Tak seperti Dwi Sasetyaningtyas, artis penerima beasiswa LPDP ini lebih pilih pulang ke Indonesia

Photo of author

By AdminTekno

Ringkasan Berita:

  • Tasya Kamila menegaskan bahwa masa bakti kewajibannya sebagai penerima beasiswa LPDP telah selesai sesuai aturan skema 2n+1.
  • Tasya mengunggah laporan kontribusi yang ia lakukan selama masa bakti LPDP.
  • Ia menegaskan bahwa kontribusi kepada Indonesia tidak berhenti setelah masa bakti formal berakhir dan merupakan komitmen seumur hidup. 

Kita Tekno – – Isu mengenai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) belakangan ini tengah menjadi sorotan publik.

Ramainya perbincangan soal kewajiban kontribusi alumni membuat banyak pihak ikut angkat bicara, termasuk penyanyi sekaligus mantan artis cilik, Tasya Kamila.

Nama Tasya turut disebut-sebut warganet dalam diskusi mengenai kontribusi alumni LPDP setelah menyelesaikan studi di luar negeri.

Diketahui, Tasya merupakan penerima beasiswa LPDP yang telah menuntaskan pendidikan S2 jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy di Columbia University pada tahun 2018.

Menanggapi berbagai pertanyaan yang bermunculan, Tasya akhirnya buka suara melalui akun Instagram pribadinya, @tasyakamila.

“Buatku, kalian berhak bertanya soal ini,” tulis Tasya.

Ia mengaku memahami keresahan publik yang ingin memastikan dana pendidikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) benar-benar memberikan dampak nyata bagi bangsa.

“Sebagai sesama rakyat yang membayar pajak, aku sangat mengerti bahwa teman-teman mau ‘investasi’ kita semua melalui APBN dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan sumber daya manusia menghasilkan output yang baik buat bangsa,” tulisnya.

Pernyataan Tasya tersebut pun menuai beragam respons. Sebagian warganet mengapresiasi keterbukaannya dalam menanggapi isu yang berkembang, sementara lainnya masih mempertanyakan bentuk kontribusi konkret yang telah dilakukan para alumni LPDP.

Di tengah polemik yang masih bergulir, sikap Tasya yang memilih merespons secara terbuka dinilai menjadi salah satu bentuk transparansi kepada publik.

Kontribusi Tasya sebagai alumni LPDP

Tasya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan tepat waktu pada tahun 2018.

Dia kemudian menjalani masa bakti sesuai kontrak LPDP 2n+1, dari tahun 2018 hingga 2023.

“Disclaimer, LPDP tidak menuliskan secara eksplisit apa bentuk ‘kontribusi untuk Indonesia’ selama Masa Bakti. Menurutku, LPDP percaya bahwa Awardeenya memiliki cara dan kapasitas masing-masing untuk berkontribusi,” tulis Tasya.

Tasya kemudian menjabarkan bentuk tanggung jawabnya sebagai penerima LPDP:

1. berkomitmen untuk PULANG ke Indonesia pasca lulus dan selama masa bakti.

2. Menjadi jembatan antara pemerintah (policymaker) dan publik dalam kapasitas sebagai figur publik:

3. Melakukan gerakan akar rumput (grassroot movement) untuk keberlanjutan melalui yayasan Green Movement Indonesia.

4. Memberdayakan pemuda Indonesia melalui talkshow, seminar, workshop di bidang pendidikan, lingkungan hidup dan kesehatan.

5. Sempat menjadi pengajar untuk sebuah platform pendidikan online (geografi/ lingkungan dan bahasa Inggris untuk tingkat SMA).

6. Berperan aktif dalam industri kreatif Indonesia dan melestarikan lagu anak Indonesia.

7. Menggunakan platform sosmed untuk membagikan informasi seputar parenting, tumbuh kembang anak dan kesehatan demi mendukung Generasi Emas Indonesia.

Walaupun masa baktinya sebagai alumni LPDP sebenarnya telah selesai, tapi Tasya merasa itu adalah komitmen seumur hidup.

“Namun buatku, kontribusi kepada negeri tidak berhenti di masa bakti,” tulisnya.

“Ini merupakan perjalanan dan komitmen seumur hidup untuk terus mencintai negeri, menghargai perjuangan rakyat, dan membangun Indonesia yang sejahtera dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Penerima LPDP Pamer WN Inggris Milik Anak

Sosok Dwi Sasetyaningtyas yang pamer kewarganegaraan Inggris milik anak.

Momen pamer paspor WN Inggris tersebut diunggah Dwi Sasetyaningtyas melalui media sosialnya.

Setelah viral dan tuai banyak cibiran, Dwi Sasetyaningtyas pun menghapus dan akhirnya minta maaf.

Pernyataan Tyas-sapaan akrab Dwi Sasetyaningtyas, dianggap tidak etis, mengingat dirinya merupakan penerima beasiswa yang diberikan pemerintah Indonesia. 

Polemik ini tak hanya berhenti di Tyas, tetapi juga menyoroti status suaminya, Aryo Iwantoro, yang turut menerima beasiswa LPDP.

Bagaimana duduk perkara polemik ini? Berikut selengkapnya, dikutip SURYA.CO.ID dari berbagi sumber, Minggu (22/2/2026) sekira pukul 10.15 WIB.

Konten Pamer Paspor Inggris Milik Anaknya

Kasus ini bermula dari Dwi yang membagikan satu konten di Instagram dan Threads miliknya.

Isinya mengenai anak keduanya yang resmi jadi WNA Inggris/British Citizen.

“Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA,” tulisnya dalam salah satu konten.

Netizen banyak geram, merasa narasi tersebut kurang bijak dilontarkan seorang awardee LPDP.

Banyak netizen yang merasa, sebagai awardee LPDP tidak patut menghina negaranya sendiri yang sudah membantunya untuk kuliah.

Sosok dan Rekam Jejak Tyas

Tyas adalah Sarjana di Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia lanjut studi S2 di Delft University of Technology, Belanda mengambil jurusan Sustainable Energy Technology. 

Beasiswa LPDP itu didapatkannya untuk studi di tahun 2015 dan lulus tahun 2017.

Tyas juga sudah berada di Indonesia mulai tahun 2017-2023.

Selama menunaikan kewajiban sebagai awardee, Tyas menginisasi penanaman 10 ribu pohon bakau di berbagai pesisir pantai di Indonesia. 

Dia mewadahi ibu rumah tangga untuk bisa berpenghasilan dari rumah serta turut andil dalam penanggulangan bencana Sumatra hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia adalah founder dari @sustaination @ceritakompos @bisnisbaikclub.

Selama ini ia juga vokal mengkritisi pemerintah.

Namun kembalinya Tyas ke Inggris karena mendampingi suami yang bekerja sebagai konsultan periset atau Senior Research Consultant di University of Plymouth.

Terkait kalimat Tyas, ia menjelaskan bahwa hal itu pelampiasan rasa kesal sebagai WNI.

“Ungkapan cukup aku aja yang WNI anakku jangan adalah bentuk rasa kecewa, marah, kesalku sebagai WNI terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.”

“Jujur, kalo aku sih capek jadi WNI. Tapi sebagai penerima beasiswa uang rakyat, sudah seharusnya aku menyuarakan kepentingan rakyat,” tulisnya dalam konten yang ia bagikan di Instagram.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)

Leave a Comment