur setengah matang. Ada juga kacang-kacangan yang diawetkan, sayuran yang diawetkan, minyak yang digunakan berulang-ulang.
Lalu, ada jamu, kopi, coklat, teh, minuman beralkohol, minuman bersoda, minuman yang mengandung tinggi gula atau yang diawetkan, contoh: minuman kemasan.
Tan Shot Yen menduga, buku pedoman dari Kemenkes itu diabaikan dan pada akhirnya SPPG memasukkan makanan ultra-proses (UPF) dalam sajian menu MBG untuk balita.
“Kan sudah ada aturan bahwa kita seharusnya mengutamakan protein hewani, tidak menggunakan produk-produk kemasan yang tinggi gula, garam, dan lemak,” beber Tan Shot Yen kepada BBC News Indonesia, Rabu (04/02).
“Tapi problemnya BGN itu mengeluarkan panduan yang diinterpretasikan (berbeda-beda) oleh SPPG yang bukan ahli gizi.”
Situasi menjadi tambah kacau karena sejak MBG mengambil alih PMT, kegiatan penyuluhan atau konseling gizi ikut terhenti di beberapa daerah, klaimnya.
“Mau penyuluhan apa? ‘Bu, jangan lupa susu coklatnya dihabiskan’, gitu?” ucapnya geram.
“Kader kesehatan, kader posyandu yang sudah berdarah-darah kita didik semuanya sia-sia,” cetusnya.
Tak cuma itu, pemantauannya, sejumlah SPPG tidak membedakan menu makanan untuk masing-masing kelompok umur balita. Begitu pula dengan ibu hamil dan menyusui yang punya kondisi kesehatan berbeda-beda.
Ia mencontohkan, ibu hamil yang punya risiko preeklampsia atau memiliki tekanan darah tinggi tidak bisa diberikan MBG yang sama seperti ibu hamil dengan kondisi normal.
“Untuk balita juga ada kelompok umurnya, ada yang 6-12 bulan, 12-23 bulan, dan 24-60 bulan. Sekarang kalau semuanya disamaratakan makanannya, dikasih biskuit, itu gila sih menurut saya.”
“Karena kayak cuma bagi-bagi jinjingan ulang tahun aja. Ini sudah kacau banget, amburadul,” katanya.
Apa bahaya UPF bagi balita?
Pendiri Lembaga kajian Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (Cisdi), Diah Saminarsih, menilai kehadiran MBG sebagai pengganti PMT telah mengganggu tata kelola gizi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.
Sebab pedoman pemberian makan bayi dan anak yang diluncurkan Kemenkes mendorong penggunaan bahan pangan lokal dengan menu makanan bergizi seimbang seperti bubur ikan jagung, sup ikan labu kuning dan puding telur ubi ungu.
Pedoman dalam PMT, sambungnya, tidak menyarankan penggunaan pangan ultra-proses dalam menu makanan balita, ibu hamil, dan menyusui.
“Dalam pelaksanaan PMT, di luar aspek gizi, menggabungkan berbagai macam intervensi, tidak terbatas pada pemberian makan saja. Melainkan juga pengawasan gizi, pemantauan gizi oleh kader posyandu, hingga pemberian rujukan,” jelas Diah Saminarsih dalam keterangan tertulis kepada BBC News Indonesia, Rabu (04/02).
Itu mengapa, menurutnya, MBG tidak bisa menggantikan peran PMT. Apalagi dalam menu makan bergizi gratis untuk balita masih ditemukan pangan ultra-proses yang mengandung bahan tambahan yang tinggi gula, garam, dan lemak, disertai perisa dan pewarna.
“Jenis pangan seperti itu tidak dianjurkan bagi balita yang tengah melalui fase pertumbuhan dan perkembangan fisik juga otak yang cepat.”
“Konsumsi pangan ultra-proses tinggi gula, garam, dan lemak pada anak dan balita meningkatkan risiko stunting dikarenakan kebutuhan makronutrien dan mikronutrien yang seharusnya diperoleh dari pangan segar tidak dikonsumsi.”
“Balita hanya kenyang, tapi kualitas gizinya tidak terpenuhi,” cetusnya.
Ahli gizi, Tan Shot Yen, juga berkata makanan dengan kandungan gula dan garam tinggi yang diberikan kepada balita jelas “tidak aman dan tidak sehat” dalam jangka panjang.
Dampaknya, anak akan memiliki pola makan yang disebutnya kacau. Selain itu ada risiko penyakit jantung dan metabolik pada anak, obesitas, daya belajar menurun.
“Kalau pemerintah memberikan MBG berupa susu kemasan yang berpemanis, biskuit, roti manis, maka di benak mereka adalah ini adalah contoh makanan yang sehat dan baik,” paparnya.
“Karena mereka otomatis lidahnya akan lebih pro kepada makanan yang membuat kecanduan. Jadi otomatis anak-anak yang lebih banyak mengonsumsi produk kemasan, tidak konsumsi sayur dan buah misalnya.”
Wartawan Yuli Saputra di Bandung, Nefri Inge di Palembang, dan Fajar Sodiq di Solo berkontribusi untuk liputan ini.
- Anggaran MBG sebesar Rp335 triliun digugat ke MK karena ‘memakan’ sepertiga dana pendidikan – Seberapa mungkin dikabulkan hakim?
- Korban keracunan MBG sepanjang Januari 2026 tembus hampir 2.000 pelajar, mengapa masih saja terjadi?
- Ratusan pelajar dan santri di Jawa Tengah keracunan, ‘kapok dan trauma’ dengan MBG
- Satu tahun MBG: Seratusan yayasan mitra MBG terafiliasi dengan orang dekat pejabat
- Puluhan ribu pegawai SPPG akan diangkat jadi ASN, bagaimana nasib guru honorer yang tak punya kepastian kerja? – ‘Melukai rasa keadilan’
- Rencana pemerintah beri MBG ke lansia – ‘Mending diganti uang atau beras, bisa dimanfaatkan’
- Paket MBG liburan sekolah dianggap tidak sehat karena ada makanan UPF – ‘Di negeri yang kaya pangan, ini menyiksa namanya’
- Sekolah-sekolah yang mengelola dapur mandiri di tengah ribuan kasus keracunan MBG
- Pengakuan petugas MBG – ‘Tak punya kontrak kerja, jam kerja tak menentu, dan telat terima gaji’
- Ribuan siswa keracunan Makan Bergizi Gratis, orang tua trauma dan larang anaknya konsumsi MBG – ‘Bukannya meringankan malah mau membunuh’
- Pengakuan petugas MBG – ‘Tak punya kontrak kerja, jam kerja tak menentu, dan telat terima gaji’
- Teka-teki kematian siswi SMK di Bandung Barat yang dikaitkan keracunan MBG
- Ribuan kasus keracunan, SPPG terus beroperasi – ‘Sertifikat laik kebersihan sedang diurus’
- Prabowo instruksikan rapid test MBG – Apakah efektif cegah keracunan dan keberulangan status KLB?
- Lini masa dugaan keracunan karena MBG, dari ayam kecap basi hingga daging mentah berdarah – ‘Perlu evaluasi besar-besaran sebelum jatuh korban jiwa’
- Lebih dari 1.000 siswa di Bandung Barat diduga keracunan MBG – ‘Anak saya kejang-kejang, sesak nafas’
- Ribuan kasus keracunan akibat MBG – Evaluasi SPPG dan standar higienis jadi prioritas pemerintah
- Keracunan massal MBG di NTT – ‘Perut seperti tertusuk, saya trauma’