
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran, jika kesepakatan tentang program nuklirnya tak tercapai.
Untuk mencapai kesepakatan itu, ia telah memerintahkan peningkatan besar-besaran kekuatan angkatan laut AS di Timur Tengah untuk menekan Teheran.
Ketika ditanya reporter soal hal itu pada Jumat (20/2), ia menjawab bahwa sedang mempertimbangkan serangan ke Iran.
“Yang paling bisa saya katakan adalah saya sedang mempertimbangkannya,” ujar Trump, dilansir Reuters.
Ancaman ini mencuat setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, draf proposal untuk kesepakatan dengan Washington akan siap dalam beberapa hari setelah negosiasi antara kedua pihak di Jenewa awal pekan ini.

Setelah pembicaraan di Jenewa, Teheran mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk menyerahkan draf perjanjian potensial, yang menurut Abbas, kepada media AS, akan menjadi langkah selanjutnya.
“Saya yakin dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir dari atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff,” katanya, merujuk pada negosiator utama Trump untuk Timur Tengah.
Karena pertimbangan penggunaan kekuatan militer itu, Trump bahkan memperingatkan pemerintah Iran, “sebaiknya bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang adil.”
Pada Kamis, Trump mengisyaratkan bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari, yang kemudian diperpanjangnya menjadi 15 hari.
Kata Iran
Araghchi juga mengatakan bahwa negosiator AS tidak meminta Teheran untuk mengakhiri program pengayaan nuklirnya, bertentangan dengan pernyataan dari pejabat Amerika.
“Kami belum menawarkan penangguhan apa pun, dan pihak AS belum meminta pengayaan nol,” katanya dalam sebuah wawancara yang dirilis Jumat oleh jaringan TV AS MS NOW.
“Yang sedang kita bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya,” tambahnya.
Komentarnya bertentangan dengan informasi yang disampaikan oleh pejabat tinggi AS, termasuk Trump, yang berulang kali mengatakan bahwa Iran tidak boleh diizinkan untuk memperkaya uranium pada tingkat apa pun.
Negara-negara Barat menuduh republik Islam tersebut berupaya memperoleh senjata nuklir, yang dibantah Teheran, meskipun mereka bersikeras pada hak mereka untuk melakukan pengayaan untuk tujuan sipil.
Sementara itu, Iran berupaya untuk menegosiasikan pengakhiran sanksi yang terbukti sangat menghambat perekonomiannya. Kesulitan ekonomi memicu protes pada bulan Desember yang berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah nasional bulan lalu, yang mendorong tindakan keras dari pihak berwenang yang menyebabkan ribuan orang tewas, menurut kelompok hak asasi manusia.