Hasto soal siswa SD bunuh diri di NTT: Menggugah kemanusiaan

Photo of author

By AdminTekno

Sekjen PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menyoroti kasus kematian Yohanes Bastian Roja (YBS), siswa SD asal NTT yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena.

Hasto menyebut peristiwa ini sebagai tamparan keras yang menggugah rasa kemanusiaan sekaligus menunjukkan bahwa kondisi bangsa saat ini masih jauh dari harapan Ibu negara pertama , Fatmawati Soekarno.

Hal itu disampaikan Hasto dalam sambutannya di acara Fatmawati Trophy yang digelar di Museum Fatmawati, Jakarta, Sabtu (7/2).

“Betapa kita sering meninggalkan suatu amanat-amanat suci yang terkandung dalam lagu itu (Indonesia Raya III Stanza) ‘Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, bangunlah budinya’. Ketika kita melihat yang di NTT seorang anak yang harus meregang nyawa karena tidak bisa membeli alat tulis,” ujar Hasto.

Bagi Hasto, kejadian tersebut merupakan potret duka yang seharusnya menggugah nurani seluruh elemen bangsa.

“Ini menggugah kita semua sebagai bangsa, menggugah kemanusiaan, keadilan, dan bertanya lagi bahwa apa yang diwakili dari sejarah perjuangan Ibu Fatmawati Soekarno sebagai Ibu Bangsa betul-betul masih juga jauh dari seluruh harapan-harapan beliau,” tegas Hasto.

Sebelumnya diberitakan, Yohanes Bastian Roja mengembuskan napas terakhir di dekat pondok sederhana tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun. Sebelum berpulang, ia meninggalkan sepucuk surat menyentuh dalam bahasa daerah Ngada yang ditujukan untuk ibundanya, Mama Reti.

“Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis, Mama… Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal, Mama,” tulis YBS dalam surat yang diakhiri dengan gambar emoji menangis tersebut.

Leave a Comment