Respons JK soal rencana Prabowo jadi mediator AS-Israel dengan Iran

Photo of author

By AdminTekno

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), turut angkat bicara menanggapi wacana yang diutarakan Presiden terpilih Prabowo Subianto terkait niatnya untuk menjadi mediator dalam upaya mendamaikan konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel yang kian memanas.

Meskipun mengapresiasi niat baik tersebut, JK memberikan peringatan keras mengenai skala permasalahan yang sedang terjadi. Menurutnya, persoalan yang melanda kawasan tersebut jauh lebih kompleks dan besar dari yang terlihat di permukaan. “Niat dan rencana itu baik saja, tetapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya,” tegas JK saat ditemui di kediaman pribadinya, Jakarta Selatan, Minggu (1/3).

Ia menyoroti betapa sulitnya mendamaikan konflik serupa, bahkan antara Palestina dan Israel sekalipun, yang sebagian besar ditentukan oleh dinamika hubungan dengan Amerika Serikat. JK kemudian mengaitkan hal ini dengan posisi Indonesia. Ia berpendapat, “Indonesia telah mengadakan perjanjian tidak seimbang yang sangat merugikan. Kita saja tidak setara dengan Amerika. Bagaimana mungkin kita mendamaikan pihak-pihak yang tidak setara dalam perundingan semacam itu?” ujarnya, menekankan tantangan besar yang menanti.

Lebih lanjut, dalam kesempatan yang sama, Jusuf Kalla juga mengingatkan seluruh pihak mengenai dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Salah satu konsekuensi paling nyata dan langsung adalah potensi kenaikan harga minyak dunia secara signifikan.

Kenaikan harga minyak, menurut JK, hanyalah permulaan. Ia memperingatkan akan terputusnya jalur logistik antara Indonesia dan Timur Tengah secara menyeluruh. Hal ini berimbas langsung pada mobilitas warga, seperti ratusan ribu jemaah umrah Indonesia yang saat ini puluhan ribu di antaranya kesulitan untuk kembali ke Tanah Air akibat gangguan penerbangan dan rute perjalanan.

Selain itu, konflik di Timur Tengah juga akan mengganggu kelancaran ekspor Indonesia ke berbagai negara, terutama Eropa. Kekhawatiran global dan persiapan menghadapi ketidakpastian akan menciptakan hambatan signifikan bagi rantai pasok. JK menambahkan, Indonesia yang selama ini bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhannya, dipastikan akan menghadapi penghentian pasokan. “Sekarang pasti setop,” tegasnya, menggambarkan skenario terburuk yang bisa terjadi pada sektor energi dan perdagangan.

Leave a Comment