MUI nilai pengusaha AS tak akan abaikan sertifikasi halal: pasti tak mau rugi

Photo of author

By AdminTekno

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah, Zaitun Rasmin, angkat bicara mengenai polemik produk impor Amerika yang diduga belum mengantongi sertifikat halal. Menurutnya, isu ini perlu disikapi secara rasional dan proporsional, dengan menimbang pula aspek logika bisnis yang mendasarinya.

Sebagai Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Zaitun Rasmin menegaskan bahwa para pelaku usaha di Amerika Serikat, dari perspektif bisnis, tentu sangat memahami karakter unik pasar Indonesia. Dengan mayoritas penduduk Muslim dan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap produk berlabel halal, produsen besar mustahil akan mengabaikan esensi sertifikasi halal jika ingin meraih kesuksesan di pasar Tanah Air. “Saya yakin secara bisnis, para businessman, para pedagang di Amerika telah tahu bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritasnya adalah Muslim itu sudah aware, sudah peduli tentang yang namanya produk-produk yang ber-label halal. Jadi saya yakin mereka tidak mau rugi kalau masuk ke sini tanpa label halal,” jelasnya di Jakarta, Selasa (24/2), menggarisbawahi keengganan produsen untuk merugi akibat ketiadaan label vital tersebut.

Zaitun Rasmin lebih lanjut memaparkan, akar permasalahan mungkin bukan terletak pada status kehalalan produk itu sendiri, melainkan pada aspek administratif atau proses penyetaraan (rekognisi) lembaga sertifikasi halal luar negeri dengan lembaga yang ada di Indonesia. Ini berarti, produk tersebut bisa jadi telah memenuhi standar halal di negara asalnya, namun terkendala dalam proses pengakuannya di sini.

Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah dan otoritas terkait untuk segera mempercepat proses rekognisi lembaga sertifikasi halal luar negeri yang kredibel. Langkah ini krusial guna menghindari terjadinya sertifikasi ganda yang justru berpotensi menghambat kelancaran arus perdagangan dan investasi.

Dalam posisinya sebagai pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Zaitun Rasmin menekankan bahwa pendekatan yang dialogis dan berbasis regulasi jauh lebih konstruktif dibandingkan dengan spekulasi yang bisa memicu keresahan di tengah masyarakat. Ia mengingatkan pentingnya prinsip tabayun dalam Islam, yaitu melakukan klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan, terutama dalam isu yang menyangkut kemaslahatan banyak orang. “Bagi saya, ini hal yang harus kita tabayun, karena dalam Islam ini sangat penting. Tidak buru-buru mengambil kesimpulan sebelum jelas. Apalagi hal-hal yang menyangkut kemaslahatan orang banyak. Kita dilarang untuk memutuskan terhadap suatu berita yang dapat menimbulkan musibah pada orang lain,” terang Ustaz Zaitun, menyerukan kebijaksanaan dalam menyikapi informasi.

Mengakhiri pernyataannya, Zaitun Rasmin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dan senantiasa mengedepankan proses klarifikasi sebelum mengambil sikap. Ia juga berharap publik bersabar menanti kejelasan resmi dari pihak berwenang mengenai status halal produk impor Amerika ini.

Leave a Comment