Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI teranyar usai PDB 2025 tumbuh 5,11%

Photo of author

By AdminTekno

Sejumlah lembaga keuangan terkemuka di Jakarta merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026. Revisi ini didorong oleh kinerja produk domestik bruto (PDB) yang berhasil melampaui ekspektasi, terutama pada kuartal IV tahun 2025.

Salah satu lembaga yang melakukan revisi adalah DBS. Bank ini kini memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia untuk tahun 2026 mencapai 5,3%, meningkat dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,2%. Radhika Rao, ekonom senior DBS, menjelaskan dalam laporannya pada Jumat (6/1/2026), bahwa proyeksi yang lebih tinggi ini didasari oleh asumsi pengeluaran fiskal yang berjalan sesuai rencana, membaiknya sentimen investor pasca-peredaan volatilitas pasar modal, serta kondisi moneter yang tetap akomodatif.

Rao juga menyoroti bahwa kinerja ekonomi Indonesia di sepanjang tahun 2025 telah melampaui ekspektasi, bahkan menghadirkan ‘kejutan positif’ pada triwulan terakhir. “Pertumbuhan tahunan 2025 mencapai 5,1% secara tahunan (YoY), sedikit lebih baik dari perkiraan awal kami sebesar 5,0%,” ujarnya.

Secara terpisah, OCBC juga turut merevisi naik estimasi pertumbuhan PDB Indonesia untuk tahun 2026, dari 4,8% menjadi 5,0%. Proyeksi ini, menurut Lavanya Venkateswaran, ekonom senior untuk ASEAN di OCBC, berada dalam rentang perkiraan Bank Indonesia (BI) yang sebesar 4,9%–5,7%. Namun, angka tersebut masih di bawah asumsi dalam APBN 2026 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4%, bahkan jauh di bawah optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memproyeksikan 6%.

Meskipun mengakui bahwa optimisme OCBC tidak sebesar proyeksi resmi, Lavanya menjelaskan bahwa kenaikan perkiraan didorong oleh hasil kinerja ekonomi 2025 yang lebih kuat dari dugaan, peningkatan pengeluaran untuk rekonstruksi di daerah yang terdampak banjir, khususnya di Sumatera, serta dukungan fiskal reguler bagi rumah tangga yang berlanjut dari tahun 2025.

Lebih lanjut, Lavanya menyoroti bahwa momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada titik krusial, terutama untuk prospek jangka menengah. Kebijakan fiskal, meski berpotensi besar dalam mendukung pembangunan, harus tetap berhati-hati dalam menjaga batasan fiskal yang telah ditetapkan, termasuk batas defisit anggaran 3% dari PDB. Ia juga menambahkan bahwa kebijakan investasi, melalui pembentukan Danantara, diharapkan dapat menunjukkan hasil konkret di tahun 2026 guna memperkuat kepercayaan investor dan pelaku bisnis. Di samping faktor domestik, risiko eksternal juga patut diwaspadai, terutama karena dampak positif dari peningkatan ekspor ke Amerika Serikat diperkirakan baru akan terasa lebih jelas pada kuartal kedua dan ketiga tahun 2026.

Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) semakin memperkuat optimisme ini. BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV tahun 2025 mencapai 5,39% secara tahunan (YoY), menjadikannya pertumbuhan tertinggi pada periode tersebut sejak pandemi Covid-19. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers pada Kamis (5/2/2026), merinci bahwa PDB pada Oktober, November, dan Desember 2025 atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp6.147,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp3.474,5 triliun.

Secara kumulatif untuk keseluruhan tahun 2025, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,11% (YoY). PDB berdasarkan harga berlaku sepanjang tahun lalu mencapai Rp23.821,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp13.580,5 triliun. Angka-angka ini secara konsisten menunjukkan pemulihan dan resiliensi ekonomi nasional yang solid.

Leave a Comment