
Kita Tekno JAKARTA. Eskalasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran membayangi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda memperingatkan, konflik ini akan memicu kenaikan harga minyak mentah secara signifikan yang berujung pada pembengkakan beban subsidi energi di dalam negeri.
Huda mencatat, harga minyak saat ini sudah mulai merangkak naik ke level US$ 73 per barel, setelah sempat berada di angka US$ 65 per barel pada awal Februari. Ia memprediksi harga minyak global berpotensi menyentuh angka US$ 120 per barel, serupa dengan kondisi saat Rusia menginvasi Ukraina.
“Apa yang dilakukan US, sama saja seperti yang dilakukan Rusia ke Ukraina yang akan menyebabkan gejolak global. Ditambah, konflik Iran bisa meluas pada penutupan jalur minyak di Selat Hormuz dan ada info Houthi akan masuk dalam perang ini yang membuat panas laut merah,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (1/3/2026).
Sejumlah Negara Timur Tengah Tutup Ruang Udara, Bagaimana Nasib Jemaah Umrah?
Dia berpandangan, penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman serius karena jalur tersebut melayani sekitar 30% perdagangan minyak mentah dunia. Jika pasokan terganggu, harga minyak dunia dipastikan melonjak.
Selain itu, lanjut Huda, gejolak di Bab El-Mandab akan mengganggu arus perdagangan global yang melewati Mesir, memaksa kapal memutari Afrika dan menaikkan harga barang secara global.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dan barang impor ini diprediksi akan menghantam postur anggaran negara.
“Ketika harga minyak mentah dan barang impor naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak terutama untuk BBM. Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM,” tegasnya.
Di samping itu, Huda juga menilai upaya mengandalkan penerimaan negara akan sulit di tengah ketidakpastian global. Begitu pula dengan opsi utang baru.
“Mengandalkan utang baru pun susah karena ada laporan dari Moodys dan terbaru S&P yang mengatakan kondisi pengelolaan fiskal kita buruk,” imbuhnya.
Ketegangan Timur Tengah Meningkat, Kemenhaj Pastikan Keamanan Jemaah Umrah Terpantau
Bagi dunia usaha, lanjut dia, kenaikan biaya logistik atau freight menjadi ancaman akibat bengkaknya biaya bensin dan asuransi. Kondisi ini akan berdampak langsung pada pelaku usaha domestik yang berorientasi ekspor maupun yang mengandalkan bahan baku impor.
“Harga impor akan naik maka bisa menyebabkan imported inflation. Jika tidak di-manage dengan baik, dampaknya akan ke pelaku usaha domestik yang berorientasi ekspor dan yang mengandalkan impor,” pungkasnya.