
Pemerintah Indonesia bersama pelaku usaha meneken sedikitnya 10 nota kesepahaman (MoU) investasi dalam ajang Indonesia-US Business Summit yang digelar di U.S. Chamber of Commerce, Washington D.C., Rabu (18/2) malam. Penandatanganan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian sesi Gala Iftar atau usai buka puasa bersama.
Forum bisnis yang digelar Kadin Indonesia bersama U.S. Chamber of Commerce (Kadin AS), US-ASEAN Business Council, dan USINDO ini mempertemukan pejabat tinggi serta pimpinan korporasi dari kedua negara untuk memperkuat kerja sama investasi dan perdagangan, termasuk implementasi rencana Perjanjian Perdagangan Resiprokal RI-AS
Total nilai kerja sama yang ditandatangani dalam forum tersebut mencapai USD 38,4 miliar dan ditargetkan mendorong pertumbuhan investasi lintas sektor, khususnya pangan, industri, energi, dan teknologi.
Daftar 10 MoU investasi RI-AS
Sejumlah kerja sama strategis yang diteken meliputi berbagai sektor, mulai dari mineral kritis, energi, pangan, manufaktur, hingga semikonduktor, yakni:
MoU mineral kritis antara Freeport McMoRan dan Menteri Investasi/CEO Danantara
MoU oilfield recovery antara Pertamina dan Halliburton
MoU jagung antara Sorini Agro Asia dan Cargill
MoU kapas antara Busana Apparel Group dan US National Cotton Council
MoU kapas antara Daehan Global dan US National Cotton Council
MoU pakaian bekas (shredded worn clothing) antara Pan Brothers dan Ravel
MoU furnitur antara ASMINDO dan Bingaman & Son Lumber
MoU furnitur antara HIMKI dan American Hardwood Export Council
MoU semikonduktor antara Galang Bumi Industri dan Essence
MoU semikonduktor antara Galang Bumi Industri dan Tynergy Technology Group
Selain itu, terdapat pula kesepakatan tambahan berupa Transnational Free Trade Zone Friendship Pact antara Galang Bumi Industri dan Solanna Group LLC.
Acara ini juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi pemerintah Indonesia dan AS antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet Teddy Wijaya, dan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo.