Kasus siswa dibunuh di eks Kampung Gajah: pelaku dikenal banyak tingkah

Photo of author

By AdminTekno

Siswa SMP berinisial ZAAQ (14 tahun) diduga dibunuh oleh YA (16) dan APM (17) di bekas area wisata Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, 9 Februari 2026.

Pihak keluarga menyebut korban sempat mengalami tekanan mental dan menerima ancaman dari pelaku sebelum kejadian tragis tersebut.

Yusuf, paman korban, mengungkapkan bahwa hubungan antara korban dan para pelaku tidak sedekat yang dibayangkan. Menurutnya, korban hanya menganggap pelaku sebagai teman biasa.

“Kalau ZAAQ beranggapan ya teman biasa saja, karena ZAAQ juga masih kecil,” ujar Yusuf saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan bahwa korban pernah mengalami trauma akibat pemukulan sebelumnya, yang membuat kondisi mentalnya tertekan. Situasi tersebut diduga membuat korban semakin rentan terhadap tekanan dari lingkungan pergaulannya.

“ZAAQ juga ada trauma, pernah ada pemukulan, jadi ada tekanan mental,” katanya.

Selain itu, Yusuf mengaku mendapat informasi dari teman-teman korban bahwa ZAAQ kerap menerima ancaman dari pelaku. Karena usianya masih muda dan polos, korban disebut tidak sepenuhnya memahami bahaya yang mengintainya.

“Saya dengar dari teman ZAAQ juga banyak ancaman dari pelaku. Jadi ZAAQ juga tidak tahu apa-apa karena masih polos,” ungkapnya.

Menurut keluarga, korban sempat berusaha menjauh dari pelaku karena merasa situasi hubungan mereka sudah tidak wajar dan membuatnya tidak nyaman.

“Terakhir sebelum kejadian, korban mau jauh dari dia (pelaku) karena sudah enggak wajar dan aneh,” tambah Yusuf.

Keluarga juga mendengar informasi bahwa perilaku pelaku di lingkungan sekolahnya kerap bermasalah. Meski demikian, Yusuf mengaku tidak mengetahui secara pasti detail perilaku tersebut.

“Saya dengar dari orang di sekolahnya, pelaku memang orangnya bertingkah,” katanya.

Pernyataan keluarga ini memperkuat dugaan bahwa korban berada dalam tekanan sebelum peristiwa pembunuhan terjadi. Polisi masih mendalami keterangan saksi dan pihak keluarga untuk melengkapi motif serta kronologi kejadian.

Kasus ini menyita perhatian masyarakat karena melibatkan pelaku dan korban yang masih berusia remaja. Pemerhati anak menilai pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam mendeteksi tanda-tanda kekerasan sejak dini.

Pihak keluarga berharap proses hukum berjalan adil dan kejadian serupa tidak kembali terulang. Mereka juga mengimbau orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang bisa menjadi tanda adanya tekanan atau ancaman.

Leave a Comment