
China Desak Iran soal Hormuz untuk Energi menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (3/3). Selain itu, Jepang Cadangan Minyak Kuat. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
China Desak Iran Buka Jalur Selat Hormuz agar Pasokan Energi Lancar
China, sebagai importir energi terbesar di dunia, mendesak pejabat Iran untuk tidak mengganggu jalur Selat Hormuz, rute pelayaran strategis yang krusial bagi pasokan minyak dan gas global.
Ketergantungan China pada kawasan Teluk Persia sangat tinggi, dan Selat Hormuz merupakan choke point utama. Kekhawatiran ini meningkat setelah serangan drone Iran menyebabkan penghentian produksi di Ras Laffan, fasilitas ekspor LNG terbesar dunia yang dikelola Qatar, yang menyumbang seperlima pasokan gas alam cair global.
Pejabat pemerintah China secara khusus menekan mitra senior mereka di Iran agar Teheran tidak menyerang kapal tanker minyak dan LNG, serta memastikan aliran pasokan energi tetap lancar. Qatar sendiri memasok sekitar 30 persen kebutuhan LNG China, menjadikannya pemasok yang signifikan.
Meskipun Beijing mendukung upaya menjaga keamanan nasional Iran, Menteri Luar Negeri Wang Yi menekankan pentingnya Teheran memperhatikan “kekhawatiran yang wajar” dari negara-negara tetangganya, terutama terkait potensi dampak geopolitik dan ekonomi jangka panjang.
Perang di kawasan ini diperkirakan dapat memicu dorongan inflasi ringan akibat kenaikan harga minyak, meskipun dampak terhadap ekonomi China saat ini dinilai masih dapat dikelola.
Jepang Punya Cadangan Minyak untuk 254 Hari Imbas Penutupan Selat Hormuz
Jepang menunjukkan ketahanan energi yang signifikan dengan cadangan minyak yang cukup untuk 254 hari, atau sekitar 8,5 bulan, sebagaimana disampaikan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Cadangan ini mencakup persediaan yang dimiliki sektor swasta, serta sekitar tiga minggu konsumsi gas alam cair.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan potensi penutupan Selat Hormuz akibat serangan AS-Israel ke Iran, yang menjadi rute pasokan energi vital bagi Jepang.
Jepang sangat bergantung pada Timur Tengah, khususnya Iran, untuk pasokan minyak mentah, dengan lebih dari 90 persen kebutuhan minyak mentah dan lebih dari 10 persen gas alam cair diimpor dari kawasan tersebut. Mayoritas kapal tanker minyak besar yang menuju Jepang melewati Selat Hormuz.
Meskipun saat ini tidak diperkirakan ada dampak langsung pada pasokan minyak Jepang, kenaikan harga minyak mentah akibat ketidakstabilan ini akan memengaruhi banyak sektor ekonomi.
Kenaikan harga bensin, tagihan listrik, dan biaya logistik akan berdampak luas, termasuk pada harga makanan karena penggunaan energi dalam industri pertanian dan perikanan.