Harga minyak melonjak 10% imbas konflik Iran, berpotensi tembus USD 100/barel

Photo of author

By AdminTekno

Harga minyak mentah dunia melonjak tajam menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah setelah serangan AS dan Israel ke Iran. Analis memperkirakan harga bisa menembus USD 100 per barel jika gangguan pasokan berlangsung lama.

Mengutip Reuters pada Senin (2/3), minyak mentah Brent tercatat melonjak 10 persen menjadi sekitar USD 80 per barel dalam perdagangan over the counter (OTC) pada Minggu (1/3).

Sebelumnya, patokan minyak global itu telah menguat sepanjang tahun ini dan menyentuh USD 73 per barel pada Jumat (27/2), level tertinggi sejak Juli, didorong kekhawatiran atas potensi serangan yang akhirnya terjadi sehari kemudian.

Direktur energi dan pemurnian Independent Commodity Intelligence Services (ICIS), Ajay Parmar, menilai faktor krusial yang menentukan arah harga minyak adalah potensi penutupan Selat Hormuz.

“Meskipun serangan militer itu sendiri mendukung harga minyak, faktor kuncinya di sini adalah penutupan Selat Hormuz,” kata Ajay Parmar.

Sejumlah sumber perdagangan menyebutkan sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan rumah dagang telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah Teheran memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi jalur tersebut.

Lebih dari 20 persen pasokan minyak global diangkut melalui Selat Hormuz. Parmar memperkirakan harga akan melonjak signifikan saat pasar kembali dibuka.

“Kami memperkirakan harga pembukaan (setelah akhir pekan) akan jauh lebih dekat ke USD 100 per barel dan mungkin melebihi level tersebut jika terjadi gangguan pasokan yang berkepanjangan di Selat tersebut,” sebut Parmar.

Analis RBC, Helima Croft, menyebut para pemimpin Timur Tengah telah memperingatkan Washington bahwa perang dengan Iran bisa mendorong harga minyak melonjak di atas USD 100 per barel.

Sementara itu, analis Rabobank memperkirakan harga akan bertahan di atas USD 90 per barel dalam jangka pendek, meski tidak seagresif proyeksi lainnya.

Di tengah eskalasi konflik, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu (1/3) menyepakati kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari (bph) mulai April. Kenaikan ini relatif kecil, hanya kurang dari 0,2 persen dari total permintaan global.

Ekonom energi Rystad, Jorge Leon, memperkirakan jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dunia berpotensi kehilangan pasokan minyak mentah sebesar 8 juta hingga 10 juta barel per hari, meskipun sebagian aliran bisa dialihkan melalui pipa East-West milik Arab Saudi dan pipa Abu Dhabi.

Rystad memperkirakan harga minyak bisa naik sekitar USD 20 menjadi sekitar USD 92 per barel saat perdagangan kembali dibuka.

Krisis Iran juga mendorong pemerintah dan kilang minyak di Asia mengevaluasi cadangan minyak serta mencari jalur dan sumber pasokan alternatif. Analis Kpler menyebut India kemungkinan bakal meningkatkan impor minyak dari Rusia untuk mengimbangi potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Leave a Comment